Serial Refleksi HUT Ke 27 Kuantan Singingi

Mencari Jalan Pulang…”

Oleh : H. Marwan Yohanis, S.Sos., M.I.Kom

Kuantan Singingi di usia ke 27: Sudah sejauh mana kita berjalan? Dua puluh tujuh tahun bukan usia yang pendek. Pada 12 Oktober 1999, Kuantan Singingi berdiri sebagai sebuah Kabupaten. Sejak saat itu, waktu telah berjalan membawa daerah ini melewati berbagai musim: pergantian kepemimpinan, perubahan politik, pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, pasang surut kehidupan masyarakat, serta berbagai dinamika yang membentuk wajah Kuantan Singingi hari ini.

Kini kita sampai pada usia 27 tahun. Tentu banyak yang patut disyukuri. Ada jalan yang dahulu sulit dilalui, kini lebih mudah. Ada desa yang dahulu jauh dari pusat pelayaran, kini semakin terhubung. Pendidikan berkembang, aktivitas ekonomi bergerak., teknologi masuk kedalam ruang-ruang kehidupan masyarakat, dan anak-anak Kuantan Singingi semakin banyak menempuh pendidikan tinggi serta berkiprah di berbagai tempat.

Pacu Jalur bahkan melampaui batas geografis Kuantan Singingi. Ia bukan lagi sekadar pesta masyarakat di sepanjang Batang Kuantan. Ia telah menjadi identitas budaya yang dikenal luas. Pemerintah provinsi Riau sendiri mengatakan bahwa popularitas Pach Jalur kini telah meluas hingga dunia, sekaligus mengingatkan bahwa popularitas harus diikuti tanggung jawab menjaga budaya dan lingkungan. (Media Center Riau*)

Kita patut bangga. Tetapi ulang tahun bukan tentang tepuk tangan. Ulang tahun seharusnya juga menjadi saat untuk bertanya: Sudah sejauh mana kita berjalan? Apa yang sudah tercapai? Apa yang belum tergapai? Dan yang palin penting: apakah pembangunan yang kita lakukan sudah benar-benar membuat masyarakat merasa lebih sejahtera, lebih adil, lebih aman, dan lebih dihargai?

Pertanyaan itu penting karena pembangunan bukan hanya soal berapa kilometer jalan yang dibangun, berapa banyak gedung yang berdiri, atau berapa besar anggaran yang dibelanjakan. Pembangunan pada akhirnya tentang manusia. Tentang petani yang mampu hidup layak dari tanahnya. Tentang anak desa yang memiliki kesempatan pendidikan yang sama dengan anak yang tinggal di kota. Tentang masyarakat yang tidak perlu takut kehilangan ruang hidupnya. Tentang pelayanan publik yang tidak membuat rakyat merasa sedang meminta belas kasihan. Dan tentang hukum yang membuat semua orang rasa memiliki tempat yang sama di hadapan negara.

BPS sendiri terus mencatat indikator sosial, ekonomi, kependudukan dan pembangunan Kuantan Singingi sebagai bahan evaluasi pembangunan. Artinya, kita sesungguhnya memiliki modal penting: data. Tantangannya adalah, apakah data itu benar-benar menjadi dasar keberanian untuk memperbaiki. (BPS Kuantan Singingi *).

Karena itu pada usia 27 tahun, kita tidak perlu mengatakan bahwa Kuantan Singingi gagal. Tetapi kita juga tidak perlu mengatakan bahwa semuanya sudah berhasil. Keduanya terlalu sederhana. Kuantan Singingi adalah sebuah perjalanan. Ada keberhasilan yang harus dipertahankan dan ditingkatkan. Ada kesalahan yang harus diperbaiki. Ada luka yang harus disembuhkan. Ada konflik yang harus diselesaikan. Dan ada mimpi yang harus diperjuangkan bersama.

Kita tidak membutuhkan masyarakat yang selalu memuji pemerintah. Yang kita butuhkan adalah masyarakat yang kritis tetapi konstruktif. Pemerintah yang kuat tetapi mau mendengar. Politsi yang berbeda pilihan tetapi tidak berbeda dalam mencintai daerah. Pengusaha yang mendapat keuntungan tetapi tetap menghormati masyarakat dan lingkungan. Tokoh masyarakat tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga menjadi teladan. Dan rakyat yang tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi menjadi pemiliknya.

Mungkin inilah makna sesungguhnya dari ”Harmoni untuk Kuantan Singingi Hebat”. Harmoni bukan berarti semua orang berpikir sama. Harmoni bukan berarti tidak boleh berbeda. Harmoni justru kita mampu berbeda tanpa saling menghancurkan. Kita boleh berbeda pilihan politik. Boleh berbeda pandangan pembangunan. Boleh berbeda kepentingan. Tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita lupa bahwa tanah yang kita pijak adalah tanah yang sama.

Sungai yang kita banggakan adalah sungai yang sama. Anak-anak yang akan mewarisi Kuantan Singingi adalah anak-anak kita semua. Maka HUT ke-27 ini jangan hanya menjadi perayaan. Mari kita jadikan sebagai cermin. Sebab daerah yang besar bukan daerah yang tidak punya masalah. Daerah yang besar adalah daerah yang berani mengakui masalahnya, lalu bekerja bersama untuk menyelesaikannya.

Selamat memasuki usia 27 tahun, Kuantan Singingi. Kita tidak sedang mencari alasan untuk mebanggakan masa lalu. Kita sedang mencari keberanian untuk memperbaiki masa depan.

Bersambung….


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp