Secukupnya, Bukan Semaunya

Oleh: Hendri Chaniago.
Minggu: 23;08:2026.

Kopi itu nikmat. Asal secangkir. Coba kalau segalon. Mual.

Bakso juga begitu. Semangkuk terasa gurih. Dagingnya kenyal. Kuahnya hangat. Tapi kalau disajikan sebaskom, itu bukan makan enak. Itu siksaan.

Sama seperti pelangi. Ia indah justru karena cuma menumpang lewat. Paling sepuluh menit. Setelah hujan teduh. Lalu hilang.

Bayangkan kalau pelangi mejeng di langit seharian. Dari terbit matahari sampai malam. Lama-lama bosan. Cuma jadi pajangan yang dilewati begitu saja. Tidak ada lagi orang yang lari ke luar rumah sambil berteriak kegirangan.

Manusia itu sering keliru. Kita kerap berpikir, makin banyak pasti makin nikmat. Makin lama pasti makin indah.

Padahal tidak.

Dunia ini punya hukum takaran. Rasa nikmat itu lahir dari batas. Bukan dari kelimpahan tanpa kendali.

Di warung kopi, kita sering lihat orang gila kerja. Ambisi digenjot terus. Kerja dari pagi ketemu pagi. Harta ditumpuk. Tapi matanya sayu. Badannya remuk. Kopi di mejanya dingin tanpa sempat dinikmati.

Dia punya segalon, tapi kehilangan nikmatnya secangkir.

Begitu juga soal keinginan. Manusia kalau menuruti “semaunya”, tidak bakal pernah kenyang. Mangkuk pertama terasa nikmat. Mangkuk kedua mulai biasa. Mangkuk ketiga perut begah. Mangkuk keempat jadi bencana.

Keinginan yang dituruti terus-menerus itu mirip makan bakso sebaskom. Bukan bikin puas, cuma bikin engap.

Rindu pun sama. Pertemuan itu manis karena ada jeda. Karena ada perpisahan. Ketemu terus tiap detik tanpa jarak cuma bakal bikin cakar-cakaran.

Pelangi dalam hidup kita memang harus muncul sebentar saja. Agar kita belajar menghargai momen. Agar kita sadar bahwa yang indah itu sering kali yang tidak bertahan selamanya.

Maka, belajar mencukupkan diri itu seni tingkat tinggi. Bukan berarti malas. Bukan berarti tidak punya cita-cita. Tapi tahu kapan harus mengerem. Tahu kapan harus bilang: sudah, cukup.

Kebebasan sejati itu bukan saat kita bisa membeli dan menguasai apa saja semau kita. Tapi saat kita mampu menahan diri untuk cukup mengambil seperlunya.

Nikmati kopimu. Mumpung masih hangat. Secangkir saja. Jangan minta segalon. Sebab bahagia itu memang sederhana: secukupnya, bukan semaunya. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp