Dendam Manis Pria Yang Terusir

Oleh: Hendri Chaniago.
Kamis: 08:10:2026.

Nasib orang siapa yang tahu.

Kaya raya. Lalu melarat dalam semalam. Terusir pula dari tanah lahir sendiri.

Kalau itu terjadi pada kita, mungkin kita sudah frustrasi. Mengurung diri di kamar. Atau sibuk merutuki takdir di media sosial.

Tapi tidak bagi Adrian Willem Lauw Zecha. Atau yang lebih dikenal dengan Adrian Zecha.

Lahir di Sukabumi, 1933. Dia bukan orang sembarangan. Keluarganya tuan tanah kaya raya. Terpandang di era Hindia Belanda.

Tapi politik itu kejam.

Akhir tahun 1950-an, angin politik berembus kencang. Pemerintah menasionalisasi aset asing dan pengusaha kelas atas. Dalam sekejap, harta keluarganya ludes. Habis.

Mereka terpaksa angkat kaki dari Indonesia. Mengungsi ke Singapura.

Saat itu Zecha sedang di Amerika. Dia tidak lagi punya sandaran harta keluarga. Dia harus cari makan sendiri.

Lalu dia memilih jalan ini: jadi wartawan majalah Time.

Menjadi jurnalis membuatnya sering keliling dunia. Dia memegang kamera. Mengalungkan kartu pers. Menulis kisah orang-orang besar. Dari situ dia belajar satu hal penting: cara orang-orang kaya dunia menikmati hidup.

Zecha tidak selamanya jadi jurnalis. Dia putar otak. Merambah bisnis media. Lalu berani masuk ke bisnis perhotelan.

Tahun 1970-an, dia ikut mendirikan Regent International Hotels. Sukses besar. Tapi jiwanya belum puas.

Awalnya simpel saja. Dia hanya ingin bikin rumah liburan pribadi di Phuket, Thailand. Tapi begitu melihat pemandangannya yang sepi dan tenang, naluri bisnisnya langsung bergetar.

Dia memutuskan untuk membuat resor di sana. Maka berdirilah Amanpuri pada tahun 1988. Artinya: Tempat Kedamaian. Inilah cikal bakal Aman Resorts. Jaringan hotel paling eksklusif di muka bumi.

Di zaman itu, hotel bintang lima identik dengan gedung jangkung. Megah. Lampu kristal bergelayutan. Ramai. Berisik.

Zecha justru bikin yang sebaliknya.

Resornya kecil. Kamarnya sedikit, biasanya tak sampai 40 unit. Tidak ada meja resepsionis kaku. Tidak ada kemewahan yang norak dan berteriak-teriak.

Yang dia jual cuma tiga hal: privasi, ketenangan, dan pelayanan tanpa cela.

Hasilnya luar biasa. Orang kaya sejagat malah ketagihan. Artis Hollywood, raja-raja, hingga miliarder dunia mengantre demi bisa menginap di sana. Mereka sampai menjuluki diri sebagai Amanjunkies—para pecandu hotel Aman.

Pelajaran dari Zecha sebenarnya sederhana saja. Hidup itu seperti roda. Kadang di atas, tiba-tiba dihempas ke bawah sampai babak belur. Tapi kehilangan harta bukan akhir cerita.

Zecha kehilangan segalanya di tanah air. Tapi dia membawa satu hal yang tidak bisa disita siapa pun: pengalaman, kecerdikan, dan keberanian.

Dia tidak meratapi nasib sebagai korban politik. Dia malah mendefinisikan ulang cara orang kaya dunia menghabiskan uangnya.

Saat kita merasa sedang jatuh, tidak punya apa-apa, atau terasing… ingatlah cerita pria asal Sukabumi ini.

Untuk bisa membangun tempat paling damai di dunia, seseorang terkadang harus melewati badai yang paling dahsyat lebih dulu. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp