Ketika Perbedaan Berbuah Jadi Perpecahan

Oleh : Marwan Yohanes

Ada satu hal sebenarnya sangat sehat dalam kehidupan masyarakat: perbedaan. Kita berbeda pilihan politik. Berbeda pandangan. Berbeda kepentingan. Berbeda cara melihat masa depan. Itu bukan masalah.

Masalah muncul ketika perbedaan tidak lagi menjadi ruang dialog, tetapi berubah menjadi alasan untuk saling meniadakan. Kita harus jujur mengatakan bahwa salah satu pekerjaan rumah Kuantan Singingi bukan hanya pembangunan fisik. Tetapi juga membangun kedewasaan sosial dan politik.

Terlalu sering kita melihat perbedaan pilihan politik membawa ke dalam hubungan sosial. Orang yang berbeda pilihan dianggap lawan. Yang berbeda pendapat dicurigai. Yang mengkritik dianggap membenci. Yang memberi pujian dianggap cari muka. Akibatnya, ruang publik kita kehilangan sesuatu yang sangat penting: kepercayaan.

Padahal demokrasi tidak pernah menjanjikan semua orang akan memiliki pilihan yang sama. Demokrasi justru dibangun atas kesadaran bahwa manusia boleh berbeda. Yang tidak boleh berbeda adalah komitmen kita terhadap kepentingan daerah.

Hari ini kita bisa berbeda di kelompok yang berbeda. Besok keadaan bisa berubah. Jabatan boleh berganti. Partai berganti. Tetapi Kuantan Singingi tetap ada. Karena itu jangan wariskan kepada anak-anak kita budaya politik yang hanya mengenal ”kawan” dan ”lawan”.

Wariskan kepada mereka budaya politik yang mengenal gagasan dan kepentingan rakyat. Kita membutuhkan politik yang berdebat keras di ruang sidang, tetapi tetap bisa duduk bersama setelahnya. Kita membutuhkan politisi yang saling mengkritik, tetapi tidak saling membenci. Kita membutuhkan masyarakat yang berani mengawasi kekuasaan tanpa harus menghina orang yang sedang memegang kekuasaan. Dan kita membutuhkan pemerintah yang tidak alergi terhadap kritik. Sebab kritik bukan musuh pembangunan.

Kritik yang sehat adalah sistem peringatan dini. Pemerintah yang tidak pernah di kritik bukan selalu berarti pemerintahannya sempurna. Bisa jadi masyarakatnya sudah lelah berbicara. Sebaliknya, masyarakat yang terus mengkritik juga belum tentu selalu benar. Karena itu yang kita perlukan bukan sekedar kritik.

Kita membutuhkan dialog. Kuantan Singingi tidak akan menjadi hebat karena semua orang sepakat pada satu orang. Kuantan Singingi akan menjadi hebat ketika banyak orang yang berbeda mampu sepakat pada satu tujuan.

Tujuan itu sederhana. Rakyat hidup lebih baik. Anak-anak mendapatkan masa depan. Sumber daya alam dikelola dengan adil. Budaya tetap hidup. Hukum dihormati. Pemerintahan dipercaya. Dan konflik tidak diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya: “Dia orang siapa?” Dan mulai bertanya: “Apa gagasannya untuk Kuantan Singingi?” Berhenti bertanya: “Dia mendukung siapa?” Dan mulai bertanya: “Apa yang bisa kita kerjakan bersama?”

Karena pada akhirnya sejarah tidak akan bertanya siapa yang paling keras berteriak. Sejarah akan bertanya: Apa yang telah kita tinggalkan kepada generasi setelah kita?

Di usia 27 tahun ini, mari kita belajar satu hal: Bermusuhan itu pilihan. Dan pilihan itu masih bisa kita ubah.

Bersambung….


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp