APA YANG HILANG DI NEGERIKU

Ditulis : H. Marwan Yohanis, S.Sos, M.I.Kom

Yang hilang bukan kekayaan.

Yang hilang bukan kecerdasan.

Yang hilang adalah rasa malu ketika berbuat salah.

Tak peduli pemimpin,
atau rakyat biasa.

Keserakahan dipertontonkan tanpa rasa bersalah.

Ketidakadilan disaksikan setiap hari, seolah sudah menjadi bagian dari kehidupan.

Penjarahan, korupsi hak rakyat, manipulasi dan penyalahgunaan kekuasaan terlalu sering dianggap sebagai “risiko jabatan”, bukan penghianatan terhadap amanah.

Fitnah lebih cepat dipercaya daripada fakta.

Kebencian lebih mudah disebar daripada kasih sayang.

Caci maki menjadi bahasa yang dianggap lumrah.

Pemimpin berkelahi berebut tahta, kuasa dan bisa juga berebut …….
Aah entahlah.

Lalu kita bertanya…

Kemana Etika ?

Kemana Moral ?

Kemana Sopan Santun ?

Kemana Rasa Hormat ?

Kemana Empati ?

Kemana gotong royong yang dulu menjadi kebanggaan bangsa ?

Yang lebih mengkhawatirkan bukanlah banyaknya orang berbuat salah, melainkan semakin banyak orang baik memilih diam.

Diam karena takut.

Diam karena lelah.

Diam karena merasa suaranya tidak akan mengubah apapun.

Takut, satu saja mengungkapkan fakta dan kebenaran, seribu serangan mencari dan memberi pembenaran, bukan kebenaran.

Padahal, kejahatan tidak selalu menang karena kuat. Seringkali ia menang karena kebaikan berhenti bersuara.

Negeri ini sedang kekurangan keteladanan.

Negeri ini tidak kekurangan aturan.

Yang kurang adalah keberanian untuk menegakkan aturan secara benar dan adil.

Tidak kekurangan orang yang berbicara tentang moral.

Yang kurang adalah orang yang mau menjadikan moral sebagai kompas hidup.

Sudah saatnya kita berhenti hanya mengeluh.

Mulailah dari diri sendiri :
Jujur ketika tidak ada yang melihat, adil meski tidak menguntungkan, santun meski berbeda pendapat, dan berani bersuara ketika kebenaran dipinggirkan.

Karena bangsa yang besar tidak dibangun oleh mereka yang paling lantang berteriak, tetapi oleh mereka yang tetap menjaga integritas ketika semua orang memilih jalan pintas.

Mari kita kembalikan Etika. Kembalikan Moral. Kembalikan rasa malu ketika berbuat curang.
Kembalikan keadilan sebagai Panglima. Kembalikan rasa memiliki negeri ini.

Sebab jika nilai-nilai itu terus hilang, yang runtuh bukan hanya kepercayaan kepada pemimpin, tetapi juga masa depan bangsa.


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp