Melesat Berkat Teri dan Tempe

Oleh: Hendri Chaniago.

Perut Anda sering tiba-tiba mules setelah minum susu segar. Tenang. Anda tidak aneh. Anda tidak sendirian.

Bahkan, Anda adalah mayoritas. Anda adalah bagian dari kelompok elite terbesar di bumi: kaum intoleran laktosa.

Angkanya tidak main-main. Lima miar orang dewasa di dunia ini senasib dengan Anda. Itu sekitar 70 persen penduduk bumi. Hebatnya lagi, kalau geser ke Asia Timur—ke China, Jepang, Korea, atau Vietnam—angkanya bikin melongo: 95 persen.

Artinya, di sana hampir semua orang akan sukses bolak-balik ke toilet kalau nekat menenggak segelas susu sapi murni di pagi hari.

Dikutif dari CNN, Pakar Genetika Ekologi IPB, Profesor Ronny Rachman Noor, punya jawabannya. Ini soal takdir genetik. Soal nenek moyang.

Orang Asia itu, secara alamiah, tidak punya “mutasi sakti” bernama lactase persistence. Mutasi inilah yang menjaga tubuh tetap memproduksi enzim laktase saat dewasa. Enzim yang bertugas menjinakkan laktosa dalam susu.

Mutasi itu terjadi sekitar 7.500 tahun lalu di Eropa Utara. Makanya, orang-orang Kaukasia di sana aman-aman saja minum susu. Angka intoleransi mereka cuma 5 sampai 15 persen.

Gen sakti itu tidak mampir ke Asia atau Afrika karena nenek moyang kita dulunya tidak punya tradisi memerah susu sapi. Tubuh kita tidak berevolusi ke sana. Sederhana.

Sebenarnya, begitu lepas masa menyusui, enzim laktase dalam tubuh anak manusia memang pelan-pelan pensiun. Itu normal. Sangat biologis. Tubuh kita tahu diri bahwa masa menyusu sudah lewat.

Di Indonesia, ceritanya makin seru.

Coba lihat anak-anak kita. Usia 3 sampai 5 tahun, yang intoleran baru 21 persen. Tapi begitu masuk usia SD, umur 6 sampai 11 tahun, angkanya melonjak jadi 57,8 persen. Enzim laktasenya mulai pamit undur diri.

Wajar, kita kan masuk regional Asia Tenggara. Di kawasan ini, rekornya bisa sampai 98 persen. Tapi di sinilah ironinya. Karena perut sering kembung, kita jadi malas minum susu. Efek dominonya, kita kekurangan kalsium, vitamin D, dan protein. Terutama anak-anak dan lansia.

Skenario laktosa menyiksa kita itu begini. Susu masuk, laktosa gagal dicerna di usus halus. Dia lolos, melenggang kangkung masuk ke usus besar. Di sana, laktosa itu difermentasi oleh bakteri.

Hasilnya adalah perut kembung. Gas menumpuk. Mual. Perut mulai berbunyi seperti suara mesin genset mati hidup—kuruyuuuk, blubub-blubub. Dan puncaknya adalah diare.

Lucunya, drama ini tidak langsung terjadi setelah Anda meletakkan gelas. Makanan butuh waktu jam-jaman untuk sampai usus besar. Jadi, rasa mulas atau kembung itu bisa muncul sehari atau dua hari kemudian. Anda mungkin sudah lupa kemarin minum es kopi susu, tapi perut Anda tetap ingat.

Kata Prof Ronny, ini tidak berbahaya. Beda dengan alergi susu yang bisa bikin sesak napas. Tapi ya jujur saja, mana ada orang bisa hidup tenang kalau sebentar-sebentar harus lari mencari toilet terdekat. Kualitas hidup langsung merosot.

Lantas, kita tidak harus bermusuhan dengan kalsium. Kita hanya perlu cerdik.

Kalau ke supermarket, cari yang labelnya “bebas laktosa”. Atau pilih susu A2. Yogurt juga aman, karena laktosanya sudah habis dimakan bakteri baik. Keju keras seperti cheddar atau parmesan juga ramah di perut.

Mau yang lebih praktis, minum suplemen enzim laktase sebelum menyentuh susu.

Atau, kembalilah ke kearifan lokal. Ini bagian yang paling mantap. Sumber kalsium kita itu melimpah dan murah meriah. Kita tinggal makan ikan teri.

Goreng tempe dan tahu. Lalap sayuran hijau. Atau minum susu kedelai yang sudah difortifikasi. Susu kedelai plus tempe goreng hangat. Nikmat, murah, kalsium dapat, perut tenang, dompet senang, dan toilet pun aman. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp