Oleh: Hendri Chaniago.
Senin: 11:08:2026.
Orang Kuantan Singingi itu unik. Kalender mereka beda dengan orang kebanyakan. Kalau orang lain cuma punya satu musim mudik besar dalam setahun—ya Idulfitri itu—orang Kuansing punya dua. Satu lagi hadir di bulan Agustus. Tepat saat Festival Pacu Jalur digelar.
Bagi anak rantau Kuansing, dua momen ini punya derajat yang hampir sejajar. Sakral. Sama-sama bikin dada sesak kalau tak bisa pulang. Sama-sama bikin mata berkaca-kaca kalau cuma bisa memandangi fotonya lewat HP di kamar kos di Jogja, Jakarta, atau Pekanbaru, Batam, Malaysia dan Singapura.
Di situlah letak masalahnya.
Tidak semua anak rantau punya rezeki berlebih. Bos tempat kerja tidak selalu murah hati memberi cuti dua kali setahun. Tambah lagi ongkos pulang kampung yang makin hari makin tidak bersahabat. Lalu timbullah dilema kebudayaan yang maha berat.
Mereka terpaksa menimbang antara pulang Lebaran atau pulang saat Pacu Jalur. Ini pilihan yang sungguh sulit. Beratnya setara dengan urusan memilih pasangan hidup.
Pilihan pulang Lebaran punya alasan jelas. Sungkem sama orang tua. Minta ampun dosa setahun. Ziarah ke kubur datuk-datuk. Makan rendang kampung dan lemang hangat. Sah. Sangat Islami.
Tapi ada harga yang harus dibayar. Bulan Agustus nanti, saat gambar jalur meliuk-liuk di Batang Kuantan bertebaran di sosmed, si perantau cuma bisa gigit jari. Mendengar teriakan “Kayuah…! Kayuah…!” lewat siaran langsung Instagram membuat dada berdebar kencang. Berasa ada yang dicabut dari jiwanya.
Sebaliknya, ada yang nekat menahan rindu saat Lebaran demi bisa pulang Agustus. Di rantau dia meringkuk sendirian saat takbir bergema. Tapi begitu Agustus tiba, dia berdiri di tepi Sungai Kuantan, bersorak sampai suaranya serak, bertemu kawan lama, menonton sampan panjang melaju bak anak panah. Serasa hidup kembali sepenuhnya. Dua-duanya manis, dua-duanya berat.
Masing-masing punya tempat tersendiri di dalam dada anak Kuantan.
Urusan ini bukan cuma milik anak rantau. Yang tinggal di kampung halaman pun tak kalah hebohnya. Bagi warga Kuansing di kampung, dua peristiwa ini adalah ujian ketahanan ekonomi sekaligus pesta kebahagiaan.
Mereka rela menabung setahun penuh. Menyisihkan rupiah demi rupiah dari hasil menderes karet, panen sawit, atau jualan di pasar.
Semua dilakukan khusus demi menghadapi dua momen besar itu. Saat Idulfitri, uang tabungan keluar untuk beli baju baru anak-anak, bikin kue, isi toples di meja tamu, dan menyambut saudara yang pulang dari jauh. Rumah harus terang, hati harus lapang.
Masuk bulan Agustus, uang tabungan keluar lagi. Kali ini untuk mendukung jalur desa, sumbangan jalur, beri makan para pendayung, hingga beli baju seragam suporter. Belum lagi untuk ongkos jajan anak-istri di tepi Kuantan selama empat hari berturut-turut.
Tak seorang pun mengeluh.
Ini bukan pemborosan. Ini tabungan jiwa. Uang bisa dicari lagi bulan depan, tapi harga diri kampung dan kegembiraan menyambut kerabat tak bisa dibeli secara eceran.
Teknologi boleh makin canggih. AI bisa bikin simulasi Pacu Jalur dengan grafis super mulus. Namun AI tak akan pernah tahu rasanya mencium bau air Sungai Kuantan yang keruh khas itu saat siang terik.
Mesin pintar tidak merasakan dada bergetar hebat saat sorak-sorai ribuan orang pecah ketika dua jalur beradu tipis di garis finis. Mesin tak mengerti nikmatnya makan ketan di tepi sungai sambil berkeringat peluh bersama kawan masa kecil.
Idulfitri mengikat anak Kuantan dengan Tuhan dan keluarga. Pacu Jalur mengikat mereka dengan tanah kelahiran, akar tradisi, dan kebanggaan sebagai warga Kuansing.
Dua-duanya sakral. Dua-duanya hidup.
Jika bulan Agustus nanti ada orang Kuansing mendadak minta izin libur demi pulang kampung, hal itu sangat bisa dimaklumi. Jiwa mereka memang sedang dipanggil oleh Batang Kuantan.
Sebab bagi anak Kuantan, pulang itu bukan sekadar perjalanan fisik. Pulang adalah cara merawat warisan agar tak punah ditelan zaman.
Tak terasa, dua pekan dari sekarang Batang Kuantan akan kembali membara. Tanggal 19 sampai 24 Agustus menjadi puncaknya. Tepian Narosa sudah memanggil-manggil nama kalian.
Pertanyaannya tinggal satu untuk anak rantau: mau ikut berdesakan merasakan getaran gemuruh di tepi sungai, atau cukup mengelus dada sambil menatap layar HP dari jauh?. (***)





