Bantahan Kemarin Sore, Tersangka Hari Ini

Ditulis Oleh: Hendri Chaniago.
Sabtu: 11/7/2026.

Dunia ini memang panggung sandiwara. Dan akhir pekan ini, panggung itu roboh di tangan Irjen Totok Suharyanto.

Sabtu. 11 Juli 2026.

Kortas Tipikor Polri resmi mengetuk palu: Febrie Adriansyah (FA), sang mantan Jampidsus, jadi tersangka. Ikut terseret juga seorang swasta bernama Don Ritto (DR) .

Dramatis sekali.

Padahal, baru kemarin sore Febrie membantah semua keterkaitannya dengan bisnis di kafe Cipete itu. Besoknya dia mengundurkan diri. Lalu, beberapa jam kemudian, statusnya resmi berubah jadi tersangka.

Hidup bisa berputar secepat itu.
Semua ini bermula dari gerakan senyap polisi. Maraton. Mereka menggeledah 13 lokasi. Dan penemuannya sukses bikin kita yang cuma gajian bulanan ini geleng-geleng kepala sampai leher pegal.

Pertama, mereka ke Kafe De’Clan Signature di Cipete. Di balik dinding ruko yang tampak biasa, ada brankas rahasia. Ukurannya ngeri: 2 x 1 meter. Isinya uang tunai Rp60 miliar. Susah membayangkan berapa lembar itu kalau ditumpuk. Tapi itu baru pemanasan.

Gong utamanya ada di sebuah rumah mewah di Sentul, Bogor. Di sana, polisi menemukan harta karun yang bikin dahi mengkerut. Brankas tersembunyi lagi. Kali ini isinya bukan cuma uang kertas.

Ada emas batangan seberat 74 kilogram. Masih ditambah dolar Amerika serangkai dolar Singapura yang berceceran di dalam koper-koper bermerek mewah. Kalau ditotal, isi rumah Sentul itu tembus Rp476 miliar. Hampir setengah triliun rupiah.

Dan di sinilah drama manusiawi itu muncul. Di dekat tumpukan emas yang berkilau itu, polisi menemukan sesuatu yang kontras: foto keluarga. Di media sosial, netizen langsung heboh dan videonya viral. Narasi yang beredar menyebut itu foto keluarga sang Jampidsus.

Irjen Totok pun bersikap hati-hati dan menyatakan pihaknya masih mendalami keaslian temuan tersebut.

Emas sekilo-dua kilo mungkin bisa bikin silap mata. Tapi foto keluarga di samping tumpukan emas itu seperti pengingat. Di balik angka-angka gila ini, ada urusan domestik yang ikut terseret. Ada nama baik keluarga yang kini dipertaruhkan di lantai dingin ruang sidang kelak.

Lalu, dari mana semua harta karun itu berasal. Polisi tidak asal tebak. Konstruksi perkara yang disusun Kortas Tipikor menunjukkan Febrie diduga memanfaatkan jabatannya yang strategis untuk bermain di kolam-kolam besar.

Ada tiga pusaran kasus raksasa yang menjadi pintu masuknya. Kasus-kasus kakap yang nilai kerugian negaranya sempat bikin heboh se-Indonesia.

Pertama, mega korupsi PT Asabri. Ini asuransi sosial milik TNI dan Polri yang rontok dengan kerugian negara Rp22,7 triliun. Febrie yang dulu memimpin penanganan kasus ini diduga malah ikut bermain dalam proses penyitaan atau pengamanan aset-aset sitaan bernilai triliunan milik para tersangka utama.

Kedua, urusan tata niaga batu bara PLN. Ini soal pemenuhan kebutuhan batubara untuk pembangkit listrik negara. Di sini, Febrie diduga menerima gratifikasi untuk mengatur arah penanganan perkara atau memberikan jaminan keamanan hukum bagi para pemain bisnis hitam batubara.

Ketiga, penyelesaian utang anak perusahaan Krakatau Steel. BUMN baja kita yang sempat terbelit utang besar itu ditarik ke ranah hukum karena ada indikasi korupsi. Febrie diduga masuk ke dalam sengketa ini bukan untuk menegakkan hukum, melainkan menegosiasikan tarif penyelesaian perkara agar pihak tertentu bebas dari jerat.

Konstruksi hukumnya menjadi klasik: dugaan suap, gratifikasi, dan pencucian uang. Ibaratnya, dia diberi sapu untuk membersihkan halaman, tapi sapunya malah dipakai untuk mengumpulkan daun-daun kering ke dalam kantong sendiri.

Kini, Don Ritto sudah meringkuk di Rutan Polda Metro Jaya. Febrie pun harus bersiap menghadapi babak baru. Ironisnya, berkas perkara mantan bos kejaksaan ini justru dilimpahkan kembali ke Kejaksaan Agung untuk diproses.

Teman sejawat sendiri yang akan menyidangkan. Kita bisa membayangkan betapa canggungnya suasana di ruang sidang nanti.

Begitulah. Di atas kertas, ini kasus korupsi besar. Tapi di warung kopi, kita tahu ini cerita lama tentang manusia yang gagal berdamai dengan rasa cukup.

Sebab nyatanya, 74 kilogram emas tetap tidak bisa membeli ketenangan tidur di hari Sabtu yang cerah. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp