Vonis Chromebook

Oleh: Hendri Chaniago.

Ketukan palu itu terdengar juga. Selasa hari ini (30/6/2026). Di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat.
Tok! Sepuluh tahun penjara.

Terdakwanya bukan orang sembarangan. Nadiem Anwar Makarim. Mantan menteri. Mantan bos Gojek. Anak muda yang dulu kita anggap sebagai simbol masa depan, inovasi, dan efisiensi.

Hari ini, dia harus merapikan kemeja batik abu-abunya. Menunduk. Mendengar Ketua Majelis Hakim Purwanto S Abdullah membacakan nasibnya.

Bukan cuma kurungan. Ada angka-angka raksasa yang ikut dibacakan. Denda Rp1 miliar. Ditambah lagi uang pengganti Rp809 miliar. Kalau tidak dibayar, penjaranya nambah 5 tahun lagi.

Angka yang bikin kepala kita rakyat jelata ini pusing. Delapan ratus sembilan milyar itu kalau dibelikan kerupuk, mungkin bisa menenggelamkan satu kabupaten.

Padahal, ini sebetulnya sudah dapat potongan. Jaksa awalnya meminta 18 tahun. Hakim baik hati, dikasih 10 tahun saja. Alasannya sederhana, karena Nadiem belum pernah dihukum sebelumnya. Tentu saja, jarang ada menteri yang hobi bolak-balik masuk bui sebelum menjabat.

Tapi yang menarik adalah alasan yang memberatkan. Di sini letak ironi paling getir. Hakim menyatakan perbuatan ini terencana. Dan yang paling membuat jleb, Nadiem itu orang kaya. Ekonominya sangat berkecukupan. Istilah kerennya, high-profile.

Jadi, tidak ada alasan desakan ekonomi. Dia korupsi bukan karena bingung besok mau beli beras atau susu anak.

Ini soal lain. Soal keserakahan, atau mungkin sistem yang menjebak. Kita semua sudah paham kelanjutan ceritanya di warung kopi.

Mari kita tengok kasusnya: Laptop Chromebook. Dan sistem manajemennya, CDM. Anggaran tahun 2020 sampai 2022.

Kita semua ingat masa-masa itu. Pandemi melanda dan anak-anak bingung sekolah online. Pemerintah lalu punya ide genius untuk membeli laptop secara massal. Niatnya mulia.

Tapi di atas kertas, analisis kebutuhannya sengaja diarahkan. Dipaksa harus merek itu, sistem operasi itu, tanpa melihat realita di lapangan.

Akibatnya ambyar. Terutama di daerah 3T. Terluar, tertinggal, terdepan. Kita bisa membayangkan anak-anak di pedalaman Papua, atau di pulau terluar Maluku. Sinyal timbul tenggelam seperti harapan palsu dan listrik sering byar-pet.

Tapi mereka dikirimi laptop yang basis utamanya harus selalu online lewat cloud. Itu sama saja dengan mengirim sisir rambut untuk orang botak. Tidak ada gunanya.

Di Jakarta, anggaran ratusan miliar mengalir lancar. Sementara di daerah terpencil, laptop-laptop itu akhirnya cuma jadi pengganjal pintu atau mainan anak-anak tanpa pernah tahu cara menyalakannya. Sebuah kegagalan total.

Saat vonis dibacakan, Nadiem sempat diminta berdiri, lalu dipersilakan duduk lagi. Dia mendengarkan dengan seksama. Sesekali kepalanya terkulai.

Kita tidak tahu pasti apa yang ada di pikiran menteri milenial ini. Dia mungkin rindu masa-masa membakar uang investor di Gojek, yang jelas lebih aman daripada mengutak-atik uang negara.

Di bisnis startup, bakar uang itu dianggap prestasi. Sedangkan di pemerintahan, bakar uang berujung pada vonis 10 tahun penjara ini.

Sekarang, palu sudah diketuk dan babak pertama selesai. Kita tinggal tunggu kelanjutannya, apakah Nadiem akan menerima nasib atau memilih melawan lewat banding.

Satu hal yang pasti, teknologi secanggih apa pun, kalau sudah masuk pusaran proyek birokrasi, ujung-ujungnya tetap kembali ke rumus lama. Rumus kuno yang namanya korupsi.

Ganti menteri boleh, ganti kurikulum silakan, tapi pemainnya ternyata tetap itu-itu saja. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp