Sawer Singa, Kaur Desa Berakhir Penjara

Oleh; Hendri Chaniago.

Ada-ada saja. Parah!

Itu reaksi pertama saya saat membaca berita ini. Kepala langsung geleng-geleng sendiri. Kalau Anda mendengar ceritanya, saya jamin Anda juga akan mengelus dada. Atau minimal ikut melongo.
Ini tentang uang rakyat. Uang desa. Jumlahnya tidak main-main: Rp646 juta. Ludes. Habis tak berbekas.

Uang segunung itu tidak dipakai untuk membangun jembatan. Bukan pula untuk membeli ambulans desa. Jauh panggang dari api. Anggaran itu habis hanya untuk beli gift di TikTok.

Ya, Anda tidak salah baca. Untuk nyawer seleb TikTok. Sungguh di luar nurul.

Pelakunya adalah seorang aparatur desa. Sosok berinisial MT. Jabatannya mentereng di tingkat lokal: Kepala Urusan (Kaur) Keuangan Desa Lok Bangkai. Letaknya di Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Sebagai bendahara, MT memegang kunci brankas desa. Kepercayaan warga dititipkan di pundaknya. Harapannya, dana dari pusat itu bisa mengubah wajah desa agar jalannya mulus dan warganya sejahtera.

Tapi, apa daya. MT tampaknya lebih memilih “kesejahteraan” para kreator konten di dunia maya.

Bayangkan, demi kepuasan semu di layar ponsel, demi dipuji-puji oleh host live TikTok saat namanya muncul sebagai pengirim gift, ia nekat menyelewengkan anggaran. Rp646 juta itu angka yang sangat fantastis untuk sebuah desa.

Di warung kopi, uang segitu bisa buat beli kopi dan pisang goreng seumur hidup untuk satu kampung.
Sekarang, nasi sudah jadi bubur. Petualangan digital sang Kaur Keuangan harus berakhir di dunia nyata.

Aparat kejaksaan bergerak cepat, Selasa (22/6/2026). MT diperiksa. Namun, dasar MT, saat diinterogasi ia langsung memakai jurus pamungkas: tutup mulut. Bungkam.

Pihak Kejaksaan Negeri Hulu Sungai Utara dibuat gemas oleh sikapnya. MT sama sekali tidak mau terbuka. Penyidik masih harus mendalami apakah uang ratusan juta itu murni habis untuk membeli gift singa, paus, atau kereta api di TikTok, atau justru ada yang dialirkan ke tempat lain. MT tetap memilih diam.

Mungkin dia pikir dengan diam, masalahnya akan menguap. Tentu saja tidak.

Jaksa tidak mau buang waktu. Status tersangka langsung disematkan. Mobil tahanan sudah bersiap di depan kantor. Hari itu juga, MT digiring. Pakaian dinasnya berganti. Dia resmi dipindahkan ke “rumah baru”: Lapas Kelas IIB Amuntai.

Sekarang, tidak ada lagi layar HP yang menyala di tengah malam. Tidak ada lagi joget-joget live yang bisa dia sawer. Yang ada hanyalah dinding dingin penjara dan waktu yang panjang untuk merenung.

Kasus ini bikin kita mikir. Zaman sekarang, godaan korupsi bukan lagi soal rumah mewah atau mobil mengkilap. Godaan itu kini ada di genggaman tangan, berupa candu pengakuan di media sosial.

Seseorang bisa merasa menjadi “sultan” di dunia maya, meski di dunia nyata dia sedang menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam bui.

Kasihan warga Desa Lok Bangkai. Dan untuk MT, selamat menikmati gift barunya: jeruji besi. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp