Oleh: Hendri Chaniago.
Bengkalis sudah bikin sejarah. Tahun lalu. Di tanah mereka sendiri.
Waktu itu Juni 2025. Bengkalis jadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Provinsi Riau ke-43. Suksesnya luar biasa. Bukan cuma sukses panggung dan lampu sorot. Tapi sukses borong piala. Bengkalis keluar sebagai Juara Umum. Skornya mutlak: 404 poin.
Penetapannya sah. Hitam di atas putih.
Berdasarkan Surat Keputusan Nomor: Kpts.06/DH/MTQXLIII/VII/2025. Kota Pekanbaru yang biasanya galak dan langganan podium hanya bisa mengintip di posisi kedua. Dapat 311 poin. Disusul Rokan Hilir di peringkat ketiga dengan 305 poin.
Sementara itu, posisi Kabupaten Kuantan Singingi kala itu berada di tempat yang berbeda.
Kuansing harus puas bertengger di urutan keempat. Poinnya 254. Tipis sekali di atas Kabupaten Indragiri Hilir yang mengantongi 253 poin. Bayangkan, bedanya cuma satu angka. Nasib benar-benar ditentukan oleh satu tarikan nafas di atas mimbar.
Kini kalender sudah berganti. Tahunnya 2026.
Giliran Kuansing yang pegang panggung. Kita jadi tuan rumah MTQ Riau ke-44. Ini yang bikin kedai kopi di sepanjang Taluk Kuantan mendadak riuh akhir-akhir ini. Obrolannya sama, arahnya satu: Kuansing punya peluang besar untuk meniru langkah emas Bengkalis.
Harapan besarnya adalah agar trofi juara umum itu tetap tinggal di tepi Sungai Kuantan, tak perlu diangkut pulang oleh kabupaten tetangga.
Menjadi tuan rumah itu enak. Sekaligus ngeri-ngeri sedap.
Enaknya jelas. Suporter melimpah. Qari dan qariah kita tidak perlu mabuk darat naik bus berjam-jam menuju kabupaten lain. Tidurnya di kasur sendiri. Makanannya masakan rumah. Nafas lebih panjang. Mental lebih tegak. Itu yang namanya tuah tuan rumah. Faktor psikologis yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Tapi ngerinya juga ada. Bebannya berat. Kalau kalah di rantau orang, ruginya cuma ongkos bus dan uang saku. Tapi kalau sampai kalah di kandang sendiri, malunya berlipat ganda karena disaksikan langsung oleh tetangga sebelah rumah.
Kita perlu melirik lagi peta pertempuran tahun lalu agar tidak sekadar pasang target di awang-awang.
Bengkalis perkasa di puncak (404 poin). Pekanbaru mengancam (311 poin). Rohil mengintai (305 poin). Lalu kita, Kuansing, mengganjal di posisi empat (254 poin). Di bawah kita, ada rombongan Kampar, Siak, Pelalawan, hingga Inhu yang harus puas di posisi buncit dengan 94 poin.
Jarak Kuansing ke Bengkalis itu jauh. Lebih dari 150 poin bedanya. Jelas, itu bukan jarak yang bisa dilompati hanya dengan modal doa dan tepuk tangan penonton riuh.
Bengkalis tahun lalu bisa juara bukan karena mereka pintar sulap. Persiapan mereka panjang. Pembinaannya berdarah-darah. Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) mereka bekerja layaknya manajemen klub sepak bola profesional. Uang saku kafilahnya jelas, gizi dijaga, pelatihnya didatangkan yang kelas satu.
Sekarang tinggal bagaimana urusan pemusatan latihan atau Training Center (TC) kita di Kuansing dimatangkan. Qari dan qariah kita harus diasah sampai benar-benar berkilau.
Jangan sampai kita terlalu sibuk mengecat pagar gedung, sibuk mendirikan panggung astaka yang megah, atau sibuk menyiapkan tarian kolosal pembukaan, tetapi lupa kalau yang dihitung juri itu cengkok tilawah, tajwid, dan hafalan ayat. Bukan indahnya kerlip lampu sorot atau megahnya tenda tamu VIP.
Kita punya modal dasar yang bagus. Peringkat empat tahun lalu itu fondasi yang kokoh. Artinya, bibit-bibit unggul itu ada dan nyata. Tinggal bagaimana jeli melihat peluang. Tambah poin di cabang yang bolong, curi emas di cabang yang tahun lalu kita kecolongan.
Masyarakat Kuansing pasti akan tumpah ruah. Gema takbir bakal bersahut-sahutan. Atmosfer religius ini harus menjadi bahan bakar utama, bukan malah menjadi beban batu di pundak para peserta kita.
Bengkalis sudah membuktikan bahwa sejarah baru bisa ditulis di rumah sendiri. Sekarang, penanya sudah berpindah tangan ke Kuansing. Pilihannya ada pada kita untuk menulis cerita indah menjadi juara sejati, bukan sekadar menjadi penonton yang ramah di teras rumah sendiri.
Suasana pasti seru saat pawai ta’aruf dimulai nanti. (***)





