Bukan Sekadar Tripleks: Jiwa Melayu di Astaka Kuansing

Oleh : Hendri Chaniago

Besok pagi, hiruk-pikuk itu akan dimulai. Tapi sore ini, berdirilah di depan panggung itu. Diam sejenak. Anda akan merasakan sesuatu yang bergetar di dada.

Itulah Astaka Utama MTQ Provinsi Riau di Kuantan Singingi (Kuansing). Sudah tuntas. Sudah berdiri tegak. Orang-orang menyebutnya mewah, tapi kata itu terasa terlalu dingin. Ini megah, dan yang paling penting, punya jiwa.

Lihat warnanya. Kuningnya begitu dominan. Bukan sembarang kuning. Ini kuning keemasan khas Melayu. Menyala di bawah terik matahari Sumatra. Seolah-olah panggung ini berbisik lembut, mengucapkan selamat datang di Kota Jalur.

Lalu mata Anda akan tertumbuk pada kain vertikal di bagian tengah atas. Ada tiga warna: kuning, hijau, merah. Tiga serangkai warna adat Riau. Begitu sakral. Desainer astaka ini jelas paham betul cara menghormati leluhur tanpa harus terlihat kuno.

Di kanan-kiri, ada ukiran kerawang emas. Latar belakangnya biru tua. Kontrasnya pas, tidak norak sama sekali. Kalau dilihat dari dekat, jalinan ukirannya begitu halus. Seperti dikerjakan dengan rasa cinta, bukan sekadar kejar setoran proyek.

Menariknya, di balik balutan adat yang kental itu, ada modernitas yang mengintip. Tengok saja dua layar raksasa di sayap kiri dan kanan. Layar LED besar.

Besok, ayat-ayat suci Al-Qur’an akan terpampang di sana. Wajah para qari-qariah yang gemetar menahan haru juga akan meliuk-liuk di layar itu. Jemaah di sudut paling belakang pun tidak akan kehilangan momen.

Lalu, persis di bagian tengah, panggungnya sengaja dibuat bertingkat. Lebih tinggi. Itulah podium utama. Pusat dari segala pusat perhatian, tempat di mana kalam ilahi akan dilantunkan, membelah langit Kuansing.

Di sebelahnya, ada sebuah tenda kerucut putih berdiri rapi. Kontras, tapi melengkapi. Seperti kopi hitam dan pisang goreng di warung sebelah. Pas sekali.

Kabupaten Kuansing sebagai tuan rumah tidak main-main. Logo daerah terpampang bangga di sana. Mereka ingin menegaskan bahwa mereka sangat siap menyambut Anda semua dengan tangan terbuka dan dada lapang.

Merasakan angin sore Kuansing, membayangkan ketegangan para kafilah esok hari, dan mencium aroma panggung baru yang magis ini.

Astaka ini bukan cuma susunan tripleks, kain, dan lampu. Ini adalah kehormatan yang mewujud.

Esok hari, peluit pertama ditiup. Lantunan ayat suci akan menggema. Dan panggung megah ini sudah sangat siap menjadi saksinya. Sungguh, Kuansing keren! .(***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp