Oleh: Hendri Chaniago.
Sabtu: 01:08:2026.
Goyangannya tak perlu dibikin-bikin. Naik panggung, pegang mikrofon, senyum tipis—lalu, Bamm! Suara itu meluncur mulus. Garang. Tapi tetap santun.
Itulah Diva Intan. Lengkapnya: Intan Ladiva Marsya. Anak muda dari Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Tempat di mana sampan berlari di atas air saat Pacu Jalur, dan vokal meliuk tanpa batas di atas panggung Dangdut Academy 8 (D’Academy 8) Indosiar.
Orang Kuansing tentu paham betul rasanya. Di sana, kalau tak lihai mendayung, ya pandai menyanyi. Dan Diva memilih keduanya: mendayung nasib lewat nada.
Di babak Top 37, tantangannya tidak main-main. Dia membawakan lagu berkelas berat: Semakin Sayang Semakin Kejam. Lagu yang pernah dipopulerkan Bunda Rita Sugiarto.
Lagu jebakan Batman. Salah meliuk sedikit saja, napas tekor, juri langsung geleng-geleng kepala. Tapi Diva? Tenang sekali.
Cengkoknya rapat. Kontrol nadanya presisi. Tidak ada kesan tergesa-gesa. Anak muda ini bernyanyi seperti orang yang sedang menikmati secangkir kopi hitam manis di tepi Sungai Kuantan: santai, tapi meresap sampai ke tulang.
“Penampilannya nyaris sempurna,” bisik dewan juri. Tak tanggung-tanggung, tiga Standing Ovation (SO) langsung mendarat hangat untuknya.
Siapa saja juri yang dibuat terkesima malam itu? Lengkap. Deretan nama mentereng. Ada Soimah Pancawati yang biasanya terkenal ‘pelit’ pujian dan tajam kalau melihat nada sumbang. Ada Dewi Perssik dengan intuisinya yang tajam. Ada King Nassar yang siap heboh. Ditambah Lesti Kejora dan Wika Salim.
Semuanya sepakat: Diva punya aura bintang. Hasilnya? Bukan sekadar pujian manis di bibir. Diva diganjar tiket lolos langsung. Bebas dari cemas babak eliminasi. Mulus. Seperti naik sampan yang jalurnya sudah dibersihkan dari kayu hanyut.
Di Kuansing, warung-warung kopi mendadak riuh. Ibu-ibu lupa mematikan kompor, bapak-bapak sibuk memelototi layar televisi sambil memegang ponsel. Jempol bergerak cepat: vote, vote, dan vote. .
Begitulah kalau anak daerah bertarung di Jakarta. Bukan cuma urusan musik, tapi urusan harga diri kampung halaman.
Diva baru mengayuh dayung pertamanya di panggung megah itu. Perjalanan masih panjang. Tapi malam itu, dari Jakarta sampai ke ceruk-ceruk rantau Kuantan, orang tahu: gadis muda dari Kuansing ini datang bukan untuk main-main. (***)





