Tuah Petahana

Ditulis Oleh: Hendri Chaniago.
Minggu: 12/7) 2027.

Saya sedang santai, jemari memegang remote TV, lalu mata tertuju pada program Gaspol di Kompas TV. Di layar, ada Adi Prayitno. Direktur Parameter Politik Indonesia itu melempar omongan yang bikin saya tersedak kopi.

Kalimatnya santai, tapi ngeri.

Kata Adi, untuk Pilpres 2029 nanti, Prabowo Subianto sudah tidak butuh cawapres yang populer. Elektabilitas sudah masuk kotak. “Enggak penting-penting amat, Pak,” katanya enteng.

Saya tertegun. Mencoba mencerna kata-kata itu. Sambil menghirup sisa kopi yang mulai dingin, saya mikir bahwa ini sangat masuk akal.

Ada hukum tidak tertulis di politik kita. Jangan pernah sepelekan daya pikat seorang petahana. Status incumbent itu mewah karena Anda pegang kunci lemari logistik sekaligus pegang kompas di tangan.

Prabowo sekarang adalah pusat tata surya politik kita. Magnetnya terlalu kuat. Tidak perlu lagi repot-repot mencari wakil yang jago tebar pesona di baliho atau rajin bayar lembaga survei komersial. Prabowo sudah kenyang dengan semua itu.

Kompas politik sudah bergeser. Bukan lagi soal angka survei, melainkan soal kesetiaan dan militansi kerja.

Kata Adi, syaratnya cuma tiga. Cukup loyal, cukup militan, dan siap kerja. As simple as that. Jadi, kalau mau menghadap Prabowo, jangan pamer elektabilitas karena beliau sudah punya itu, bahkan sisa-sisa.

Sejarah kita mencatat pola yang sama dan terus berulang.

Ingat Pilpres 2009. SBY sedang kuat-kuatnya sebagai petahana. Beliau mendadak gandeng Boediono. Saat itu Boediono adalah teknokrat murni, bukan orang partai, dan bukan tokoh massa yang elektabilitasnya mentereng. Hasilnya tetap menang mutlak satu putaran.

Lalu Pilpres 2019 ketika Jokowi menggandeng Kiai Ma’ruf Amin. Itu menjadi pembuktian lagi bahwa petahana itu mandiri secara elektoral, sedangkan wakil tinggal mengikuti.

Pengamat kawakan Hendri Satrio—yang biasa dipanggil Hensat—punya catatan lain. Posisi Prabowo memang sedang di atas angin karena kepuasan rakyat tinggi.

Namun, Hensat memberi peringatan yang bikin dahi mengkerut. Posisi super kuat ini justru jadi ujian kedewasaan bagi koalisi.

Sebab, kalau wakil tidak lagi ditentukan oleh pasar survei, maka hak prerogatif presiden menjadi mutlak. Di sini ego partai diuji untuk membuktikan apakah mereka mau berlapang dada menerima pilihan Prabowo atau malah bikin riak di dalam perahu.

Mengenai nasib Gibran Rakabuming Raka di 2029, peluang duet ini lanjut tetap besar dan sangat mungkin terjadi. Hanya saja jalannya tidak akan selemus jalan tol karena penuh kalkulasi tingkat tinggi.

Secara objektif, “faktor Jokowi” belum habis. Bayang-bayang Presiden ke-7 itu masih ada di belakang Gibran. Kita semua tahu, Prabowo dan Jokowi selalu punya cara unik untuk kompromi demi kontinuitas program.

Ditambah lagi, Gibran itu non-partai dan ini menjadi berkah tersendiri. Ketua-ketua umum partai besar tidak akan saling cemburu kalau Gibran yang ditunjuk, sehingga terasa adil untuk semua.

Kuncinya kembali ke rumus Adi Prayitno tadi. Jika selama periode pertama ini Gibran bisa membuktikan diri super loyal, patuh, dan tidak sibuk bikin panggung sendiri untuk pamer, Prabowo akan nyaman dan duet bakal berlanjut.

Namun, politik itu cairnya mengalahkan air dan selalu ada batu sandungan besar.

Antrean ketua umum partai di Koalisi Indonesia Maju sudah mulai panjang, mulai dari Golkar, PAN, Demokrat, sampai PKB. Mereka sudah berkeringat darah mengawal pemerintahan, sehingga wajar saja kalau mereka menagih jatah kursi RI-2 yang seksi di 2029 nanti.

Tapi ingat, keputusan tetap ada di tangan Prabowo sendirian.

Kalau beliau merasa situasi geopolitik dunia atau ekonomi dalam negeri sedang kacau, bisa saja beliau berubah pikiran. Beliau tidak butuh politisi penuntut jatah, melainkan menteri teknokrat murni yang siap kerja sunyi. Sangat mungkin ada nama kejutan baru yang keluar dari kantong beliau demi efektivitas kabinet.

Gara-gara pergeseran kompas ini, peta permainan berubah total.

Aksi genit politisi di media sosial demi menaikkan angka survei bakal kurang laku. Sekarang, panggungnya adalah panggung pembuktian mengenai siapa yang paling setia dan siapa yang kerjanya paling gila-gilaan membantu presiden untuk mendapatkan tiket emas.

Bagi kita para penonton warung kopi, fenomena ini seru. Pintu jadi terbuka lebar buat menteri-menteri berprestasi yang selama ini kerja dalam sunyi, yang miskin elektabilitas tapi kaya prestasi. Prabowo hanya butuh kawan seiring yang siap berlari mengeksekusi visi.

Sebaliknya, bagi kubu penantang, ini adalah bunyi alarm pagi yang sangat bising dan bikin sakit telinga.

Melawan petahana yang sudah mandiri secara elektoral, ditambah wakil yang super loyal, itu butuh strategi yang luar biasa. Kalau hanya pakai cara lama, mereka harus siap-siap gigit jari lagi. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp