Adu Gengsi Arsitektur di Teluk Kuantan

Oleh: Hendri Chaniago.

Bicara soal MTQ tingkat Provinsi Riau di Teluk Kuantan tahun 2026 ini, mata kita pasti langsung tertuju pada satu hal: perang gengsi antar-anjungan daerah. Semua mau tampil habis-habisan. Tapi, coba deh melipir ke stan milik Kota Pekanbaru. Mewah!

Desainnya tidak main-main. Pekanbaru seolah ingin berbisik ke pengunjung: “Ini lho, kota modern yang tidak lupa akar melayu dan islaminya.”

Pusat perhatiannya jelas ada di kubah raksasa itu. Warnanya hijau tua, dibalut ukiran ornamen emas yang bikin silau kalau kena matahari. Di bawahnya, tulisan “Kota Pekanbaru” mejeng dengan gagah, diapit dua logo daerah yang presisi. Pilar-pilarnya? Full kelir emas! Kesan mewahnya langsung dapet, tapi entah kenapa tidak terasa norak.

Kalau kita tengok fotonya, suasananya masih sibuk bukan main. Ada abang-abang baju biru lagi nangkring di atas tangga, sibuk masang detail dekorasi. Di bawah, pot-pot tanaman masih numpuk antre buat ditata. Khas suasana H-minus pembukaan: tegang, gerah, tapi asyik.

Nah, begitu lihat hasilnya, barulah kita bilang, “Gila, cakep betul.” Semua keruwetan tadi berubah jadi harmoni. Tanaman hiasnya sudah rapi, berjejer bikin adem pandangan.

Pas menengadah ke dalam langit-langit paviliun, eh, ada lampu kristal menggantung manja. Mewah, tapi dijaga agar tetap membumi dengan kombinasi tirai anyaman bambu di sekelilingnya. Jenius. Tradisionalnya dapet, elegannya juga dapet.

Di kanan-kiri juga berdiri menara dekoratif bermotif pucuk rebung khas Melayu. Di sudut belakang, ada menara putih tinggi yang bikin religiusnya makin kental.
.
Nah, setelah puas mengagumi kemegahan kubah emas Kota Pekanbaru, coba geser pandangan sedikit ke stan tetangganya: Kabupaten Kampar. Kalau Pekanbaru pamer kemewahan yang glamor, Kampar punya cara lain buat bikin kepala pengunjung menoleh sampai leher pegal.

Mereka main di filosofi bentuk yang berani, tegas, dan langsung menusuk ke jantung tema MTQ.
Desain fasadnya tidak mau pakai kubah bundar konvensional. Mereka justru bermain dengan garis-garis geometris yang runcing.

Pintu masuk utamanya berbentuk gerbang berlapis warna hijau terang, lengkap dengan list lampu neon LED yang menyala. Desain berlapis ini sukses ngasih efek kedalaman 3D yang kuat banget.

Tapi, yang bikin dahi mengernyit kagum itu bagian atapnya. Coba tengok ke atas. Di puncak tertinggi dan di kedua sisi sayap bangunan, Kampar menaruh replika kitab suci Al-Qur’an raksasa yang sedang terbuka di atas rehal. Tepat di pucuk paling atas, berdiri lambang bulan sabit dan bintang. Sebuah pesan visual yang sangat literal: Ini lho pesta Al-Qur’an!.

Kampar juga berani bermain tabrakan warna. Dinding dasar putih bersih ditabrak dengan hijau terang di bingkai utama, merah-oranye menyala di lengkungan jendela, sampai warna ungu tua di atap samping. Di sisi kiri dan kanan, ada jendela besar dengan ornamen kerawang geometris islami yang rumit.

Tapi tunggu dulu, Kampar tidak lupa akarnya. Di sebelah kiri belakang, samar-samar kelihatan bangunan kayu panggung warna kuning dengan jendela jalusi tradisional—representasi rumah panggung adat Kampar yang legendaris. Di sisi kanan, sebuah menara tinggi putih-biru berdiri kokoh melengkapi komplek.

Satu kata buat Kampar: Kreatif! Mereka tidak sekadar bikin tempat pameran, tapi sebuah pernyataan visual yang megah, modern, dan sangat menjunjung tinggi kesucian Al-Qur’an.

Eits, jangan beranjak dulu. Pertempuran visual ini makin sengit kalau kita geser pandangan ke stan milik Kota Dumai. Kota pelabuhan ini punya taktik sendiri yang tidak kalah cerdik untuk mencuri perhatian. Kalau dipandangi, Dumai ini seperti ingin membawa atmosfer kemegahan Masjid Agung mereka langsung ke Teluk Kuantan.

Dumai ogah pelit menara. Kalau stan lain cuma menaruh menara di sudut, Dumai pasang empat buah menara sekaligus di bangunan utama! Dua menara tinggi di luar, dua menara pendek mengapit kubah tengah.

Kombinasi warna putih-krem dengan ujung lancip berwarna biru cerah membuat stan ini langsung terasa adem tapi berwibawa. Biru samudra, khas kota pesisir.

Di tengahnya, tulisan “Kota Dumai” mentereng berwarna biru menyala, tepat di bawah kubah utama. Pintu masuknya dibuat bermotif lengkungan mihrab klasik yang estetik.

Tapi yang bikin saya senyum-senyum sendiri adalah detail dekorasinya. Dumai ini pinter merayu emak-emak. Di atas jendela dekoratifnya, mereka memasang rangkaian bunga segar warna putih dan merah muda yang dipadu kain hijau. Cantik betul.

Belum lagi di depan kiri-kanan, ada replika payung hidrolik raksasa ala Masjid Nabawi di Madinah, lengkap dengan guratan lampu LED. Kreatifnya kelewatan. Bahkan di sisi kanan, mereka sengaja bikin photobooth interaktif warna biru bertuliskan “Kesra Berkhidmat”. Lengkap dengan ilustrasi kartun islami di bawahnya. Jaminan mutu bakal jadi rebutan tempat berswafoto.

Melihat Pekanbaru yang glamor dengan emasnya, Kampar yang berani dengan geometri Al-Qur’annya, dan Dumai yang teduh dengan harmoni biru samudra ala Madinah, semuanya menyuguhkan tontonan visual yang luar biasa menakjubkan. Tinggal pilih mana yang mau dikunjungi lebih dulu. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp