Ramalan Mbak Selvi

Oleh: Hendri Chaniago.
Minggu: 13:09:2026.

Komentar itu masuk di akun Facebook saya. Pendek. Tapi menusuk.

Penulisnya bernama Selvi Widya.
Saya baca berulang-ulang. Sambil menyeruput kopi yang mulai dingin, saya membatin bahwa netizen ini sungguh pinter membaca peta.

Bahasanya sederhana. Tanpa istilah tinggi-tinggi. Tapi isinya seperti kompas politik Kuantan Singingi untuk sepuluh tahun ke depan.

Perhatikan alur kalimat yang dituliskannya.

Dahulu, sepuluh tahun Pak Sukarmis berkuasa. Rakyat mulai jenuh dan menginginkan suasana baru. Maka lahir pasangan Mursini-Halim. Menangnya tipis sekali, bahkan mungkin tak sampai hitungan satu TPS dari pasangan yang didukung Pak Sukarmis.

Namun alur sejarah mencatat hal lain.
Baru berjalan sebentar, rakyat kecewa lagi karena hasilnya ternyata tak lebih memuaskan dari yang lama.

Maka pendulum politik berayun balik. Andi Putra menang telak dan Golkar bangkit lagi. Namun takdir punya cerita lain. Nasib kurang beruntung membawa Suhardiman Amby naik panggung jadi bupati.

Awalnya gagah. Lalu terpilih kembali. Tapi di tengah jalan, banyak yang merasa tersisih. Ada rasa terzalimi. Sampai akhirnya cerita itu berujung pilu di balik jeruji besi.

Lalu Selvi menuliskan pandangannya untuk 2029. Rakyat Kuansing dirasa sulit menerima calon yang dulu terlalu dekat dengan Suhardiman. Jika Mukhlisin dalam tiga tahun ini tidak bisa memuaskan hati rakyat, Golkar akan kembali jadi nomor satu.

Selvi memperkirakan analisisnya takkan meleset. Saya pun tersenyum sendiri membaca analisis warung kopi level profesor tersebut.

Sementara di Facebook riuh dengan narasi Selvi, layar ponsel saya berganti ke TikTok. Di sana layarnya makin hangat dan analisis bertebaran dalam bentuk video pendek. Berbagai tokoh digadang-gadang serta dipasang-pasangkan untuk berbagai posisi.

Jika ditarik benang merahnya, ada satu nama yang terus menggelinding. Trah Sukarmis ternyata masih sangat mendominasi percakapan.

Sosok yang paling santer disebut adalah Dr. Adam, putra kandung dari sang mantan bupati dua periode tersebut.

Warganet terbelah dalam harapan yang menarik. Banyak yang mendorong agar Dr. Adam maju sebagai calon bupati Kuansing di pertarungan mendatang. Namun anak-anak muda, khususnya Gen Z, punya pandangan berbeda.

Mereka berpendapat di kolom komentar agar langkah politik itu tidak berhenti cuma di tingkat kabupaten.

Gen Z justru mendorong Adam melangkah lebih jauh untuk menembus Senayan dan menjadi anggota DPR RI. Alasannya masuk akal dan agak emosional. Kuansing sudah terlalu lama sepi dari wakil asli anak daerah di pusat. Daerah ini butuh anak muda Kuansing asli yang punya taring dan suara nyaring di panggung nasional.

Selvi tidak memakai rumus statistik rumit, begitu juga anak-anak Gen Z di TikTok. Mereka memakai rumus yang lebih ampuh, yakni psikologi massa dan kerinduan akan figur yang kuat.

Di Kuansing, pemilih kita itu unik. Mereka tidak fanatik buta pada partai, melainkan lebih manut pada perasaan dan kalbu.

Ketika rakyat merasa jenuh, mereka cari pintu keluar dengan memilih siapa saja asal bukan figur lama. Namun ketika figur baru ternyata cuma sebelas-dua belas, rakyat tidak segan memukul balik.

Siklusnya selalu begitu. Jenuh, ganti, kecewa, lalu balik lagi seperti komedi putar.

Sekarang bola ada di tangan Pak Mukhlisin. Waktunya tidak banyak, cuma tiga tahun. Tiga tahun itu singkat sekali. Baru mau menata birokrasi, tahu-tahu sudah masuk tahun politik lagi. Baru mau potong pita, spanduk Pilkada sudah bertebaran di pohon-pohon.

Jika dalam tiga tahun ini rakyat tidak merasakan perubahan nyata—jalan tetap berlubang, urusan publik tetap berbelit, dan pasar tetap sepi—peta politik sudah bisa ditebak hari ini.

Golkar dan trah lamanya sedang mengintip di tikungan menunggu momen.

Rakyat Kuansing itu pemaaf, tapi pengingat yang baik. Mereka bisa cepat memberi kesempatan, tapi juga sangat cepat menarik kembali dukungannya.

Komentar Selvi Widya di Facebook dan keriuhan Gen Z di TikTok adalah peringatan dini buat para politisi maupun masyarakat luas.

Kekuasaan di Kuansing itu licin seperti belut di lumpur sawah dan tak bisa digenggam dengan rasa jumawa.

Waktu yang akan membuktikan apakah ramalan Mbak Selvi yang kejadian atau bisikan Gen Z di TikTok yang jadi kenyataan.

Kopi saya sudah habis, namun obrolan hangat ini rasanya baru saja dimulai. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp