Pesta Berakhir di Under Invoicing

Oleh : Hendri Chaniago.
Kamis: 24:09:2026.

Angka itu terpampang jelas di layar: USD 908 Milyar. Kalau dikonversi ke Rupiah, nilainya bikin geleng-geleng kepala: Rp 15.000 triliun.

Sebagai orang yang bertahun-tahun menggeluti dunia jurnalistik dan mengamati lalu lintas kekuasaan, saya harus jujur dan angkat topi. Saya mengakui kecerdasan serta keberanian Prabowo Subianto.

Baru kali ini dalam sejarah, saya melihat seorang Presiden Republik Indonesia yang mau duduk, melayani diskusi, dan berdebat terbuka dengan para pakar serta jurnalis kritis selama berjam-jam tanpa jarak. Semua data dibuka, dipaparkan secara transparan, tanpa ada yang ditutup-tutupi.

Bukan main. Angka Rp 15.000 triliun itu bukan uang receh. Itu dana raksasa yang cukup buat membangun jalan tol dari Sabang sampai Merauke berkali-kali. Bisa buat bikin sekolah megah di tiap pelosok desa, atau bikin berobat gratis tanpa bikin pusing kepala.

Tapi muara masalah uang itu pergi ada pada dua kata: under invoicing. Praktik manipulasi nilai ekspor yang bikin kita mengurut dada.

Ceritanya sederhana tapi menyakitkan. Barang dikirim ke luar negeri dengan harga sebenarnya $100. Tapi yang dicatat di dokumen ekspor cuma $50. Selisihnya parkir manis di rekening luar negeri. Tak pernah menyentuh tanah air. Tak kena pajak. Negara gigit jari, oknumnya tersenyum lebar sambil minum kopi di negeri orang.

Dan celakanya, ini bukan cerita kemarin sore. Grafik di layar itu merekam jejak hitam selama 34 tahun, dari tahun 1991 sampai 2024. Tiga dekade lebih kita membiarkan dompet bangsa ini bocor di bawah meja.

Gaya bicara Presiden Prabowo malam itu begitu gamblang. Tanpa basa-basi. Di hadapan para jurnalis dan pakar, data itu dibeberkan terang benderang. Ini data dari PBB, kata Presiden Prabowo.

Suasana ruangan makin hangat ketika nama-nama vokal ikut angkat suara. Ada Akbar Faizal yang langsung menusuk ke inti masalah mengenai bagaimana kebocoran sesadis ini dibiarkan puluhan tahun, ke mana uang rampasan itu, dan bagaimana mengembalikan aset rakyat yang sudah telanjur terbang.

Lalu giliran jurnalis senior Metro TV, Rivana Pratiwi, yang melempar pertanyaan tajam dan berani. Dia mengejar Prabowo soal risiko politik dari berbagai program gebrakan pemerintah yang ngegas di mana-mana.

Bicaranya menohok mengenai riak-riak di bawah, gelombang demonstrasi yang sering pecah dan berujung anarkis, serta siapa sebenarnya aktor intelektual alias dalang di balik semua aksi pengerahan massa itu.

Prabowo menjawabnya santai tapi menohok. Bagi Prabowo, hidup ini sendiri adalah risiko. Mau naik mobil saja ada risiko tertabrak, apalagi mengurus negara. Tapi soal rakyat kecil yang lapar, kata Prabowo, mereka tidak bisa menunggu lama.

Soal demo, beliau buka-bukaan tanpa ragu: demo itu hak demokrasi, tapi kalau sudah rusuh, ada massa bayaran yang digerakkan oleh pihak-pihak yang terusik kenyamanannya. Ada dalang yang tidak suka lihat Indonesia tenang dan mandiri.

Disambung oleh Prof. Gema Goeyardi yang bicaranya blak-blakan menyentil penyakit akut di tubuh birokrasi kita: budaya “Asal Bapak Senang” alias ABS. Banyak bawahan yang cuma bisa menyodorkan laporan manis-manis, padahal rumah di bawah sedang digerogoti rayap.

Namun di balik sentilan pedasnya, Prof. Gema menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya untuk Prabowo Subianto. Menurutnya, Prabowo adalah satu-satunya presiden Indonesia yang punya keberanian luar biasa untuk secara terbuka membongkar skandal under invoicing ini ke publik.

Belum pernah ada pemimpin sebelumnya yang berani buka-bukaan soal borok ekonomi sistemik sebesar ini. Hormat dan apresiasi penuh ditiupkan untuk ketegasan sang Presiden.

Pertanyaan dan apresiasi malam itu seperti cermin di depan muka kita semua. Menampar, tapi memang borok itu harus dibuka kalau mau sembuh.

Mengurai benang kusut 34 tahun dan menghadapi resistensi politik jelas bukan pekerjaan semalam. Tapi setidaknya, penyakitnya sudah diakui dan diumumkan ke seluruh negeri. Kalau penyakitnya sudah tahu tempatnya, obatnya harus segera diracik.

Sebab, kekayaan alam tanah air ini terlalu berharga kalau cuma dihabiskan untuk memperkaya segelintir orang yang pandai memoles angka di atas kertas. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp