Oleh: Hendri Chaniago.
Senin: 24:08:2026.
Hidup ini kadang suka melucu. Dan lucunya kerap tidak terduga.
Anak ini lahir di Banyuwangi, 20 Juni 1967. Bapaknya bernama Suwarno, ibunya Tupon. Pekerjaan orang tuanya sederhana sekali: petani gurem. Garapan tanahnya cuma sepetak, pas-pasan buat makan besok.
Sudah miskin, fisiknya diuji lagi. Sejak kecil gagap, bahkan hampir saja bisu. Saat bicara, lidahnya kelu dan suaranya tersendat-sendat di tenggorokan. Di Sekolah Dasar, penderitaannya bertambah karena dua kali tidak naik kelas. Sangat merana perasaan anak kecil itu saat dipermalukan nasib berkali-kali.
Masuk SMA, nasib belum juga berpihak. Di kelas satu SMA, nilainya menduduki ranking 47 dari 47 siswa. Paling buncit, menjadi juru kunci.
Namanya: Wayan Supadno.
Jikalau ini naskah film Hollywood, penonton pasti sudah meninggalkan bioskop karena alur cerita yang terlalu menderita dan tanpa harapan.
Tapi Wayan tidak membaca naskah Hollywood. Dia punya “mantra” sendiri yang disebutnya PSDS: Poor, Smart, with Deep Desire to become wealthy. Miskin, pintar, dan punya hasrat yang sangat membakar untuk mengubah nasib.
Tekadnya gila-gilaan. Dari ranking 47, dia genjot habis-habisan hingga saat lulus SMA dia melesat jadi peringkat 1 di sekolahnya. Paling atas.
Tahun 1987, Wayan kuliah di Universitas Airlangga (UNAIR) ambil D-III Fisioterapi di Fakultas Non-Gelar Kesehatan (FNGK). Lulus kuliah, dia sempat bekerja di perusahaan farmasi.
Nasib kemudian membawanya ke belantara lain saat dia masuk militer dan menjadi Perwira TNI. Karirnya mulus hingga jabatan terakhirnya Mayor di Pusat Kesehatan Markas Besar TNI.
Sebagai seorang Mayor TNI dengan seragam rapi, bintang di pundak, karir terjamin, serta dana pensiun aman, hidupnya sudah sangat mapan.
Ternyata kemapanan itu belum cukup bagi Wayan. Jiwanya tidak berhenti bergolak dan hatinya tetap memanggil untuk kembali ke tanah.
Namun, jalan memutar menuju puncak agribisnis tidak berjalan mulus bagai jalan tol. Sebelum mengecap manisnya kesuksesan proferti dan perkebunan, Wayan sempat tergelincir parah.
Tergiur ekspansi bisnis di luar keahlian utamanya, dia menjajal peruntungan di bidang properti dan rumah sakit.
Hasilnya? Remuk. Kesalahan perhitungan dalam ekspansi besar-besaran itu menghantamnya telak. Dia diterjang badai kebangkrutan hingga menelan kerugian fantastis, berkisar Rp 30 hingga 38 miliar. Angka yang sanggup merontokkan mental siapapun.
Tapi bagi Wayan, hantaman Rp 38 miliar itu bukan vonis mati. Itu hanya biaya “kuliah kehidupan” yang sangat mahal. Di titik nadir itulah dia melakukan konsolidasi total, membuang gengsi, dan merapatkan barisan untuk kembali pada cinta pertamanya: agribisnis.
Sepuluh tahun lalu saat pensiun dari militer, dia tidak memilih duduk manis di kursi goyang sambil menikmati kopi sore. Dia malah terbang jauh ke Kalimantan Tengah, masuk ke Kabupaten Kotawaringin Barat.
Banyak orang menggelengkan kepala melihat lahan yang dibeli Wayan di sana keras, kering, dan tandus. Sangat jarang ada orang yang mau bertani di tanah sengsara begitu.
Wayan tetap nekat. Dia tebar pupuk kandang berkarung-karung dan membiarkan mikroorganisme bekerja. Tanah disayang, diajak bicara, dan ditungguin.
Butuh waktu satu tahun penuh hanya untuk membuat tanah itu ramah pada tanaman. Lalu dia tanam jeruk Chokun, jenis jeruk asal Thailand yang suka cuaca panas dataran rendah.
