Ditulis Oleh: Hendri Chaniago.
Jumat: 10/7/2026.
Hebat betul Prof. Mahfud MD. Kalimatnya pendek, tapi maknanya menancap dalam: “Saling bongkar korupsi bagus. Setan ketemu setan.”
Ucapan itu seperti ramalan kuno yang mendadak jadi kenyataan hari ini.
Layar ponsel kita sekarang penuh sesak oleh berita penggeledahan. Sitaan emas, tumpukan dolar di kafe, hingga rumah mewah di Sentul ikut diobok-obok. Dua raksasa penegak hukum kita—Polri dan Jampidsus Kejaksaan Agung—kini benar-benar sudah berhadapan. Mereka bukan lagi sekadar saling lirik. Ini sudah saling sikut.
Bagi orang awam, situasi ini memang menegangkan dan ngeri-ngeri sedap. Namun dari sudut pandang warung kopi, inilah panggung yang paling ditunggu. Sebuah panggung di mana rumus lama bernama “saling kunci” akhirnya pecah berantakan.
Selama ini, kita semua sebenarnya tahu sama tahu. Di level atas, dinamika antar-lembaga sering kali mirip drama pertemanan yang semu. Kamu pegang kartu saya, saya kantongi rahasia kamu. Semua aman dan bisa sama-sama melempar senyum ramah di depan kamera.
Namun sepandai-pandainya menyimpan bangkai, baunya pasti akan tercium juga. Begitu salah satu pihak melangkah terlalu jauh—entah karena urusan perebutan ruang di sektor tambang atau proyek strategis lainnya—garis demarkasi itu langsung jebol.
Seketika itu juga, senyum berubah menjadi taring. Jampidsus merasa berada di jalur yang benar. Mereka gencar bersih-bersih kasus kakap demi menyelamatkan triliunan uang negara dengan narasi profesionalisme yang tegak.
Sementara itu, Polri pun tidak mau kalah taji. Lewat Dittipidkor dan Polda Metro Jaya, mereka merangsek masuk ke wilayah yang selama ini dianggap tabu untuk mengirim pesan garang bahwa tidak ada institusi yang kebal hukum di negeri ini.
Maka terjadilah momen setan ketemu setan itu.
Menariknya, penonton di bawah justru bersorak. Kita sebagai rakyat jelata tidak perlu lagi repot-repot mengintip dari lubang kunci karena mereka sendiri yang membukakan pintunya lebar-lebar. Borok yang selama ini rapi ditutupi karpet merah, kini dijemur langsung di bawah terik matahari.
Munculnya rasa dongkol saat melihat tumpukan dolar itu sangat manusiawi. Namun di sisi lain, ada juga rasa puas yang aneh. Jika kedua raksasa ini tidak saling sikut, kita tidak akan pernah tahu ada uang sebanyak itu disembunyikan di tempat-tempat tak terduga.
Inilah yang dinamakan transparansi paksaan. Ongkos kegaduhan di media sosial menjadi terasa sepadan dengan ratusan miliar aset yang akhirnya berhasil disita dan dikembalikan ke kas negara. Kini publik tinggal menunggu ujung dari drama besar ini.
Pilihannya hanya dua, apakah konflik ini akan bermuara pada pembersihan total di kedua belah pihak hingga semuanya disapu bersih sampai mengkilap, ataukah tensi yang tinggi ini mendadak melandai setelah ada agenda “ngopi sore” dan kompromi politik baru di tingkat atas.
Sembari menyeruput kopi hitam yang mulai dingin, kita nikmati saja pertunjukan yang melelahkan sekaligus seru ini. Selama uang rakyat kembali dan para pelaku korup saling buka kartu, riuh rendah di luar gelanggang hukum adalah hiburan yang sangat menyehatkan akal sehat. (***)





