

Oleh : Hendri Chaniago
Hari ini Teluk Kuantan mendadak padat. Ramai sekali.
Matahari Sabtu (27/6/2026) ini terik, tapi kalah membara dibanding semangat ribuan orang yang menyemut di lokasi pembukaan MTQ Riau ke-44. Semua orang rindu keramaian yang berkah seperti ini.
Tapi, jujur saja. Begitu masuk ke area pameran, fokus saya langsung buyar. Mata saya—dan mata ribuan pengunjung lainnya—mendadak tersedot oleh deretan stan kabupaten yang gila-gilaan kreatifnya.
Ada tiga stan yang bikin saya berdiri agak lama. Bukan cuma karena megah. Tapi karena ketiganya punya “nyawa” yang beda. Punya rasa.
Mari kita obrolkan satu per satu sambil menyeruput kopi.
Pertama, tuan rumah kita: Kuantan Singingi. Kuansing ini ibarat abang tertua yang kalem, tapi berwibawa. Mereka tidak mau pamer warna-warni yang bikin silau. Desain stannya meniru masjid modern. Didominasi warna hitam, emas, dan putih bersih. Anggun.
Di atapnya ada kubah emas besar. Diapit menara kembar di kanan-kiri. Dinding depannya dilapisi ornamen geometris islami putih yang rapi sekali. Adem melihatnya.
Tapi coba tengok bagian bawahnya. Ada lukisan tradisi Pacu Jalur yang sedang membelah sungai. Di situ magisnya. Kuansing seolah ingin berbisik kepada setiap tamu: “Kami ini taat pada Tuhan, tapi kami tidak pernah sedetik pun lupa pada akar budaya leluhur.”.Sebuah kombinasi yang bikin merinding.
Kedua, Rokan Hilir.
Kalau Kuansing tadi kalem, Rohil ini tipe yang langsung bikin Anda menoleh. Semarak! Warnanya berani sekali: hijau, kuning, merah, menyala di bawah langit siang. Di puncaknya, ada lafaz Allah yang besar, berdiri tegak di atas tulisan “ROHIL”. Yang paling bikin saya tersenyum adalah pintu masuknya. Kreatif murni.
Mereka membuat replika rehal—tatakan kayu tempat menaruh Al-Quran itu—tapi ukurannya raksasa! Berwarna hijau dan kuning. Lalu di sekeliling rehal raksasa itu, mereka memajang hasil bumi asli. Ada untaian kelapa sawit yang melimpah dan buah-buahan lokal.
Ini sentuhan yang sangat manusiawi. Ini bukan sekadar pajangan estetika. Ini cara orang Rohil curhat kepada dunia: bahwa tanah mereka subur, sawit mereka menghasilkan rezeki, dan semua keberkahan hidup itu mereka letakkan di bawah naungan semangat Al-Quran. Rasa syukurnya terasa sampai ke hati yang melihat.
Ketiga, Pelalawan.
Nah, kabupaten yang satu ini agak “nyeleneh” dalam arti yang positif. Ketika yang lain berlomba-lomba bikin replika tempat ibadah, Pelalawan justru memboyong kemegahan Istana Melayu kuno ke Teluk Kuantan. Dua lantai!
Hampir seluruh bangunan stannya menggunakan material kayu dengan warna cokelat natural yang hangat. Berpadu apik dengan ukiran khas Melayu berona kuning emas dan merah. Detailnya juara. Ada balkonnya, ada jendela bertirai merah, bahkan ada lampu gantung klasik di teras lantai dua.
Rasanya seperti sedang bertamu ke rumah Sultan. Tapi, pintar-pintarnya Pelalawan, mereka tidak cuma jualan sejarah. Di halaman depan stan, mereka mendirikan monumen lingkaran emas besar. Isinya? Siluet orang yang sedang berselancar di atas Ombak Bono yang legendaris itu. Cerdas.
Sambil syiar agama, pariwisata daerah pun ikut digas. Tak heran, sejak pagi tadi, antrean ibu-ibu dan anak muda yang mau swafoto di depan lingkaran Bono itu panjangnya mirip antrean sembako.
Melihat ketiga stan ini, saya merenung. MTQ ini ternyata bukan cuma soal kompetisi melantunkan ayat suci secara indah. Lebih dari itu, ini adalah panggung kegembiraan budaya kita.
Di balik tripleks, kayu, semen, dan cat yang megah itu, ada cerita tentang manusia-manusia Riau yang bangga akan agamanya, sekaligus cinta mati pada tanah kelahirannya.
Kopi saya sudah habis. Tapi rasa kagum pada kreativitas orang-orang ini masih melekat di kepala. Kalau Anda ada waktu luang akhir pekan ini, sudahlah, hidupkan motor. Langsung ke Teluk Kuantan. Beli es tebu, lalu nikmati sendiri kemegahan yang punya jiwa ini. Berselisih bahu dengan ribuan orang di sana itu… rasanya asyik sekali. (***)





