Ditulis Oleh: Hendri Chaniago.
Kamis: 16) 7/2026
Khas Prabowo. Kalau sudah pidato, selalu ada kejutan. Kalimatnya meledak-ledak. Retorikanya sukses membuat kuping sebagian orang di dalam ruangan mendadak merah.
Kemarin begitu lagi. Tepat di Puncak Peringatan Hari Koperasi Nasional. Suasana harusnya santai. Penuh seremonial. Potong tumpeng, tepuk tangan, lalu pulang. Tapi Prabowo bukan tipe presiden yang suka basa-basi. Beliau melempar bom narasi yang langsung bikin jagat media sosial riuh. Intinya satu: ada tamu tak diundang yang sedang merampok kekayaan Indonesia.
Gaya bicaranya sangat membumi. Menggunakan metafora yang akrab dengan keseharian kita. Bangsa kita ini diakui terlalu baik hatinya. Lugu. Prabowo memberi perumpamaan yang pas sekali dengan kultur kita. Kalau ada tamu datang ke rumah, orang Indonesia itu luar biasa hormatnya. Walau di dapur tidak ada kopi atau gula, tuan rumah rela bela-belain jalan ke sebelah. Pinjam ke tetangga demi menyuguhkan minuman hangat. Begitulah kita. Ramah. Kadang terlalu ramah sampai kebablasan.
Masalahnya, ada tamu yang benar-benar tidak tahu diri. Tidak diundang, tiba-tiba masuk. Awalnya ketuk pintu sopan-sopan, bilangnya mau ikut dagang. Begitu sudah di dalam, pintunya dikunci dari dalam. Isinya dikuras habis. Kita dirampok di rumah sendiri.
Prabowo memang tidak menunjuk satu atau dua nama. Tapi, orang-orang yang sedang duduk di warung kopi sambil menyeruput udud pasti paham kemana arah telunjuk itu mengarah.
Mereka adalah para pemburu rente. Investor nakal yang hanya mau mengeruk isi bumi kita tapi ogah berbagi hasil. Mereka yang membawa lari berton-ton kekayaan alam ke luar negeri, lalu meninggalkan lubang-lubang raksasa dan bencana bagi warga lokal.
Mereka juga berwujud oligarki tambang yang ogah-ogahan memenuhi kewajiban pasokan dalam negeri. Lebih tergiur cuan dolar di luar ketimbang menerangi rumah saudaranya sendiri. Belum lagi penumpang gelap di birokrasi, yaitu para mafia anggaran yang ikut melahap uang rakyat sebelum sempat tersalurkan.
Menariknya, Prabowo sengaja memilih momen Hari Koperasi untuk menumpahkan kejengkelannya.
Koperasi itu soko guru ekonomi rakyat. Lambang kebersamaan. Satu lidi memang lemah, tapi kalau diikat jadi sapu, kekuatannya raksasa. Prabowo ingin memperlihatkan kontras yang nyata.
Di satu sisi, rakyat sedang berjuang mengumpulkan lidi-lidi ekonomi lewat koperasi. Di sisi lain, para tamu tak tahu diri ini dengan santainya mengangkut gelondongan kayu kekayaan negara ke luar negeri.
Prabowo bahkan jujur mengakui perasaannya seperti dihantam di ulu hati. Ada rasa sakit yang sangat manusiawi di sana. Pemimpin mana yang tidak perih melihat rumahnya dijarah terang-terangan di depan mata.
Pernyataan ini jelas sebuah peringatan keras. Kode yang sangat benderang. Rakyat tentu suka dengan keberanian begini. Rasanya plong, seperti ada yang mewakili dongkolnya hati selama ini. Tapi, setelah tepuk tangan mereda, publik tentu akan menagih kelanjutannya.
Mengidentifikasi tamu nakal itu baru langkah awal. Langkah berikutnya adalah mengambil tindakan nyata. Rumah Indonesia ini milik rakyat, bukan milik pencuri yang menyamar jadi pedagang. Kalau bertamu secara baik-baik, silakan duduk dan kita buatkan kopi. Tapi kalau datang untuk merampok, jangan cuma disindir. Sudah saatnya diseret, lalu ditunjukkan pintu keluar. Secara paksa. (***)





