Jangan Cuma Nonton Ributnya, Lihat Untungnya!

Ditulis Oleh : Hendrianto
Jumat, 4 September 2026

Di Balik Ribut-Ribut Polda Sitanggang vs Dt Darwis: Bikin Penasaran, Akhirnya Bikin Haru. Drama sudah selesai.

Dua-duanya sudah bersalaman hangat di Polres Kuansing. Baju kotak-kotak bertemu baju putih. Senyum lebar terkembang, sepakat damai lewat jalur Keadilan Restoratif. Beres.

Suasana yang kemarin sempat panas membara, mendadak adem seketika.

Tapi coba kita tarik napas dulu. Duduk santai, seruput kopi hitam hangat, ditemani sepotong gorengan.

Mari kita lihat kejadian kemarin dari sudut pandang yang sedikit “nakal”. Bukan soal siapa salah dan siapa benar, bukan pula soal pasal Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik yang sempat membuat tegang. Biarlah itu jadi urusan berkas kepolisian yang kini mulai dilipat.

Mari kita bicara soal efek sampingnya.
Bicara tentang Pacu Jalur, ingatan kita pasti melayang ke tahun 2025 lalu. Saat itu, tradisi kebanggaan masyarakat Kuansing ini berhasil mendunia. Gara-gara tren panen pesona di media sosial, mata internasional mendadak tertuju ke Tepian Narosa. Bocah penari di ujung perahu jalur dipuji-puji warganet global. Luar biasa!

Masuk tahun 2026, beda lagi ceritanya. Kali ini giliran Sumatera Utara yang gempar. Pacu Jalur kembali tular di Sumatera Utara lewat jalur yang sama sekali tak terduga: perseteruan Polda Sitanggang vs Dt Darwis.

Selama beberapa minggu, susunan rumus algoritma aplikasi pemutar video, jejaring foto, hingga grup WhatsApp bapak-bapak isinya cuma dua nama itu. Ada intrik, emosi, dan ucapan-ucapan yang—ya harus diakui—memang tidak pantas dan menyakitkan hati.

Di sinilah fenomena psikologi massa bekerja: amarah latah tirani mayoritas. Frasa ini menggambarkan kondisi ketika massa bertindak emosional, ikut-ikutan, dan sewenang-wenang.

Amarah melambangkan emosi meluap-luap; latah adalah kebiasaan meniru tanpa berpikir jernih; sedangkan tirani mayoritas adalah penggunaan kekuatan jumlah massa untuk membungkam atau menindas pihak lain.

Dalam kasus perseteruan ini, ruang digital mendadak menjelma menjadi arena persekusi massal dan budaya pemboikotan. Begitu sepotong video memicu kejengkelan bersama, ribuan warganet secara latah ikut menyerang.

Nalar sehat individu menguap, larut dalam gelombang amarah publik yang bertindak sebagai “hakim garis” paling galak se-Indonesia.

Gaya lama: umpan amarah—memancing amarah publik demi meraih perhatian.

Tapi lihat bagian endingnya.

Begitu ketegangan berada di puncak dan perhatian jutaan pasang mata tertuju ke sana, daya tariknya mendadak bergeser. Orang-orang tidak lagi cuma menonton percekcokannya. Kolom pencarian mulai ramai oleh kata kunci lokasi Kuansing, megahnya Festival Pacu Jalur, hingga keunikan adat di Samosir.

BOOM!

Panggung yang tadinya disiapkan sebagai arena ring tinju digital mendadak berubah menjadi etalase kebudayaan Nusantara. Kemarahan massal yang tadinya membara, dalam sekejap meleleh begitu menyaksikan momen perdamaian kembali.

Dua suku besar dan dua wilayah dengan kekayaan adat luar biasa—Danau Toba dengan keanggunan Samosir-nya, serta Riau dengan kemegahan tradisi Kuansing-nya—tersaji gratis di layar kaca jutaan orang.

Dampak perhatian publik ini bahkan sudah setara dengan kampanye pariwisata skala besar.

Bayangkan jika momen perdamaian ini berlanjut lebih jauh: berdiri reklame raksasa Festival Pacu Jalur di tepi Danau Toba, berdampingan dengan promosi keindahan Samosir. Perahu Jalur khas Kuansing menyapa tenangnya air Toba. Dua ikon wisata besar Sumatera saling sapa dalam satu panggung visual.

Jika promosi semacam ini dirancang oleh agensi pemasaran digital papan atas, biayanya bisa menembus miliaran Rupiah. Harus sewa penyeru pengaruh, buat naskah, bayar iklan, gelar konferensi pers, hingga cetak baliho lintas provinsi.

Namun, ini murni kekuatan alur cerita konflik yang diputarbalikkan menjadi perjumpaan budaya.

Terlepas dari cara penyampaiannya yang sempat kebablasan—dan semoga menjadi pelajaran berharga agar publik tidak mudah tersulut emosi latah saat berselancar di media sosial—kita harus mengakui satu hal: strateginya berhasil. Perhatian publik itu mahal, dan mereka sukses memegangnya.

Masyarakat Indonesia itu unik: mudah tersulut amarah latah, tetapi paling tidak tahan melihat adegan berpelukan sambil meminta maaf. Begitu kata “damai” terucap, sentimen negatif dari tirani mayoritas mendadak berbalik menjadi rasa bangga atas keberagaman Nusantara.

Perseteruannya biarlah jadi kenangan dan pelajaran berinternet. Yang tersisa sekarang adalah rasa penasaran orang-orang untuk datang berkunjung ke Kuansing, atau main-main menyeberang ke Samosir.

Sebuah kelas mahir pemasaran budaya yang dibungkus drama sosial. Agak nyeleneh, sedikit bikin senam jantung, tapi hasilnya luar biasa.
Salut! (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp