Karat Dalam Kepala

Oleh: Hendri Chaniago.
Rabu: 2:08:2026.

Besi itu kuat. Bisa buat jembatan. Bisa buat gedung bertingkat. Tapi besi punya musuh bebuyutan. Bukan palu. Bukan gergaji.Musuhnya adalah dirinya sendiri. Karat.

Karat itu datang diam diam. Bikin keropos dari dalam. Lama lama, besi paling keras pun hancur jadi debu. Cuma gara gara karat yang dibiarkan menempel.

Manusia juga sama. Bedanya, karat manusia itu ada di kepala. Namanya overthinking. Berpikir berlebihan.

Coba ingat ingat. Jam satu malam. Lampu kamar sudah mati. Badan sudah di atas kasur. Tapi pikiran malah keluyuran sampai jauh.

Mikirin cicilan. Mikirin omongan tetangga. Mikirin hal buruk yang belum tentu terjadi, bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi.

Capek. Banget. Pagi pagi bangun, mata sepet, dada sesak. Padahal belum perang sama siapa siapa. Cuma perang sama pikiran sendiri.

Kita ini sering aneh. Belum apa apa sudah bikin skenario kiamat versi pribadi. Mengutak atik hal yang belum terjadi, sampai lupa menikmati kopi yang sedang hangat hangatnya di depan mata. Padahal, untuk apa terlalu cemas.

Tenang. Cerita hidupmu itu bukan barang rakitan yang serba kebetulan. Sudah ada yang mengatur. Sudah ditulis rapi oleh Penulis Skenario Terbaik.

Kalau alurnya lagi agak meliuk, ya ikuti saja. Kalau lagi ada babak sedih, sedihlah sebentar. Nanti juga ada babak yang bikin senyum senyum sendiri. Tiap adegan ada maksudnya.

Jadi, matikan mesin pusing di kepala itu. Lempar jauh jauh rasa cemas yang tidak perlu.

Tugas kita cuma satu, jalani hari ini sebaik baiknya. Soal besok, biarkan Penulis Skenario yang menyelesaikan cerita Nya.

Seruput kopimu. Tarik napas. Hidup ini terlalu indah kalau cuma habis buat mikir yang enggak enggak. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp