Pujian Putin dan Kail Emas Prabowo di Vladivostok

Oleh: Hendri Chaniago.
Selasa: 08:08:2026

Putin itu cerdas. Sangat cerdas.

Di Vladivostok, di panggung forum ekonomi Rusia, dia melempar kalimat yang langsung bikin ruang sidang manggut-manggut. Bagi kita yang di tanah air, terutama yang lagi duduk nyantai sambil seruput kopi hitam, kalimat itu rasanya sungguh cespleng.

Poin Putin sederhana. Tapi telak.

Indonesia itu negara dengan pemeluk agama Islam terbesar di bumi. Sekaligus salah satu raksasa dunia. Kata Putin, siapa pun dan negara mana pun, kalau bikin kebijakan sejagat tapi tidak memperhitungkan Indonesia, ya siap-siap saja gigit jari. Alias kecele.

Pendek kata, jangan anggap sepele Indonesia. Lalu, apa artinya buat kita. Pertama, daya tawar kita melambung. Rusia sadar betul, Indonesia bukan lagi penonton di bangku belakang.

Suara kita makin didengar. Kalau diibaratkan di warung kopi, Indonesia itu bukan lagi pelanggan yang cuma memesan es teh manis di pojokan, tapi sosok yang kalau bicaranya lantang, satu ruangan bakal nengok.

Kedua, ini kemenangan gaya diplomasi kita, yaitu bebas dan aktif. Prabowo datang ke sana bukan untuk jadi anak buah siapa pun. Indonesia tidak masuk kelompok tentara mana pun. Kita berteman dengan negara Barat, tapi juga senyum lebar sama negara Timur.

Kalau bisa dapat pupuk murah, gandum aman, dan penanaman modal energi jalan terus, kenapa harus musuhan. Sikap politik luar negeri kita simpel saja. Berteman itu menguntungkan, bermusuhan cuma bikin pusing.

Tapi Prabowo tidak datang ke sana cuma untuk duduk manis mendengarkan pujian. Di panggung forum itu, beliau membalasnya dengan pidato yang sangat taktis dan faktual.

Prabowo membuka pidatonya dengan mengutip pepatah kuno Rusia: Odin v pole ne voin. Artinya, seorang prajurit tidak akan menang jika berjuang sendirian di medan perang.

Beliau menyambungkannya langsung dengan tradisi gotong royong kita. Pesannya menohok. Di tengah dunia yang makin terbelah, tidak ada negara yang bisa selamat kalau jalan sendiri-sendiri.

Prabowo juga menyinggung fakta arsitektur keuangan dunia. Beliau menegaskan bahwa dunia tidak boleh menggantungkan kelangsungan perbankan dan perdagangannya hanya pada satu sistem saja. Jika satu jalur terganggu, harus ada jalur lain yang tetap hidup agar arus barang dan pangan tidak lumpuh.

Ini bukan untuk menggantikan sistem yang ada, melainkan menjaga kepastian perdagangan dunia.
Soal ekonomi domestik, Prabowo menyampaikan fakta filosofi pembangunannya. Pertumbuhan ekonomi bukan sekadar angka gagah-gagahan di atas kertas, melainkan harus diukur langsung di atas meja makan keluarga biasa.

Apakah anak-anak mendapat makanan bergizi, dan apakah petani bisa mendapatkan pupuk serta menjual hasil panennya dengan harga yang adil.

Tak lupa, Prabowo mendorong percepatan ratifikasi Perjanjian Perdagangan Bebas antara Indonesia dengan Uni Ekonomi Eurasia, serta mengajak pengelola dana investasi Rusia berkolaborasi dengan Danantara Indonesia untuk menggarap sektor energi dan industri.

Mata para pengamat dunia tentu langsung tertuju ke panggung Vladivostok ini. Ishan Tharoor, analis hubungan internasional dari The Washington Post, melihat langkah ini sebagai kecerdikan tingkat tinggi.

Langkah Prabowo memenuhi undangan ke Rusia menunjukkan betapa kuatnya pragmatisme diplomasi Indonesia. Jakarta menegaskan bahwa kepentingan nasionalnya, terutama pangan dan energi, tidak boleh tersandera oleh persaingan blok Barat dan Timur.

Sementara itu, Dr. Alexei Muraviev, guru besar keamanan dan strategi internasional dari Curtin University, meyakini ada udang di balik batu dari sanjungan Putin. Dengan menyebut Indonesia sebagai pilar utama dunia Islam dan kekuatan raksasa, Putin sedang mengirim pesan tegas ke Barat bahwa Rusia tidak terisolasi.

Rangkaian pujian itu adalah langkah terukur Moscow untuk mengunci pengaruh di kawasan Asia Pasifik melalui negara yang paling dihormati di kawasan tersebut.

Pengamat dalam negeri kita juga tidak kalah jeli. Radityo Dharmaputra, pakar hubungan internasional dari Universitas Airlangga, mengingatkan agar kita tidak keburu mabuk kepayang. Sanjungan Putin itu wajar dalam forum internasional, tapi Indonesia harus tetap dingin.

Yang paling penting bagi kita bukanlah seberapa manis kata-kata Putin, melainkan sejauh mana retorika tersebut bisa dikonversi menjadi kesepakatan riil yang menguntungkan ekonomi domestik.

Dapat pujian setinggi langit tentu bikin bangga. Tapi ibarat diberi kail emas, kita yang harus pintar memancingnya. Jangan sampai karena keasyikan disanjung di Timur, tetangga di Barat malah curiga. Cara kita bergaul harus lincah. Seperti menari di atas beling, harus anggun tapi jangan sampai kaki berdarah.

Dunia memang makin riuh. Tapi kalau kita tetap tenang, tahu posisi, dan pintar memanfaatkan keadaan, Indonesia bisa makin diperhitungkan.

Langkah ini sungguh pas untuk terus dibahas sambil nambah kopi gelas kedua. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp