Oleh: Hendri Chaniago.
Kiai Nasaruddin Umar tersenyum lebar. Matanya berbinar. Imam Besar Masjid Istiqlal itu seperti menemukan oase baru. Di Teluk Kuantan. Hari Sabtu ini, 27 Juni 2026.
Beliau datang sebagai Menteri Agama. Protokoler tentu ketat. Tapi begitu menginjakkan kaki di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), kekakuan protokoler itu langsung mencair. Ambyar oleh kehangatan warganya.
Hari itu, pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-44 tingkat Provinsi Riau. Meriah. Tapi yang bikin Menag kepincut bukan cuma panggungnya yang megah. Bukan juga tenda-tenda VIP-nya.
Melainkan ini: Pacu Jalur.
Tradisi mendayung perahu panjang yang legendaris itu sengaja digelar untuk menyemarakkan MTQ. Dan Menag sendiri yang melepasnya secara resmi. Bayangkan. Seorang ulama besar, pemimpin spiritual, berdiri di tepi sungai. Melepas riuh rendah perahu bapacu.
“Saya sangat terkesan,” cetus Kiai Nasaruddin. Kalimatnya pendek. Tapi nadanya dalam. Beliau kagum melihat bagaimana tradisi sekuno itu bisa hidup berdampingan, bahkan mesra, dengan nafas keagamaan.
Biasanya, di banyak tempat, modernitas atau bahkan tradisi sering bertabrakan dengan agama. Di Kuansing tidak. Mereka justru berpelukan. Kiai Nasaruddin lalu melirik sang kepala daerah. Bupati Suhardiman Amby. Di sebelahnya ada Wakil Bupati Muklisin. Menag memuji duet ini.
Kepemimpinan mereka dinilai berhasil menjaga denyut nadi budaya tanpa kehilangan ruh spiritual. Lalu keluarlah slogan itu. Slogan yang membuat Menag manggut-manggut setuju. “Siang Bapacu, Malam Mengaji.”
Keren betul slogan ini. Singkat. Padat. Punya histori sendiri. Siang hari otot dikencangkan, bersaing di jalur sungai. Malam hari hati ditenangkan, melantunkan ayat suci di surau-surau. Dunia dapat, akhirat dikejar. Seimbang.
“Ini sangat menarik. Slogan itu sangat sesuai dengan kondisi yang saya saksikan sendiri hari ini,” tambah Menag. Beliau tidak sedang berbasa-basi politik. Kelihatan dari sorot matanya.
Harapan Menag jelas. MTQ ke-44 ini jangan cuma jadi ajang kejar piala. Harus jadi syiar. Harus bikin umat makin rekat. Indonesia lagi butuh yang sejuk-sejuk begini.
Di panggung lain, Bupati Suhardiman Amby tak bisa menyembunyikan rasa lega dan bangganya. Senyumnya buncah. Berkali-kali ia mengucapkan terima kasih.
Kepada siapa? Tentu kepada Menag yang sudah jauh-jauh datang dari Jakarta. Juga kepada Plt Gubernur Riau SF Hariyanto, para bupati, dan wali kota se-Provinsi Riau. Mereka kompak.
.
“Terima kasih atas kehadiran Bapak Menteri. Terima kasih dukungan semua pihak,” kata Suhardiman.
Tapi namanya juga orang timur. Punya rasa risau kalau-kalau tamunya kurang nyaman. Suhardiman pun buru-buru minta maaf. Manusiawi sekali.
“Kalau ada yang kurang dalam pelayanan, kami mohon maaf,” ucapnya tulus.
Dia lalu melontarkan guyonan halus. Berharap para tamu dan peserta tidak kapok. Malah kalau bisa rindu. “Semoga nyaman, dan jangan bosan untuk kembali berkunjung ke Kuantan Singingi,” tambahnya.
Di deretan kursi undangan, tampak Ketua TP PKK Kuansing, jajaran Forkopimda, dan para tokoh masyarakat. Semuanya tersenyum.
Hari itu, di Teluk Kuantan, kita melihat potret Indonesia yang ideal. Agama tidak menjauhkan orang dari budayanya. Budaya tidak membuat orang lupa pada Tuhannya.
Siang kita berpacu, malam mari kita mengaji. (***)





