Dapur Bisnis Sepasang Mantan Banker

Oleh: Hendri Chaniago.
Rabu: 26:08:2026.


Modal itu penting. Tapi modal bukan segala-galanya. Logikanya sederhana, kalau modal nomor satu, semua mantan pegawai bank tentu sudah otomatis jadi konglomerat.

Kenyataannya tidak begitu. Lihat saja perjalanan Selpi Keswita. Perempuan Kuansing satu ini paham betul lika-likunya. Dia pernah lama berkarier di bank. Setiap hari bergulat dengan angka. Mengurus kredit nasabah. Menghitung bunga, arus kas, hingga nilai jaminan. Urusan hitung-hitungan uang, dia sudah sangat paham.

Namun dunia di balik meja bank dan realitas usaha di lapangan itu dua hal yang amat berbeda.

Menariknya, urusan “kemurtadan” dari dunia perbankan ini tidak dilakoni Selpi sendirian. Ada teman sehaluan yang selalu di sisinya: sang suami.

Kisah cinta mereka terbilang awet. Sudah terjalin sejak zaman kuliah di Jogja. Dari masa-masa jadi mahasiswa di Kota Gudeg, berlanjut ke pelaminan, hingga sama-sama pernah mencicipi dinginnya ruang AC perbankan. Kini sang suami pun ikut membanting setir ke dunia wirausaha, menekuni bisnis di bidang konstruksi.

Jadilah pasangan ini duet mantan banker yang sama-sama memilih jalur berdarah-darah di lapangan.

Sekarang, Selpi mengabdi sebagai ASN di Kuansing. Aparatur Sipil Negara. Posisinya bukan pejabat tinggi. Biasa saja. Jam kerja teratur, gaji aman saban bulan. Namun insting bisnisnya tidak pernah bisa ditidurkan.

Kepalanya terus berputar, selalu melihat peluang di sekitar. Urusan jatuh bangun, dia sudah kenyang.
Selpi pernah mendirikan usaha, lalu roboh. Bangun lagi, jatuh lagi. Rasa sakit dan kerugian finansial sudah menjadi teman perjalanan.

Bagi orang yang bermental tipis, sekali jatuh tentu langsung kapok. Pilih balik kanan dan memilih duduk nyaman menikmati status ASN sampai pensiun.

Tapi Selpi bukan tipe seperti itu. Kena pukul, dia mengusap keringat, lalu berdiri kembali.

Dalam satu kesempatan, Selpi pernah mengutip petuah pengusaha ternama dunia, Ray Kroc — sosok di balik besarnya imperium McDonald’s. Selpi menirukan salah satu kalimat yang paling menginspirasi langkahnya dalam berbisnis:

“Jika Anda bertindak hanya untuk uang, Anda tidak akan pernah berhasil. Tetapi jika Anda menyukai apa yang Anda kerjakan dan selalu mengutamakan pelanggan, kesuksesan akan menjadi milik Anda.”

Bagi Selpi, bekas luka di dunia bisnis bukanlah sebuah aib, melainkan ijazah kehidupan. Sebuah pelajaran mahal yang tidak pernah diajarkan di bangku kuliah maupun pelatihan perbankan.

Kini, buah ketangguhannya mulai terlihat nyata. Di sektor pertanian, berdiri brand KS Garden. Bukan sekadar gagah-gagahan nama, melainkan ada tanah yang diolah dan keringat yang dicurahkan secara langsung.

Langkahnya terus berlanjut ke peternakan ayam. Seorang mantan pegawai bank mengurus peternakan menjadi pemandangan yang menarik.

Ayam tidak paham istilah financial ratio. Ayam hanya butuh pakan yang cukup dan lingkungan yang sehat. Ketika kendala timbul, teori perbankan tidak lagi berlaku.

Yang menentukan adalah ketelitian, ketelatenan, serta keberanian menanggung risiko. Dan Selpi menikmati dinamika kerja di lapangan itu sama nikmatnya dengan mencium aroma uang kertas baru.

Insting usahanya kini menuntun ke arah baru, yaitu dunia ritel. Lokasi yang disasar bukan pusat kota yang sudah penuh sesak persaingan, melainkan kawasan Seberang Cengar di Kecamatan Kuantan Mudik.

Di sana, dia tengah menyiapkan sebuah minimarket. Pilihan lokasi itu lahir dari ketajaman membaca peluang. Orang luar mungkin melihat Seberang Cengar sebagai wilayah biasa.

Namun bagi orang berketerampilan bisnis tajam, di sana ada denyut ekonomi yang membutuhkan layanan ritel modern, bersih, dan lengkap.

Selpi punya alasan kuat di balik keputusan ini. “Saya ingin mencontoh ritel modern itu,” ujarnya mantap. Dia melihat bagaimana standar pelayanan, kerapian penataan barang, dan kenyamanan berbelanja bisa dihadirkan untuk masyarakat lokal.

Perjalanan ini tentu tidak dijamin akan selalu mulus tanpa hambatan. Bisnis selalu punya cara untuk menghadirkan kejutan. Namun Selpi sudah terbiasa dengan ritmenya. Jika rugi dievaluasi, jika untung disyukuri dan dikembangkan lebih jauh lagi.

Perjalanan Selpi Keswita menegaskan satu hal penting: modal finansial memang membuka pintu awal, namun mental juanglah yang menentukan seberapa jauh seseorang itu melangkah.

Seorang ASN yang tetap memelihara taji wirausahanya. Mantan banker yang tidak ragu terjun langsung ke ladang dan peternakan, beriringan dengan suami yang juga bertarung di dunia konstruksi.

Itulah sosok Selpi. Dia tidak menunggu kondisi sempurna untuk melangkah, melainkan langsung memulai dan menyempurnakannya di sepanjang jalan.

Pada akhirnya, kisah bisnis yang paling berkesan bukanlah saat menerima hasil di akhir tahun, melainkan saat mengenang betapa gigihnya perjuangan untuk bangkit dari masa-masa sulit. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp