Ditulis Oleh : Asikin Chalifah
Berkesempatan mengikuti zoom meeting dengan nara sumber Prof.Bintoro beberapa waktu lalu. Beliau mantan dosen IPB yang sudah malang melintang menggeluti soal sagu. Tema zoom meeting yang diinisiasi oleh Gamal Institute memang seputar potensi sagu di Indonesia.
Dengan potensi lahan/hutan sagu seluas 5,5 juta hektar (eksisting 1,2-1,5 juta hektar), Indonesia menjadi penghasil sagu terbesar di dunia. Sebagian besar berada di wilayah Indonesia timur seperti di Papua, Maluku dan Maluku Utara, selebihnya dalam luasan terbatas berada di Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera seperti di Riau, Jambi dan Sumatera Selatan. Sagu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lahan gambut, rawa dan pasir.
Olahan sagu seperti “papeda” selama ini sudah menjadi makanan utama masyarakat di Papua, Maluku dan Maluku Utara. Di daerah lain, dibuat mie dan aneka ragam kue. Bahkan mie sagu yang dibuat secara pabrikasi di Bangka, sudah dipasarkan ke luar negeri. Seperti halnya di Meranti, Riau, sudah lama mengekspor tepung sagu ke beberapa negara.
Tidak mengherankan jika tersiar kabar bahwa otoritas pangan dunia menaruh harapan besar pada “beras sagu” dari Indonesia untuk mengatasi kondisi rawan pangan global.
Kendatipun demikian, di Indonesia sendiri penerapan program penganekaragaman pangan (non beras dan tepung terigu) yang berbasiskan pada potensi sumber daya pangan lokal belum optimal. Meskipun konsumsi beras memperlihatkan kecenderungan yang menurun (92,9 kilogram/kapita/tahun), akan tetapi impor gandum dan maslin masih tinggi (10,84 uta ton/tahun, 2025). Nilai Pola Pangan Harapan (PPH) juga sudah terbilang tinggi dan dapat dimaknai kalau konsumsi pangan masyarakat Indonesia semakin beragam, baik terkait dengan sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral.
Terdapat beberapa alasan mengapa program diversifikasi pangan belum optimal, diantaranya adalah :
▪︎ Olahan pangan lokal sebagai pangan alternatip diproduksi dalam jumlah terbatas sehingga harga jual lebih mahal. Berbeda jika diproduksi dalam skala besar (industri) dan sekaligus mudah diakses seperti halnya beras. Semisal “beras analog” dan mie dari MOCAF serta porang, sukun dan ubi-ubian lain sebagaian besar diproduksi dalam skala rumah tangga atau pelaku usaha mikro.
▪︎ Penerapan program diversifikasi pangan seperti kampanye/gerakan one day no rice sejauh ini masih bersifat seremonial, kendatipun pernah dilakukan kemitraan usaha dengan pihak hotel, restoran dan kantin (HOREKA).
▪︎ Kebijakan diversifikasi pangan terutama untuk substitusi sumber karbohidrat belum mengkaitkan dengan potensi sagu, porang dan sukun, sumber karbohidrat baru sebatas dari biji-bijian non beras (jagung dan cantel) dan ubi-ubian (singkong dan ketela rambat).
Perlu penguatan kembali kegiatan edukasi, sosialisasi, kampanye dan gerakan yang melibatkan multi pihak dalam penerapan diversifikasi pangan ternasuk peningkatan kegiatan uji preferensi beragam olahan pangan lokal.
KASONGAN, Bantul, DIY, 26 Agustus 2026
》Ketua DPW PERHIPTANI DIY
》Komisi Teknis OKKPD DIY
》Koordinator Penderasan Informasi dan Materi Pembangunan Pertanian Wilayah DIY dan Jawa Tengah.





