Balik ke Kampus

Oleh: Hendri Chaniago
Sabtu: 29:08:2026

Per 1 September 2026 nanti, nama Dr. Trian Zulhadi tak lagi menghiasi papan struktur Pemkab Kuansing. Selesai.

​”Mulai 1 September mendatang saya sudah balik ke kampus,” katanya ringkas.

​Kalimatnya pendek, tapi menegaskan satu hal: birokrasi yang bising, rapat yang tak habis-habis, hingga urusan berkas yang menggunung, resmi dia tinggalkan. Trian pulang. Kembali ke “rumah” aslinya: Universitas Islam Negeri Riau. Mengajar lagi. Jadi dosen lagi.

​Kalau dipikir-pikir, perjalanan Trian di Kuansing ini ibarat pelaut yang ketagihan ombak. Sederet jabatan mentereng pernah dia pegang. Bukan jabatan kaleng-kaleng. Dia pernah jadi Kepala Bappeda. Otak perencanaan daerah ada di kepalanya. Pernah juga menjabat Kadiskes.

​Mengurusi kesehatan orang banyak. Lalu naik jadi Asisten II, mengawal roda ekonomi dan pembangunan. Terakhir, dia bertugas sebagai Staf Ahli Bupati Bidang Hukum dan Pemerintahan. Lengkap. Dari urusan cetak biru anggaran, pelayanan medis, sampai urusan pasal-pasal hukum, semua sudah dia selami.

​Tapi begitulah birokrasi. Kadang dinamis, kadang bikin mengelus dada. Dan bagi seorang akademisi murni, rindu ruang kelas memang tak bisa dilawan. Latar belakang Trian ini memang linear. Tegak lurus. S1, S2, sampai S3, semuanya Ilmu Ekonomi Pembangunan. Gelarnya berderet: Dr. Trian Zulhadi, S.E., M.Ec.

​Bukan cuma itu. “Senjata” utamanya adalah ekonometrika.

​Bagi orang awam, ekonometrika itu istilah yang bikin dahi berkerut. Tapi ringkasnya begini: itu ilmu menggabungkan teori ekonomi, matematika, dan statistik. Alat untuk membedah data angka menjadi arah kebijakan yang presisi.

​Maka tak heran, begitu kakinya melangkah kembali ke kampus Islam negeri di Riau itu, kapasitasnya langsung terpakai. Trian tak cuma mengajar mahasiswa S1 atau S2. Dia juga dipercaya jadi penguji eksternal untuk sidang disertasi doktor.

​Membayangkan Trian menguji calon doktor itu sangat menarik. Di depan meja ujian, dia bukan cuma dosen yang jago teori regresi atau rumus statistik. Dia adalah mantan pejabat yang paham betul pahit-manisnya mengeksekusi anggaran di lapangan.

​Dia tahu bedanya teori di atas kertas dengan realitas di meja birokrasi. Kalau ada promovendus yang teorinya ketinggian tapi mentok di praktik, Trian pasti cuma senyum-senyum tipis sambil membatin:

“Teorimu bagus, Mas. Tapi coba terapkan di lapangan, pusingmu dua minggu.”

​Bagi UIN Riau, kembalinya Trian adalah berkah. Bagi mahasiswa, mereka dapat dosen yang kenyang asam garam. Dan bagi Trian sendiri, ini murni soal panggilan jiwa.

​Selamat kembali ke kampus, Pak Dok. Selamat bergelut lagi dengan spidol, papan tulis, dan ujian mahasiswa. Jalanan birokrasi boleh berdebu, tapi ruang kelas selalu punya cara untuk menjaga pikiran tetap jernih. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp