Oleh : Asikin Chalifah
Beberapa petani generasi milenial mengunggah video dan viral melalui media sosial. Berisi kegiatan penyiraman lahan/tanaman bermulsa plastik di daerah Pleret, Bantul, DIY. Penyiraman lahan/tanaman tidak dilakukan secara manual, akan tetapi dengan sprinkel yang dikendalikan dengan bantuan teknologi AI. Lebih hemat waktu dan juga tenaga kerja.
Jika secara manual dalam luasan lahan/pertanaman tertentu membutuhkan waktu berjam-jam dengan banyak tenaga kerja, dengan peralatan ini hanya butuh waktu sekitar 15 menit dan memerlukan 3 orang tenaga kerja saja. Penyediaan energi listrik bisa menggunakan bantuan panel matahari (surya). Ini bentuk kemajuan teknologi digital dan AI yang diterapkan di dunia pertanian.
Praktek baik itu selama ini dikenal dengan sebutan “pertanian presisi” atau smart farming. Efektif dan efisien dalam penggunaan sumber daya pertanian (air dan pupuk).
Ingatan melayang pada kurun waktu 10 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2016 pada sosok Prof.Bayu Dwi Apri Nugroho, Ph.D dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Beliau menerapkan pertanian presisi dengan mendeteksi kondisi lahan melalui sensor yang terhubung dengan gawai (HP) sehingga petani dapat melakukan penyiraman dan atau pemupukan dengan lebih terukur : tidak boros.
Kini Prof.Bayu dan Tim telah mengembangkan alat ukur kondisi lahan dalam bentuk portabel, mudah dipindahkan dari lokasi/lahan yang satu ke lokasi/lahan lainnya. Dengan menancapkan alat ukur di lahan yang gembur dan dukungan sensor yang ada, dapat terekam dan tersampaikan pada petani melalui HP tentang pH tanah, kelembaban tanah, suhu tanah, berbagai unsur hara tanah seperti N,P,K serta daya hantar listrik/Electrical Conductivitas (EC), termasuk sistem notifikasi dan rekomendasi kepada petani, apa yang harus dilakukan petani terkait dengan kondisi lahannya.
Selain simpel, peralatan ini juga terbilang tidak mahal, masih terjangkau oleh “kantong” petani atau kelembagaan petani (Poktan/Gapoktan) jika dibandingkan dengan pemborosan dalam penggunaan air dan pupuk serta sumber daya produksi pertanian yang lain.
Temuan alat ukur kondisi lahan portabel ini memunculkan gagasan layaknya stetoskop di PUSKESMAS dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat, yakni memberikan deteksi dini yang berkelindan dengan kondisi pasien.
Penulis memberikan masukan dengan peralatan sensor tanah portable ini bisa menjadi “stetoskop lahan” dengan sebutan Pusat Pelayanan Kesehatan Lahan Pertanian (PUSKESLATAN) Keliling. Dan satu hal lagi, alat ini juga bisa digunakan untuk mengestimasi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang keluar dari lahan petani, terutama gas methana (CH4) dan N2O.
KASONGAN, Bantul, DIY, 14 September 2026
》Ketua DPW PERHIPTANI DIY
》Komisi Teknis OKKPD DIY
》Koordinator Penderasan Infornasi dan Materi Pembangunan Pertanian Wilayah DIY dan Jawa





