Tiga Dekade Main Cantik, Pensiun di Ujung Senapan

Oleh: Hendri Chaniago.

Namanya Yang Youlin. Umurnya 69 tahun. Kalau di Indonesia, usia segitu harusnya sudah tenang di rumah. Momong cucu. Atau sibuk bolak-balik ke masjid.

Tapi akhir hidup Yang Youlin berantakan. Berakhir di ujung laras senapan.

Senin, 6 Juli lalu, Pengadilan Rakyat Menengah Changzhou mengetok palu. Tok! Hukuman mati. Tanpa ampun. Tanpa penundaan.

Dosa Yang Youlin cuma satu, tapi ukurannya raksasa: korupsi. Angkanya bikin geleng-geleng kepala. Bikin kalkulator error. Dia menggondol uang negara sebesar 2,21 miar yuan. Kalau dirupiahkan, kurang lebih Rp5,8 triliun.

Uang sebanyak itu kalau dibelikan kerupuk, mungkin bisa menimbun Kota Nanjing, tempatnya dulu berkuasa.

Jalan cerita Yang Youlin ini sebetulnya klasik. Cerita lama yang terus berulang.

Semua bermula tahun 1993. Saat itu, Yang masih muda. Kariernya moncer. Dia diberi mandat mengurus Zona Pengembangan Ekonomi dan Teknologi di Nanjing. Jabatan basah. Sangat basah. Di tangannya, izin lahan, proyek infrastruktur, dan anggaran miliaran yuan ditentukan.

Awalnya mungkin dia tahan godaan. Mungkin. Tapi lama-lama pertahanan jebol juga. Setan birokrasi mulai berbisik.

Skemanya rapi sekali. Selama 30 tahun—bayangkan, tiga dekade!—Yang bermain cantik. Modusnya macam-macam. Ada pengusaha butuh lahan, hubungi Yang. Ada kontraktor mau menang tender, sowan ke Yang. Ada yang butuh suntikan modal dari dana publik, Yang punya kuncinya.

Tentu tidak ada makan siang gratis. Setiap kemudahan ada harganya. Dan harganya mahal sekali. Uang suap mengalir deras ke rekeningnya.
Bahkan pada periode 2001-2002, dia nekat menguras dana perusahaan pelat merah sebesar 15 juta yuan. Uang itu diputar untuk membiayai bisnis kroninya.

Supaya tidak ketahuan, Yang bermain canggih. Dia tidak menyimpan uang itu di bawah kasur. Dia mendirikan jaringan bisnis bayangan. Pakai nama orang lain. Istilah kerennya: pencucian uang. Uang haram dicuci biar kelihatan bersih dan wangi.

Biar posisinya aman, Yang juga rajin “berbagi”. Sebagian uang suap itu dia setorkan lagi ke pejabat yang lebih tinggi. Upeti. Untuk beli perlindungan.

Aman? Awalnya iya. Sampai 30 tahun lamanya. Tapi sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Istilah itu berlaku universal. Bahkan di China.

Presiden Xi Jinping meluncurkan gerakan antikorupsi yang radikal. Slogannya terkenal: babat semua, mulai dari “lalat” sampai “harimau”. Pejabat kecil disikat, pejabat kelas kakap didepak. Tahun 2023, giliran Yang yang kena batunya. Dia ditangkap. Gurita bisnisnya dipotong.

Di dalam persidangan, Yang Youlin sempat panik. Kakek 69 tahun ini tahu betul apa konsekuensinya kalau ketahuan korupsi di atas 1 miliar yuan di China: mati.

Maka, mulailah drama manusiawi itu terjadi. Di depan hakim, Yang menangis. Menyesal sejadi-jadinya. Dia bahkan mencoba menjadi justice collaborator. Dia bernyanyi. Membongkar nama-nama pejabat lain yang ikut menikmati uang haram bersamanya. Berharap hakim kasihan. Berharap nyawanya bisa ditebus dengan informasi itu.

