Dua Tinta, Satu Rumah

Kopi sudah hampir dingin. Ampasnya sudah turun ke dasar gelas. Tapi obrolan kami justru makin hangat.

Malam itu, kami tidak sedang membahas proyek miliaran. Bukan pula menggunjingkan politik tingkat tinggi. Kami hanya bicara soal hobi. Satu hobi yang sama-sama kami gilai: menulis.
Menulis apa saja.

Mulai dari keresahan harian, pikiran-pikiran receh, sampai ide-ide yang melintas begitu saja. Kami sadar, isi kepala kami ini mungkin tidak sehebat para pemikir besar. Tidak juga sekritis para pengamat kondang.

Tapi, ada satu pemikiran yang mengganjal: apakah untuk berbuat sesuatu bagi bangsa ini, kita harus menunggu jadi orang hebat dulu?
Tentu tidak.

Dari sana, obrolan yang tadinya melantur ke mana-mana mulai menemukan bentuknya. Kami berdua lalu saling pandang. Latar belakang kami ini sebenarnya agak kontras. Lucu kalau dipikir-pikir.

Di satu sisi ada Selpi Keswita. Beliau ini seorang abdi negara. Seorang ASN. Hari-harinya lekat dengan dunia birokrasi, aturan, dan pelayanan publik yang serba terstruktur. Senyap tapi pasti.

Di sisi lain, ada saya, Hendri Chaniago. Orang lapangan. Seorang jurnalis yang hari-harinya dihabiskan untuk memburu berita, mencatat realita, dan kadang-kadang bersikap skeptis pada banyak hal.

Dua dunia yang berbeda. Yang satu tertib, yang satu liar.

Tapi malam itu, ego sektoral kami runtuh oleh satu keinginan yang sama. Kami ingin memberi kontribusi. Lewat apa? Ya lewat hobi kami tadi. Lewat tulisan. Kontribusi tidak harus selalu berupa kebijakan besar atau modal raksasa. Lewat goresan tinta pun jadi.

Maka, lahirlah TintaKita.com.

Nama itu lahir begitu saja. Sederhana. Ini bukan cuma tentang tinta Selpi, bukan juga cuma tentang tinta Hendri. Ini tentang tinta kita semua. Sebuah rumah kecil untuk menampung segala macam pemikiran.

Kami tahu, menembus belantara media digital hari ini bukan perkara mudah. Tapi modal kami cuma satu: kejujuran hati dan konsistensi. Kami tidak menjanjikan tulisan yang bisa mengguncang dunia. Kami hanya ingin menyuguhkan tulisan yang punya “nyawa”.

Kini, TintaKita.com sudah mengudara. Kapal kecil ini sudah mulai berlayar.

Harapan kami tidak muluk-muluk. Semoga pembaca yang budiman berkenan untuk singgah. Menikmati sajian kami yang apa adanya ini. Syukur-syukur kalau Anda betah, lalu ikut merawat ruang ini bersama kami.

Mari membaca, mari merawat akal sehat. Bagaimana, mau secangkir kopi lagi?. (*)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp