Fakta Rupiah Seharusnya Setara Dolar

Oleh: Hendri Chaniago.

Heboh lagi. Jagat media sosial kita tiba-tiba riuh. Ramai sekali. Gara-garanya satu nama lama mencuat kembali: Steve Hanke.

Anda tentu sudah tahu siapa dia. Ekonom kawakan dari Universitas Johns Hopkins, Amerika Serikat. Baru-baru ini dia kembali berkicau di media sosialnya, membuka lembaran sejarah lama yang membuat kita semua terhenyak.

Hanke sengaja mengungkit cerita tahun 1998. Saat Indonesia sedang babak belur dihantam badai krisis moneter yang jahanam. Kala itu, dia diundang ke Jakarta khusus untuk menjadi penasihat Presiden Soeharto. Tugasnya sangat berat: menyelamatkan Rupiah yang lagi terjun bebas tanpa parasut.

Kita semua ingat kondisinya saat itu. Dari kisaran Rp 2.700, Rupiah melesat liar sampai menyentuh Rp 16.000 per Dolar AS. Toko-toko terpaksa tutup. Rakyat antre sembako di mana-mana. Suasana mencekam. Ngeri.

Di tengah kepanikan nasional itu, Hanke datang membawa satu resep obat paten. Namanya mentereng: Currency Board System (CBS). Alias Dewan Mata Uang.

Prinsip kerjanya sebenarnya sangat sederhana. Sangat simpel. Rupiah dipatok mati pada nilai tertentu terhadap Dolar AS. Tidak boleh naik dan tidak boleh turun. Titik.

Lalu, apa jaminannya. Di sinilah kuncinya. Setiap lembar Rupiah yang dicetak harus dijamin penuh oleh 100 persen cadangan Dolar di bank sentral. Hanke menyebutnya sebagai langkah mengkloning Dolar. Tujuannya agar Rupiah memiliki ketangguhan yang serupa.

Efek dari rencana itu sangat nyata.

Begitu Pak Harto mengumumkan rencana untuk menerapkan sistem Hanke ini, Rupiah langsung menguat seketika di pasar finansial. Nilainya melesat naik 28 persen dalam sekejap. Spekulang langsung tiarap dan pasar yang tadinya panik mendadak menjadi tenang karena ada secercah harapan baru.

Namun di sinilah drama geopolitik tingkat tinggi itu terjadi.

IMF meradang mendengarnya. Amerika Serikat, melalui Presiden Bill Clinton, bahkan langsung menelepon Pak Harto secara pribadi. Isinya berupa ancaman yang sangat serius. Kalau Indonesia nekat menerapkan sistem Steve Hanke, bantuan dana talangan sebesar 43 miar dolar AS akan dibatalkan saat itu juga.

“Jangan berani-berani pakai Currency Board. Itu langkah yang berbahaya,” demikian penegasan IMF kala itu dengan nada menodong.

Posisi Pak Harto benar-benar terjepit. Di satu sisi ada resep Hanke yang terbukti mulai manjur, sementara di sisi lain ada tekanan berat dari IMF yang siap menghentikan bantuan dana.

Kita semua mencatat kelanjutan sejarahnya. Pak Harto akhirnya ragu. Rencana CBS dibuang ke keranjang sampah, resep IMF yang kemudian terpaksa ditelan. Hasilnya tetap sama, Rupiah hancur, ekonomi ambruk, dan pemerintahan Orde Baru akhirnya tumbang. Tragis.

Kini fakta itu dibongkar kembali secara benderang. Persoalan Rupiah yang seolah sengaja dilemahkan agar tidak bisa setara dengan Dolar menjadi terang menderang. Istilah setara ini tentu memiliki konteks yang jelas dan tidak merujuk pada penyamaan nilai nominal mata uang secara langsung. Bukan berarti satu Rupiah otomatis menjadi satu Dolar.

Maksud sesungguhnya adalah kesamaan dalam hal stabilitas, kredibilitas, dan daya tahan ekonomi. Jika sistem itu berjalan, Rupiah kita memiliki kekuatan yang kokoh. Inflasi menjadi sangat terkendali, dan para pengusaha tidak perlu didera kecemasan setiap hari hanya untuk memantau pergerakan kurs di monitor komputer.

Namun di balik itu, ada konsekuensi besar yang memang harus dihadapi. Ekonomi tidak pernah berada di ruang hampa.

Penerapan sistem Hanke menuntut Bank Indonesia untuk melepaskan sebagian kedaulatan moneter. BI tidak bisa lagi mencetak uang secara bebas untuk menyelamatkan perbankan domestik yang sekarat. Indonesia juga diwajibkan menyediakan cadangan Dolar dalam jumlah yang sangat besar.

Konsekuensi lainnya adalah keterikatan mutlak. Setiap guncangan ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat akan langsung merembet dan memukul perekonomian nasional secara instan. Landasan ekonomi inilah yang membuat sejumlah ekonom dalam negeri waktu itu turut menyatakan keberatan atas ide tersebut. Ada plus, ada minusnya. Kini puluhan tahun telah berlalu sejak peristiwa kelam 1998.

Pernyataan terbaru Steve Hanke menjadi penegas tentang adanya intervensi nyata yang pernah membelokkan arah kebijakan moneter kita. Kita dihadapkan pada kenyataan sejarah tentang sebuah peluang besar yang terpaksa dilepaskan karena tekanan eksternal. Kita hanya bisa mengenangnya sebagai catatan masa lalu.

Sejarah telah tertulis secara mutlak dan tidak bisa diubah kembali. Saat ini Rupiah kita bergerak bebas di pasar global, mengalami pasang surut secara mandiri sebagai identitas ekonomi kedaulatan bangsa. Perjalanan mata uang ini menjadi bukti autentik dari perjuangan ekonomi yang kita kelola sendiri, bukan hasil kloningan dari negeri Paman Sam.

Mari kita nikmati sisa kopi hitam di cangkir kita masing-masing. Biarlah dinamika nilai tukar bergulir di jalurnya, sementara fokus kita tetap pada upaya nyata menjaga stabilitas ekonomi harian kita agar terus bertahan dan bermartabat. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp