Viral Dulu, Baca Belakangan

Oleh: Hendri Chaniago.
Minggu: 30:08:2026.

Spanduknya membentang lebar. Suaranya lantang. Orasinya berapi-api.

Inti tuntutannya cuma satu: sahkan RUU Perampasan Aset! Sekarang juga! Jangan ditunda lagi!

Mantap. Keren. Terasa sangat herois di media sosial. Foto-fotonya dapat. Video pendeknya tembus jutaan views. FYP di mana-mana. Namun coba berhenti sejenak. Sambil menyeruput kopi hitam yang mulai dingin. Lalu tengok fakta yang beredar di lapangan.

Sebagian besar orang belum membaca draf RUU-nya. Banyak yang sekadar ikut berteriak, tanpa pernah menyentuh naskahnya sama sekali. Yang penting disahkan dulu.

Agak ajaib.

Ini ibarat ngotot setengah mati minta dibelikan mobil baru. Mereknya keren. Namanya gagah. Soal mesinnya pakai apa, remnya blong atau tidak, kuncinya ada di siapa, itu urusan belakangan. Pokok’e beli.

Ini produk hukum. Ini soal pasal-pasal. Titik koma di sana menentukan nasib orang. Bisa jadi alat sikat koruptor, yang memang kita impikan setengah mati. Tapi kalau rumusannya keliru, bisa juga jadi alat gebuk yang sewenang-wenang.

Masalah utamanya jelas. Draf resminya saja belum dibuka terang-benderang ke meja publik. DPR belum menggelarnya secara terbuka. Kita belum tahu naskah pasti yang sedang mereka utak-atik. Tapi di jalanan, genderang sudah ditabuh keras sekali.

Seharusnya, tuntutan perubahan itu lahir dari meja kajian. Dari debat intelektual yang bernas. Ada data. Ada pembedahan pasal. Ada argumentasi hukum yang tajam.

Sayang sekali, logika hari ini sering terbalik. Prinsipnya berubah jadi sederhana: Pokok’e! Pokok’e sahkan. Pokok’e dukung. Pokok’e rame.

Kalau sudah masuk hukum pokok’e, akal sehat biasanya mampir ke kamar mandi sebentar. Lalu lupa jalan kembali.

Tapi ya sudahlah. Zaman memang sudah berubah.

Di era layar sentuh ini, kedalaman substansi sering kalah cepat dibanding jempol yang mengetik kata “Viral”. Yang penting masuk FYP. Yang penting dapat like. Soal isi drafnya seperti apa, itu urusan nanti. Atau mungkin, dianggap tidak penting sama sekali.

Kopi saya mendadak terasa makin pahit. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp