Oleh: Hendri Chaniago.
Rabu: 22: 07: 2026.
Orang-orang kaget. Naniek S. Deyang mundur. Dari Badan Gizi Nasional.
BGN itu basah. Anggarannya jumbo. Program Makan Bergizi Gratis. Jualan utamanya presiden. Tapi Naniek justru melambaikan tangan. Dadah.
Alasan resminya: sakit jantung. Butuh berobat ke luar negeri.
Maklum. Usia. Beban kerja. Dan tekanan. Tapi di warung kopi, cerita bisa lain. Kopi hitam dingin duluan sebelum gosipnya habis.
BGN memang lagi diamuk Kejagung. Kejagung lagi galak-galaknya. Penggeledahan. Penyegelan.
Mantan Kepala BGN, Dadan Hindayana, sudah kena. Eks Wakilnya, Sonny Sanjaya, ikut terseret. Rumah dinas sepi. Ruangan disegel pita kejaksaan.
Naniek itu sebenarnya masuk buat pemadam kebakaran. Menyapu sampah yang ditinggalkan pejabat lama. Tapi sweep-sweep di sarang tawon pasti disengat.
Kejaksaan Agung pun sudah angkat bicara. Kata Kapuspenkum, mundur ya silakan. Tapi kalau penyidik butuh keterangan, ya tetap dipanggil. Tidak ada pintu tol bebas hambatan di depan hukum.
Sebelum mengibarkan bendera putih, Naniek sempat sowan ke KPK. Bersama petinggi BGN lain. Bertamu ke Gedung Merah Putih. Entah koordinasi, entah curhat, atau minta saran cara selamat dari pusaran anggaran.
Maka timbul dua analisis di tengah publik. Pertama, faktor dada. Jantung itu bukan mainan. Kalau dokter bilang stop, ya harus stop. Mengurus makan gratis jutaan anak sekolah itu berat. Kalau jantungnya ikut “gratisan” alias berhenti berdetak, diri sendiri yang rugi.
Kedua, faktor rem. Naniek itu wartawan senior. Nalurinya tajam. Dia tahu kapan harus tancap gas, tahu kapan harus banting setir.
Berada di dalam lembaga yang sedang diamuk jaksa itu ibarat duduk di atas kompor meledak. Lebih baik mundur. Menarik garis tegas. Supaya aman, atau minimal tidak makin belepotan.
Lagipula, Naniek itu jiwa merdeka. Biasa nulis cepat. Bebas. Ceplos-ceplos. Begitu masuk sangkar birokrasi, baunya kaku. Baju dinasnya terasa sempit. Kancingnya mau copot.
Mundur adalah pilihan paling masuk akal. Buat kesehatan. Buat keselamatan.
Kini BGN kembali goyah. Nahkodanya ganti lagi. Masakan belum matang, dapurnya sudah kebul asap hukum.
Naniek sudah di luar gelanggang. Tinggal kita yang di warung kopi, nambah pisang goreng hangat, sambil menunggu siapa lagi yang bakal dipanggil Kejagung minggu depan. (***)





