Oleh: Hendri Chaniago
Rabu: 05:08:2026.
Angin sore di Tepian Narosa berembus pelan. Santai betul.
Di depan kami, Batang Kuantan mengalir tenang. Tampak dari kejauhan, pemacu jalur -jalur sedang latihan. Gemuruh perhelatan agung itu sudah terbayang di depan mata.
Sudah lama kami tidak duduk melingkar seperti ini. Begitu ada kesempatan, jadilah. Kami bertukar pikiran. Lepas. Tanpa sekat protokoler gedung daerah.
Di sebelah kiri saya, ada Ketua Apdesi Kabupaten Kuansing. Mukanya tenang, tapi tabungan pikirannya tebal. Di sebelah kanan, anggota DPRD Kuansing. Senyumnya ramah, matanya cermat. Sebelahnya lagi, Ketua Umum Pacu Jalur. Wajahnya sibuk memikirkan teknis helat besar bulan ini. Dan yang memakai baju putih lengan panjang rapi itu, adinda kita Camat Kuantan Tengah.
Kami duduk di atas kursi plastik birunya warung pinggir sungai. Di meja, ada es kelapa muda. Ada rokok. Lengkap. Suasananya warung kopi, tapi topik bahasannya setingkat rapat kabinet terbatas.
Bicara soal Kuansing hari ini, ibarat melihat orang yang sedang mengidap penyakit demam meriang. Batuk-batuk.
Keuangannya yang batuk. Suaranya sampai ke ujung-ujung desa.
Banyak desa kini menjerit. Mengeluh. Siltap—penghasilan tetap alias gaji aparat desa—mandek. Sudah beberapa bulan tak menetes. Padahal, beras di dapur tak bisa dibeli pakai janji. Listrik kantor desa tak bisa dibayar pakai keprihatinan.
Aparat desa itu ujung tombak. Kalau ujung tombaknya tumpul dan lapar, bagaimana mau melayani warga dengan senyum manis.
Ketua Apdesi menarik napas panjang. Anggota DPRD mengangguk-angguk kecil. Camat Kuantan Tengah memperjelas duduk perkaranya. Ini bukan sekadar angka di atas kertas APBD.
Ini soal isi piring ribuan keluarga pamong di tingkat bawah. Semua persoalan ini harus segera dicari solusi jalan keluarnya. Harus. Tidak bisa ditunda lagi dengan alasan “nanti setelah Pacu Jalur.”
Tapi, inilah uniknya Kuansing.
Di satu sisi, keuangan daerah sedang meriang. Di sisi lain, eforia Pacu Jalur di Tepian Narosa tak bisa ditawar-tawar lagi. Bulan ini helat itu tiba.
Sorak-sorai penonton akan bergemuruh. Jalur-jalur akan melaju cepat bagai anak panah di atas air.
Pacu Jalur itu marwah. Itu harga diri. Itu darah yang mengalir di tubuh setiap anak negeri Kuantan Singingi. Tak ada yang bisa melarang rakyat untuk bersuka cita.
Maka di meja kecil ini, benturan dua realitas itu terasa begitu nyata.
Bagaimana caranya menjaga pesta rakyat tetap megah, sementara kantong daerah sedang kempis? Bagaimana mendayung jalur di tengah gelombang keuangan yang sedang surut.
Pacu Jalur itu harga diri dan marwah. Tapi perut aparat desa yang lapar juga soal kemanusiaan. Kedua-duanya harus jalan, tak boleh ada yang dikorbankan.”
Di sinilah pentingnya duduk bersama. Bukan untuk saling menunjuk hidung. Bukan untuk mencari siapa yang salah. Tapi untuk memeras otak mencari jalan pintas yang selamat.
DPRD harus gesit memetakan ulang skala prioritas. Pemkab harus lincah mencairkan hak-hak dasar desa. Dan panitia Pacu Jalur harus kreatif menggaet sponsor luar agar tak melulu menyedot sumsum anggaran daerah.
Sore kian temaram di Tepian Narosa. Es kelapa di gelas tinggal sisanya. Namun diskusi kami belum sepenuhnya usai.
Kuansing memang sedang batuk. Tapi Kuansing belum kalah. Selama para pemangku kepentingannya masih mau duduk bersama di atas kursi plastik pinggir sungai—saling dengar, saling paham—selalu ada jalan keluar.
Menjelang helat dimulai, mari kita obati demam daerah ini. Agar saat sorak-sorai ” Kayuah.. Kayuah” berkumandang di Batang Kuantan, kita semua bisa tersenyum lepas. Tanpa ada ganjalan di hati, tanpa ada beban gaji yang tertunda di belakang layar.
Sebab, kemenangan sejati Pacu Jalur adalah ketika rakyatnya gembira, dan para pelayannya sejahtera.





