Oleh; Hendri Chaniago.
Minggu: 27:09:2026.
Haji Isam makin menjadi-jadi.
Duitnya seperti tak ada habisnya. Baru-baru ini dia kembali bikin geger panggung bisnis nasional. Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) digoyang. Dibeli. Masuk portofolio.
Lewat anak usahanya, PT Jhonlin Baratama, dia mencaplok 10.000.000.500 (sepuluh miliar lima ratus) lembar saham. Itu setara dengan 30% porsi kepemilikan raksasa tambang milik Dato’ Low Tuck Kwong tersebut. Nilai transaksinya bukan main-main. Diperkirakan menembus angka Rp 115,25 triliun.
Bukan tanpa alasan angka itu membikin bulu kuduk bergidik. Valuasi total pasar BYAN di lantai bursa saat ini berada di kisaran Rp 400 triliun hingga Rp 460 triliun. Menjadikannya salah satu emiten termahal sekaligus paling gemuk di pasar modal Indonesia.
Cengkeramannya di sektor tambang dan energi makin tancap gas. Makin sulit ditandingi.
Padahal, jauh sebelum BYAN masuk kantong, nama Haji Isam sudah identik dengan satu kata: Jhonlin.
Tapi jangan bayangkan pria asal Bone, Sulawesi Selatan ini lahir langsung memegang sendok emas. Perjalanannya justru berawal dari kepulan debu dan minyak pelumas di tanah Kalimantan.
Dulu sekali, dia pernah melakoni hidup sebagai tukang ojek. Pernah jadi sopir truk pengangkut kayu. Bahkan merayap di tanah basah sebagai operator alat berat. Banting tulang demi mencari makan.
Titik balik hidupnya terjadi sekitar tahun 2001. Dia berkenalan dengan seorang penambang batu bara lokal bernama Johan Maulana. Dari situ dia belajar. Memperhatikan cara kerja lapangan, membaca seluk-beluk isi bumi, hingga paham rantai bisnis batu hitam.
Dua tahun berguru, nyalinya terkumpul. Pada 2003, dia memberanikan diri mendirikan bendera sendiri: CV Jhonlin Baratama. Masuk sebagai kontraktor pelaksana.
Kerja kerasnya meledak. CV kecil itu bertransformasi menjadi PT Jhonlin Baratama. Dari sana, gurita bisnisnya menjalar ke mana-mana. Pelan tapi pasti. Dari urusan dalam bumi sampai ke ruang udara. Bahkan sampai ke alam gaib digital, bursa kripto.
Coba kita urut pelan-pelan sambil seruput kopi. Di urusan batu hitam dan tambang yang jadi fondasi awal pundi-pundinya, dia punya PT Jhonlin Baratama. Ditambah BYAN. Lalu ada lagi PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk. Ini baru urusan isi perut bumi.
Pindah ke atas tanah. Sektor agribisnis. Kebun sawit dan pengolahannya terhampar luas. Ada PT Jhonlin Agro Raya Tbk, PT Jhonlin Agro Mandiri, PT Pradiksi Gunatama Tbk, hingga PT Jhonlin Batu Mandiri. Semua jalan. Semua menghasilkan.
Tapi bisnis tambang dan sawit itu percuma kalau logistiknya macet. Haji Isam tahu betul rumus itu. Maka dia bangun ekosistemnya sendiri.
Mau lewat laut, ada PT Jhonlin Marine Trans. Mau terbang, tinggal naik PT Jhonlin Air Transport. Mau urusan darat dan muatan, ada PT Dua Samudera Perkasa.
Bahkan jalur infrastrukturnya dikunci lewat PT Dana Brata Luhur Tbk. Lengkap. Dari hulu ke hilir, muter di lingkarannya sendiri.
Yang bikin geleng-geleng kepala justru langkah terbarunya. Orang Kalimantan yang dulunya identik dengan lumpur dan alat berat ini mendadak masuk ke dunia modern.
Bursa kripto digarap lewat PT Fortuna Integritas Mandiri. Belum cukup. Lihat daftar mainan lainnya. Properti disikat lewat PT Nusa Mandiri Properti. Hiburan disentuh lewat PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk. Keamanan gedung dan aset dijaga armada sendiri, Jhonlin Security Service.
Luar biasa. Dari urusan tongkang batu bara di sungai Kalimantan, kini merambah ke panggung saham Jakarta, lalu melompat ke koin digital.
Berapa sebenarnya isi dompet pengusaha asal Batulicin ini.
Menghitung pasti total kekayaan pria bernama lengkap Andi Syamsuddin Arsyad ini memang mirip menghitung gelombang di laut. Bergerak terus.
Angkanya sangat dinamis karena sebagian besar asetnya berada di rantai perusahaan privat Jhonlin Group dan saham emiten publik yang nilainya naik-turun di bursa.
Kalau dikalkulasi dari portofolio saham publiknya saja, seperti di PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), dan PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE), nilainya sudah bertengger di angka Rp 60 triliun hingga menembus Rp 100 triliun.
Tapi itu baru yang kelihatan di permukaan papan bursa. Bila ditumpuk dengan seluruh imperium bisnis swastanya, mulai dari tambang batu bara tertutup, armada kapal laut, pesawat pribadi, infrastruktur pelabuhan, hingga aksi pencaplokan jumbo 30% saham BYAN yang bernilai Rp 115 triliun tersebut, nilai total kekayaannya ditaksir menembus Rp 100 triliun sampai Rp 150 triliun.
Dulu orang mengenal daerahnya hanya sebagai penghasil batu bara. Sekarang, dari mantan tukang ojek yang tidak gentar pada nasib, lahir konglomerasi giant yang bikin pening para pemain lama di ibu kota.
Langkah bisnisnya lincah. Strateginya dingin. Tapi dampaknya selalu hangat jadi perbincangan di warung-warung kopi.
Kita tinggal tunggu saja, setelah BYAN dan kripto, esok hari ada kejutan akuisisi apalagi yang bakal dibuatnya. (***)