Wayan tidak belajar ilmu jeruk dari dosen IPB atau guru besar pertanian.
“Mbah Google yang jadi guru pertama saya,” aku Wayan sambil terkekeh.
Dia belajar otodidak memaksa otaknya menyerap informasi internet. Setelah paham dasarnya, baru dia rekrut sarjana-sarjana pertanian untuk eksekusi lapangan.
Hasilnya dahsyat.
Dari 12 hektar lahan, dalam waktu 8 bulan dia bisa panen 3 kali. Sekali panen tembus 125 ton dengan nilai sekitar Rp 1,3 miliar.
Kebun jeruk Wayan di Kotawaringin Barat kini tercatat sebagai yang terbesar di antara lima petani utama jeruk Chokun di Indonesia.
Uang Rp 1,3 miliar itu tidak dia pakai untuk beli mobil mewah atau jalan-jalan ke Eropa. Wayan menggeleng. Keuntungannya dia kembangkan lagi untuk peternakan sapi.
Di sinilah kejeniusan Wayan Supadno terpancar lewat jurus efisiensi tingkat tinggi. Dia gabungkan kebun sawitnya di Desa Pasir Panjang dengan ternak sapi. Prinsipnya sederhana, tapi sangat memangkas biaya operasional.
Selama ini, petani sawit selalu pusing memikirkan gulma atau rumput liar yang memakan biaya herbisida mahal. Padahal bagi sapi, gulma adalah pesta makan siang.
Saat sapi dilepas, gulma habis dimakan tanpa herbisida. Lingkungan bersih dan biaya obat kimia menjadi nol besar.
Kotoran sapinya lalu diolah jadi pupuk organik untuk kelapa sawit, membuat tanaman subur tanpa harus bergantung pada pupuk kimia yang harganya makin melangit.
Dalam hitungan Wayan, 60 sampai 65 persen biaya produksi kebun ada di pupuk dan herbisida. Dengan pola Sawit-Sapi, biaya pokok produksi bisa dipangkas hingga 50 persen dan keuntungan petani melesat tajam.
Kini, skala usaha praktisi pertanian terpadu ini makin raksasa. Wayan mengelola sekitar 700 ekor sapi dengan strategi pemeliharaan yang presisi: 500 ekor sapi dilepas liar di area kebun sawit seluas 57 hektare untuk mencari makan mandiri sekaligus menjadi mesin alami pengendali gulma.
Dan 200 ekor sapi ditempatkan di dalam kandang khusus yang dikelola secara intensif untuk program penggemukan.
Kebun sawitnya membentang di tiga daerah: Pangkalan Bun (Kalteng), Banyuwangi (Jatim), dan Bogor (Jabar). Total aset mantan anak gagap yang dulu tak naik kelas 2 kali—dan pernah dihantam bangkrut puluhan miliar—kini menembus angka Rp 150 Miliar.
Tahun 2015, dia dinobatkan jadi 11 Inspirator Agribisnis Indonesia. Tahun 2016, dapat penghargaan Petani Inovatif Nasional dari Presiden RI. Tahun 2020, saat HUT ke-75 RI, dia dianugerahi gelar Icon Prestasi Pancasila.
Saat bertemu Wayan hari ini, dia tetaplah sosok yang membumi dengan wajah khas petani yang akrab dengan sengatan matahari.
Dia suka memberi contoh tentang Ethiopia dan Israel yang memiliki tanah jauh lebih tandus, namun mereka tidak menyerah dan memaksa tanah tandus itu menjadi subur dengan akal.
Catatan ini mengajarkan satu hal penting bahwa hidup tidak diukur dari seberapa buruk garis start atau seberapa dalam kita pernah jatuh, melainkan dari seberapa keras kita mau bangkit dan terus melangkah saat keadaan menyuruh untuk menyerah.
Mbah Google memberi ilmu, sapi memberi pupuk, dan Wayan Supadno memberikan pelajaran mahal bahwa kemiskinan, kegagalan, dan kebangkrutan masa lalu hanyalah bahan bakar untuk kejayaan esok hari.
Salam dari warung kopi. (***)





