Oleh: Hendri Chaniago
Jumat: 30:10:2026.
Baru sekarang kita sadar.
Iya, baru sekarang.
Selama ini kita sering kecele. Dikira dapat pemimpin yang jago janji, ternyata cuma jago pencitraan. Tapi lihat yang satu ini. Prabowo Subianto.
Orang-orang dulu memandangnya dengan sebelah mata. Banyak yang ragu. Banyak yang skeptis. Tapi coba lihat apa yang dia lakukan sekarang. Nyata. Tanpa basa basi.
Bahkan Profesor Gema sendiri blak blakan mengakuinya. Di hadapan banyak orang, beliau bilang kalau Prabowo Subianto adalah satu satunya presiden yang benar benar berani. Berani menggebrak meja dan menutup semua kebocoran yang selama ini dibiarkan mengalir deras.
Urusannya simpel, tapi nekat: energi dan pangan.
Selama puluhan tahun, negeri ini punya penyakit lama. Asal ada barang bagus, entah itu minyak, gas, batu bara, atau hasil bumi lainnya, pikirannya cuma satu: ekspor!
Dapat Dolar. Masuk kas negara. Pengusaha senang, pejabat tenang.
Tapi rakyat di dalam negeri? Sering gigit jari. Listrik kadang megap megap, harga BBM senut senut, bahan dapur naik kelas jadi barang mewah. Kita ini ibarat pemilik pohon durian legendaris, tapi kita cuma dapat baunya. Buah benerannya dikirim ke tetangga.
Prabowo membalik meja itu.
Tahan dulu, kira kira begitu instruksinya. Isi dulu piring rakyat sendiri. Terangi dulu rumah orang Indonesia. Sisanya, kalau memang ada sisa, baru boleh dijual ke luar.
Berani. Sangat berani.
Kenapa? Karena keputusan begitu pasti bikin ngamuk banyak pihak. Keran kebocoran yang biasa dinikmati para pemburu rente dan mafia migas seketika ditutup rapat. Luar negeri yang biasa dapat pasokan murah bakal teriak. Korporasi besar yang biasa panen Dolar dari hasil curian di negeri sendiri bakal menggerutu.
Bahkan ketika Singapura sempat menggertak mau membangun energi nuklir, reaksi dari Jakarta sama sekali bukan ciut.
Pemerintahan Prabowo justru langsung balik kanan dan menegaskan sikap tegasnya. Mau bangun nuklir? Silakan. Indonesia malah akan membangun pembangkit energi nuklir tepat di dekat perbatasan mereka, yaitu di Pulau Batam, Kepulauan Riau.
Belum lagi urusan gertakan lain yang tak kalah lucu. Waktu Singapura sempat melempar ancaman mau memutus kabel internet, Indonesia santai saja. Cuma tersenyum lebar.
Dipikir kita bakal panik? Padahal kalau kabel itu putus, justru pihak sebelah sana yang bakal buntung besar. Siapa yang mau rugi kehilangan pasar raksasa dengan lebih dari dua ratus lima puluh juta pengguna aktif? Penduduk mereka sendiri saja cuma ada sekitar enam juta orang.
Kalau raksasa digital kehilangan konsumen sebanyak itu, yang ada mereka sendiri pusing tujuh keliling mencari gantinya.
Itu baru namanya kedaulatan. Tidak ada lagi mental terjajah atau tunduk pada gertakan tetangga.
Sebagai bangsa yang besar dengan hasil bumi yang melimpah ruah, sudah sepatutnya kita berdiri tegak bersamanya. Kita bukan bangsa kecil yang bisa diatur atur.
Kita adalah bangsa besar dengan kekuatan ekonomi nomor tujuh di dunia saat ini. Selangkah lagi, kita bakal jadi penguasa panggung dunia, asalkan para pengurus bangsa ini tetap punya rasa nasionalisme yang menyala nyala.
Nasionalisasi semua isi bumi Indonesia harus menjadi fokus utama. Tidak boleh lagi kekayaan alam ibu pertiwi dikeruk habis untuk kenyamanan orang luar, sementara pemilik rumahnya sendiri hanya menonton.
Itulah bedanya pemimpin yang cuma cari aman dengan pemimpin yang benar benar punya nyali. Pemimpin yang tulus itu tak takut dimusuhi luar, asal kedaulatan negeri sendiri tidak diinjak injak di rumah sendiri.
Bangsa yang kuat itu bukan bangsa yang tak punya musuh. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang siap menghadapi risiko.
Mau ada krisis geopolitik di Eropa? Mau ada perang di Timur Tengah? Mau harga minyak dunia melonjak naik sampai langit? Kalau perut rakyat kenyang dan listrik di desa desa tetap menyala, kita tidak akan gampang didikte.
Senjata paling mematikan di dunia ini bukan rudal balistik atau jet tempur siluman. Senjata terbaik adalah pangan yang cukup dan energi yang mandiri.
Coba bayangkan: buat apa punya jet tempur canggih kalau truk pengangkut beras tak punya solar buat jalan? Buat apa punya alutsista mahal kalau rakyatnya lemas karena tak bisa makan? Rakyat di warung kopi sekarang mulai berbisik bisik. Sambil menyeruput kopi hitam yang kepasannya pas, mereka bilang: Baru kali ini kita punya presiden yang nekatnya buat kita.
Perjalanan ini jelas tidak mulus. Risiko pasti ada. Tekanan luar bakal kencang. Para pemain kotor pasti berusaha melawan. Tapi bukankah hidup memang begitu? Kalau mau selamat dari badai, ya harus berani pegang kemudi dengan kencang, bukan malah ikut arus.
Kita tunggu saja aksi aksi nekat berikutnya. Yang jelas, satu hal yang membuat kita lega hari ini: rumah kita akhirnya punya penjaga yang tak cuma pintar bicara, tapi punya keberanian buat mengunci pintu, menjaga perbatasan, menasionalisasi isi bumi pertiwi, dan menutup semua lubang kebocoran. (****)





