Salam Komando di Tengah Badai

Ditulis Oleh: Hendri Chaniago.
Senin: 13/7/2026.

Hari ini, ada pemandangan menarik di Jakarta Selatan. Tepatnya di kantor Kejaksaan Agung. Dua orang penting bertemu. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Jaksa Agung ST Burhanuddin.

Begitu ketemu, mereka langsung salam komando. Klik! Kamera wartawan berebutan mengambil gambar. Senyum keduanya mengembang. Akrab sekali.

Tapi, Anda tahu sendiri kelakuan netizen kita. Juga para pengamat di warung kopi.

Pertemuan itu langsung digosok. Dikait-kaitkan. Maklum, momennya memang pas. Pas ada “badai” di korps Adhyaksa. Mantan Jampidsus, Febrie Adriansyah, baru saja jadi tersangka. Kasusnya berat: dugaan korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Bahkan, polisi baru saja menggeledah rumah Febrie.

Orang-orang langsung berbisik. “Wah, Kapolri datang ke Kejagung. Ada apa ini? Mau intervensi? Atau mau unjuk kekuatan?”

Namanya juga isu. Kalau tidak digosok, tidak panas.

Maka, ST Burhanuddin langsung pasang badan. Beliau langsung bicara ke media. Tegas. Tanpa basa-basi.

“Saya dan Kapolri, teman-teman jangan berpikir kami rival, versus,” katanya.

Kalimatnya santai, tapi mak jleb. Burhanuddin ingin memastikan satu hal: Kejaksaan dan Polri itu mitra. Bukan musuh yang sedang main kucing-kucingan. Pertemuan itu, katanya, cuma silaturahmi rutin. Biasa saja. Jangan lebay.

“Jangan berpikir karena ada hal sesuatu kemarin. Ini biasa kami lakukan. Kami berpikir perbaikan ke depan,” tambah Jaksa Agung.

Mendengar itu, Kapolri tersenyum. Beliau pun angkat bicara. Dan di sinilah menariknya. Di sinilah letak “jiwa” dari pertemuan itu.

Kapolri tidak memanggil dengan sebutan formal yang kaku. Beliau memilih kata yang sangat personal.

“Yang saya hormati kakak asuh saya Pak Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin…” ujar Listyo Sigit.
Kakak asuh.

Sebuah frasa pendek, tapi punya daya magis yang luar biasa. Kalimat itu langsung meruntuhkan semua tembok spekulasi yang dibangun para pengamat di media sosial. Itu bukan bahasa hukum. Itu bahasa hati. Bahasa hubungan senior-junior yang sudah matang oleh waktu.

Di warung kopi, kalau dua orang sudah saling panggil “kakak”, urusan tegang biasanya langsung cair. Masalah hukum tetap jalan, tapi hubungan personal jangan sampai retak. Febrie boleh saja menghadapi kasusnya, proses hukum silakan melaju, tapi nakhoda kedua lembaga ini memastikan kapalnya tidak saling tabrak.

Begitulah cara para jenderal dan jaksa menyelesaikan gosip. Cukup dengan satu salam komando dan satu sebutan hangat.

Lalu, bagaimana kelanjutan kasusnya? Ya, kita tunggu saja. Yang pasti, kopi mereka hari ini tampaknya tidak sepahit yang kita bayangkan. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp