Referensi Membentuk Persepsi

Penulis: H. Marwan Yohanis, S.Sos,. M.I.Kom

Dua anak kecil sedang diajak pulang kampung oleh orang tuanya.
Sebelumnya mereka belum pernah melihat kerbau.

Pada saat sedang bermain, tiba-tiba dari arah yang berbeda, keduanya melihat seekor kerbau. Mereka terkejut lalu berlari pulang dan menceritakan apa yang mereka lihat kepada orang tuanya.

Dengan penuh semangat Andra berkata, “Kerbau itu berekor panjang”. Andri segera membantah, “Bukan! Kerbau itu bertanduk!”. Keduanya merasa benar.

Keduanya bahkan yakin bahwa yang lain keliru. Keduanya sedang melihat kerbau yang sama, hanya dari sisi yang berbeda. Andra melihat bagian belakang. Andri melihat bagian depan. Di situlah sering kali persoalan manusia bermula.

Kita melihat sebagian, lalu bicara seolah-olah melihat kesalahan. Kita mendengar satu versi, lalu merasa telah mengetahui seluruh cerita. Kita membaca satu potong informasi, lalu membangun kesimpulan yang begitu lengkap.

Bahkan, tak jarang kita mempertahankan kesimpulan itu dengan keras—bukan karena kita memiliki seluruh kebenaran, tetapi kita terlalu yakin pada apa yang pertama kali kita lihat.

Padahal, benar dalam melihat satu sisi, tidak selalu benar dalam memahami kesalahan.

Perbedaan sudut pandang sesungguhnya bukan ancaman, ia justru kesempatan untuk memperluas cara kita memahami sesuatu. Orang lain mungkin melihat sesuatu yang tidak kita lihat. Pengalaman orang lain mungkin menghadirkan konteks yang tak pernah kita alami. Dan informasi yang berbeda tidak berarti salah. Bisa jadi ia sedang melengkapi bagian yang belum kita ketahui.

Karena itu, kedewasaan berpikir bukan ditandai oleh seberapa cepat kita menentukan kesalahan orang lain. Tetapi oleh kesediaan untuk berkata; ”Mungkin ada sesuatu yang belum saya lihat”.

Kalimat sederhana itu membutuhkan kerendahan hati. Dan dari sanalah pemikiran tumbuh.

Mari belajar untuk tidak terburu-buru menghakimi. Jangan hanya bertanya siapa yang benar? Sesekali tanyakan pula: Apa yang belum saya ketahui?
Apa yang belum saya lihat? Apakah saya sudah memahami konteksnya?

Sebab, dalam kehidupan sering kali kita bukan kekurangan informasi—kita terlalu cepat mengambil kesimpulan dari informasi yang terbatas.

Maka, ketika berhadapan dengan sebuah peristiwa, mari melihat lebih utuh. Ketika mendengar sebuah cerita, mari dengarkan lebih lengkap. Ketika menerima sebuah informasi, mari periksa lebih detail.

Dan ketika menemukan perbedaan pandangan, jangan buru-buru membangun tembok. Bisa jadi, perbedaan itu sedang membuka jendela agar kita melihat dunia dengan lebih luas.

Karena tidak semua yang berbeda itu salah. Tidak semua yang kita yakini itu lengkap. Dan tidak semua yang kita lihat seluruhan kebenaran.

Barangkali kita hanya perlu berjalan sedikit lebih jauh, bergeser sedikit dari tempat kita berdiri, lalu melihat kembali.

Mungkin saat itulah kita sadar: Kita sedang melihat kerbau yang sama. Hanya saja, selama ini kita berdiri di sisi yang berbeda.

Dari sana, kita belajar satu hal penting: Bukan selalu tantang siapa yang paling benar, tetapi tentang bagaimana kita bersama-sama mendekati kebenaran dengan pikiran yang terbuka, hati yang tenang, dan sikap yang bijaksana.

Barangkali permasalahan terbesar dalam banyak perdebatan bukan karena kita berbeda dalam melihat kenyataan, melainkan karena kita lupa bahwa kita mungkin sedang melihat kerbau yang sama—hanya dari sisi yang berbeda.

Jangan jadikan sudut pandang sebagai alasan yang paling benar. Perluas pandangan, lengkapi informasi, lalu simpulkan dengan bijaksana.


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp