Ditulis Oleh: Hendri Chaniago.
Jumat : 10/7/2027.
Gila. Benar-benar gila.
Kantor Ditreskrimsus Polda Metro Jaya mendadak mirip gudang Bank Indonesia. Atau mungkin, mirip gua penyamun di dongeng Ali Baba. Bedanya, yang ini nyata. Ada emas batangan berderet-deret. Beratnya mencapai 74 kilogram. Kalau Anda pakai kalung emas 5 gram saja sudah merasa mentereng, bayangkan yang ini: 74.000 gram.
Belum lagi duitnya. Uang tunai bergepok-gepok dalam pecahan Dollar AS, Dollar Singapura, sampai Rupiah. Total uang ada Rp543 milyar. Lebih dari setengah triliun.
Semua itu hasil kerja maraton tim gabungan Polda Metro Jaya dan Kortastipidkor Polri. Mereka menggeledah 12 lokasi sekaligus di Jabodetabek. Dor-dor-dor, tanpa permisi.
Mari kita lacak dari mana asal emas seberat skripsi mahasiswa satu jurusan itu.
Aksi sikat-menyikat ini sebenarnya sudah digulirkan sejak hari Kamis kemarin. Polisi bergerak dalam senyap. Mereka tidak mau berisik di awal. Kalau bocor duluan, brankas-brankas rahasia itu pasti sudah kosong melompong sebelum polisi sempat mengetuk pintu.
Polisi sengaja menyimpan rapat-rapat hasilnya selama seharian penuh. Baru setelah seluruh emas selesai dihitung dan duit beres dikelompokkan, Kabid Humas Kombes Pol. Budi Hermanto membuka semuanya dalam konferensi pers pada Jumat malam ini.
Lokasi pertama adalah sebuah rumah mewah di Sentul, Bogor. Hawanya sejuk, tapi suasananya mendadak panas saat polisi datang. Penyidik mengendus ada yang tidak beres di sebuah ruangan. Benar saja. Ada brankas rahasia, tersembunyi rapi.
“Dari salah satu rumah mewah di kawasan Sentul, Bogor, tim penyidik berhasil membongkar brankas tersembunyi yang berisi 74 kilogram emas batangan serta uang tunai pecahan Dollar AS, Dollar Singapura, dan Rupiah yang ditaksir mencapai Rp476 miliar,” ujar Budi Hermanto dengan nada mantap di Mapolda Metro Jaya. Di situlah emas dan duit miliaran itu selama ini tidur dengan nyenyak.
Lokasi kedua di Cafe de’Clan Signature di kawasan gaul Cipete, Jakarta Selatan. Tidak ada yang menyangka, di balik aroma kopi yang wangi dan baju-baju yang digantung di lemari pakaian lantai dua, ada dua brankas rahasia lagi. Isinya uang tunai Rp60 miliar. Ngopi di sana pasti terasa beda kalau tahu di atas kepala kita ada duit sebanyak itu.
Lokasi ketiga masih di Cipete, bergeser ke Koin Money Changer. Di sini polisi mengamankan Rp7,2 miliar dari 16 mata uang berbeda. Tempat ini diduga kuat bukan cuma buat tukar duit turis, tapi jadi “mesin cuci” alias pos pencucian uang.
Ini bukan korupsi kelas teri yang nilainya cuma buat beli mobil dinas. Ini korupsi kelas kakap yang melibatkan tiga klaster raksasa sekaligus: kasus blackout batu bara PLN, megakorupsi Asabri, dan Krakatau Steel. Tiga-tiganya nama besar. Tiga-tiganya duit rakyat.
Penyidik menyisir semuanya. Mulai dari kantor-kantor mentereng di Penjaringan, Kuningan, sampai apartemen elite di Pacific Place. Rumah-rumah pribadi saksi kunci berinisial MN, TK, DR, hingga MILDK disatroni. Total ada 12 titik.
Tapi ada satu hal yang paling unik.
Duit sudah numpuk di Mapolda, emas sudah berkilau di atas meja, tapi belum ada satu pun yang jadi tersangka. Iya, kita tidak salah baca. Statusnya masih “pendalaman materi”. Polisi baru membawa beberapa saksi, termasuk karyawan kafe dan beberapa pria dari ruko di Cipete, untuk diinterogasi.
Bagi kita yang awam, logika sederhananya kan gampang. Ada barang bukti sebesar gunung, ya pasti ada malingnya. Masa iya emas puluhan kilo dan duit setengah triliun itu jatuh dari langit. Tapi di dunia hukum, ternyata tidak bisa main seruduk begitu saja.
Siasat polisinya tampaknya ingin main cantik. Mereka pakai strategi “potong ekor dan sayap” dulu sebelum nembak kepalanya. Istilah kerennya asset recovery alias penyelamatan aset negara.
Dalam kasus mega seperti ini, uangnya gampang sekali menguap. Telat sedikit saja digerebek, duit itu bisa langsung terbang ke rekening luar negeri. Jadi, target utamanya adalah amankan dulu barang buktinya sebelum “burungnya” lepas.
Selain itu, polisi sepertinya tidak mau buru-buru menetapkan tersangka kalau cuma modal barang bukti tanpa kaitan hukum yang kokoh. Kalau asal tunjuk, nanti di sidang praperadilan pihak pengacara koruptor bisa dengan mudah mematahkan status tersangka itu dengan alasan prosedur kurang lengkap. Kalau sudah begitu, polisi yang bakal malu sendiri.
Makanya, saat ini polisi sedang mengunci dokumen transaksi yang 71 biji itu. Begitu aliran dananya klop dan bukti formalnya tidak bisa dibantah lagi, baru ketukan palu tersangka itu bakal bunyi nyaring.
Malam ini, suasana di Gedung Ditreskrimsus Polda Metro Jaya mencekam sekaligus bikin silau.
Penjagaan super ketat. Personel Brimob bersenjata lengkap berdiri tegap di setiap sudut. Wajar saja dijaga ketat karena ngeri juga menjaga emas puluhan kilo dan uang setengah triliun di dalam satu ruangan.
Salah-salah, ada yang khilaf. Tinggal tunggu waktu saja untuk melihat kelanjutannya, termasuk siapa nama-nama besar di balik inisial-inisial tadi dan siapa yang bakal memakai rompi oranye.
Yang jelas, malam ini, para koruptor itu pasti tidak bisa tidur nyenyak. Kamar AC di rumah mewah mereka mendadak terasa jauh lebih panas dari biasanya. (***)