Tapi hakim di Changzhou berhati baja.
Hakim mengakui Yang berjasa membongkar kasus lain. Namun, dosanya terlampau besar. Kerusakan yang dia bikin terlalu masif. Negara rugi bandar. Keputusan bulat. Yang Youlin tetap harus ditembak mati. Seluruh hak politiknya dicopot seumur hidup. Dan yang paling menyakitkan bagi seorang koruptor: seluruh harta bendanya disita negara.

Habis. Bersih. Miskin total sebelum mati.

Banyak orang penasaran dengan sosok Yang Youlin ini. Mengenai hobinya, atau silsilah keluarganya. Barangkali ada anaknya yang ikut menikmati uang Rp5,8 triliun itu.

Namun jangan harap bisa tahu. Pemerintah China sangat pelit berbagi detail personal seperti itu. Media resmi mereka seperti Xinhua hanya fokus pada kejahatannya. Detail tentang masa kecil atau silsilah keluarga sengaja digelapkan demi privasi, atau mungkin juga demi efisiensi propaganda.

Bagi publik, hobi Yang Youlin cuma satu yang kelihatan, yaitu menumpuk aset ilegal dan menghitung uang di kegelapan.

Kini, semua sudah terlambat. Ruang sidang menjadi saksi akhir dari keserakahan 30 tahun. Uang Rp5,8 triliun tidak bisa membeli nyawanya kembali. Jangankan membawa harta, nama baik keluarga pun ikut terkubur.

Coba kalau drama Rp5,8 triliun ini terjadinya di Indonesia. Ceritanya pasti bakal punya alur yang jauh lebih panjang, lebih berliku, dan penuh dengan bumbu-bumbu “kearifan lokal” yang khas.

Pertama-tama, urusannya tidak akan langsung ke meja hijau. Begitu kasusnya mulai terendus, Yang Youlin versi lokal pasti tiba-tiba terserang penyakit misterius. Mendadak vertigo, mendadak sakit jantung, atau minimal mendadak harus dirawat di rumah sakit dengan leher dibalut gips dan kursi roda siap sedia. Sidang pun bisa tertunda berkali-kali atas nama kemanusiaan.

Kalaupun persidangan akhirnya berjalan dan vonis diketok, kita semua tahu ujungnya tidak akan ada bunyi desingan peluru. Di sini, hukuman mati untuk koruptor itu seperti mitos. Yang ada adalah vonis belasan tahun, yang kemudian dipotong diskon massal lewat remisi hari raya, lalu disunat lagi di tingkat peninjauan kembali.

Belum lagi cerita di dalam lapas. Dengan uang Rp5,8 triliun, dia tidak akan meringkuk di sel sempit yang pengap. Kamar penjaranya bisa disulap mirip hotel bintang tiga lengkap dengan AC, kasur empuk, dan sambungan wifi untuk memantau bisnis. Sesekali, dia bahkan masih bisa pelesiran keluar berkedok izin berobat.

Puncaknya adalah saat keluar nanti. Di China, Yang Youlin keluar dari penjara menuju peti mati dengan harta yang habis disita tanpa sisa. Kalau di Indonesia, setelah bebas merdeka, dia masih bisa tersenyum lebar di depan kamera, melambaikan tangan dengan jas necis, lalu pulang ke rumah megahnya menikmati sisa-sisa aset tersembunyi yang tidak sempat disita negara. Malah, kalau dia mau, beberapa tahun kemudian dia masih punya peluang untuk mencalonkan diri lagi menjadi pejabat daerah.

Itulah bedanya. Di sana, korupsi triliunan berakhir tragis di ujung laras senapan. Di sini, keserakahan sedahsyat itu sering kali hanya berakhir menjadi tontonan, bahan rasan-rasan di warung kopi, lalu perlahan dilupakan. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp