Bocor Dua Ribu Lima Ratus Triliun

Oleh: Hendri Chaniago.

Presiden Prabowo Subianto baru saja melontarkan peluru panas. Di Bangkalan, Madura. Di hadapan para ulama, kiai, dan guru-guru NU.

Tempatnya pas. Momennya pas. Isunya sangat sensitif, yaitu mengenai alasan gaji guru dan pegawai negeri kita begitu-begitu saja, susah naik, dan anggaran yang selalu dinilai kurang.

Jawabannya blak-blakan. Khas Prabowo. “Ya karena uangnya enggak ada. Diambil terus!” kata Presiden pada Selasa, 23 Juni kemarin. Sederhana. Menusuk.

Bayangkan perasaan para guru yang mendengar itu. Sudah mengabdi puluhan tahun dan menanti keajaiban slip gaji, ternyata jawabannya sedramatis itu, yakni kas negara bocor.

Bukan bocor alus. Ini bocornya pakai angka fantastis. Hitungan pemerintah, setahun jebol sampai USD 150 miliar. Kalau dirupiahkan, jumlahnya sekitar Rp 2.500 triliun setiap tahun.

Uang segitu kalau dipakai bayar sertifikasi guru, mungkin bisa membuat wajah pahlawan tanpa tanda jasa kita merona sampai ke anak cucu.

Prabowo menunjuk dua hidung utama sebagai sumber bocornya anggaran tersebut.

Pertama, gurita bernama BUMN.

Prabowo membuat pengakuan yang bikin kita tersenyum kecut. Dia mengaku baru tahu jumlah BUMN itu seribu lebih setelah jadi Presiden, padahal awalnya mengira cuma 300.

Seribu perusahaan. Banyak yang merugi, tapi anehnya tetap hidup. Istilahnya hidup segan, mati tak mau, tapi hobi menyusu pada APBN. Benalu. Maka, selama 20 bulan menjabat, Prabowo langsung babat.

Sebanyak 240 perusahaan negara yang sakit-sakitan langsung ditutup. Targetnya belum selesai karena ada 700 sampai 800 BUMN tidak jelas lagi yang masuk daftar antrean eksekusi untuk dimatikan.

Hidung kedua adalah pengusaha nakal yang hobi bohong.

Ini soal ekspor. Modusnya kuno tapi ampuh, yaitu under-invoicing atau mengecilkan laporan nilai ekspor.

“Katanya jual 1.000 ton, yang dilaporkan cuma 500 ton,” ujar Prabowo gemas. Sisanya masuk kantong sendiri dan diparkir di luar negeri.

Angka PBB bahkan lebih gila lagi. Selama 34 tahun, Indonesia tekor USD 908 miliar. Setara Rp 15.000 triliun karena kelakuan para pengusaha tersebut.

Maka klop sudah. Logika warung kopinya ketemu. Sektor publik kita kering kerontang bukan karena tanah kita tidak subur, melainkan karena airnya dialirkan lewat pipa yang penuh lubang oleh tikus-tikus berdasi.

Prabowo sekarang sedang sibuk menyumbat lubang-lubang itu. Menutup BUMN yang tak guna dan mengejar pengusaha yang suka memanipulasi angka.

Kita tentu mendukung langkah besar ini. Namun, rakyat — terutama para guru di pelosok yang motornya sering mogok — tetap menanti realisasi nyata dari penutupan kebocoran tersebut, yaitu kepastian kapan gaji mereka beneran naik.

Sebab, menutup kebocoran itu tugas pemerintah. Sedangkan merasakan hasil sumbatan itu adalah hak yang dinanti rakyat. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp