Ditulis : H. Marwan Yohanis, S.Sos, M.I.Kom.
Bangsa yang besar bukan tidak pernah mengalami masalah.
Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang memiliki keberanian menghadapi kenyataan , kebijaksanaan memperbaiki kesalahan, dan persatuan untuk melangkah menuju masa depan.
Indonesia hari ini sedang menghadapi tantangan yang tidak lahir dalam satu hari, dan tidak pula berasal dari satu periode kepemimpinan. Berbagai persoalan ekonomi, tata kelola, ketimpangan pembangunan, berbagai beban yang kita rasakan saat ini merupakan akumulasi perjalanan panjang bangsa. Karena itu tidak adil setiap persoalan hanya dijadikan bahan untuk saling menyalahkan, sementara solusi tidak pernah benar-benar dihadirkan.
Sudah terlalu lama energi bangsa ini terkuras oleh perdebatan yang tidak menghasilkan jalan keluar. Terlalu banyak ruang publik yang hujatan, prasangka, dan kebencian, sementara bangsa ini justru banyak membutuhkan pikiran-pikiran yang jernih, tangan-tangan yang mau bekerja, serta hati yang tetap mencintai Indonesia.
Demokrasi memang menjamin kebebasan berpendapat. Kritik adalah hak setiap warga negara, bahkan merupakan bagian penting dalam menjaga pemerintahan agar tetap berada di jalan yang benar. Namun kritik akan jauh lebih bermartabat apabila disampaikan dengan data, dengan akal sehat, dengan etika, dan yang terpenting disertai dengan solusi.
Mudah mencari kesalahan. Mudah menghakimi. Mudah mencaci.
Namun Membangun bangsa selalu jauh lebih sulit, daripada sekedar mengomentarinya.
Hari ini, setiap ikhtiar perbaikan, patut diawasi, dikritisi dan di evaluasi secara objektif. Tetapi setiap ikhtiar yang sedang dijalankan juga layak diberikan kesempatan untuk membuktikan hasilnya. Perubahan tidak pernah lahir dari sikap yang tergesa-gesa. Membangun bangsa adalah pekerjaan besar yang membutuhkan waktu, konsistensi dan dukungan seluruh elemen masyarakat.
Sejarah mengajarkan tidak ada negara yang maju hanya karena pemerintahnya bekerja sendiri. Negara maju karena rakyatnya memilih untuk ikut mengambil bagian. Akademisi menyumbangkan gagasan. Pengusaha menciptakan lapangan pekerjaan. Petani menghasilkan pangan. Nelayan menjaga Ketahanan laut. Buruh bekerja dengan penuh dedikasi. Aparatur Negara menjalankan amanah dengan penuh Integritas. Generasi muda menghadirkan inovasi. Media menyampaikan informasi secara bertanggung jawab. Dan seluruh rakyat menjaga persatuan sebagai fondasi utama kehidupan berbangsa.
Kini saatnya kita bertanya kepada diri sendiri, apa yang telah berikan kepada negeri ini? Bukan semata-mata apa yang telah negeri ini berikan kepada kita. Bangsa ini tidak lebih banyak membutuhkan orang yang hanya pandai menyalahkan. Bangsa ini lebih banyak membutuhkan warga yang berani menawarkan solusi, ikut bekerja, menjaga optimisme, dan menyalakan harapan.
Mari kita hentikan kebiasaan menghakimi sebelum memahami. Mari kita hentikan kebiasaan mencela sebelum memberikan jalan keluar.
Jangan sampai perbedaan pilihan kita kehilangan tujuan bersama sebagai bangsa.
Indonesia tidak dibangun oleh satu pemimpin, Indonesia tidak akan diselamatkan oleh satu kelompok. Indonesia akan menjadi kuat apabila seluruh anak bangsa bergandengan tangan, meninggalkan ego, mengutamakan kepentingan nasional, serta percaya bahwa gotong royong adalah kekuatan terbesar yang diwariskan oleh para pendiri bangsa.
Mari kita wariskan kepada generasi berikutnya bukan budaya saling menyalahkan, melainkan budaya saling menguatkan. Bukan kebencian, tetapi persatuan. Bukan pesimisme, tapi harapan. Bukan sekedar kritik, melainkan kritik yang melahirkan solusi.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat siapa yang paling keras berteriak, tetapi sejarah akan mencatat siapa yang paling tulus mengabdi, paling banyak memberi manfaat, dan paling sungguh-sungguh ikut membangun Indonesia.
Mari bergandeng tangan. Mari berfikir positif tanpa kehilangan daya kritis. Mari mengawal setiap langkah perbaikan dengan hati yang jernih, pikiran yang dewasa, dan semangat untuk terus berkontribusi. Sebab Indonesia yang lebih baik adalah tanggung jawab kita bersama.





