


Oleh: Hendri Chaniago.
Pagi tadi, Teluk Kuantan pecah. Ramai sekali. Kalau Anda tidak ke sana, Anda rugi besar.
Kabupaten Kuantan Singingi—Kuansing yang kita cintai ini—resmi jadi tuan rumah MTQ ke-44 tingkat Provinsi Riau. Dan seperti biasa, acara pembukaannya selalu punya magnet paling kuat: Pawai Ta’aruf.
Saya sengaja berdiri di pinggir jalan sejak pagi. Berbaur dengan ribuan warga. Cuacanya agak terik. Tapi kalah oleh panasnya semangat warga yang tumpah ruah. Bau asap rokok, aroma parfum murahan, sampai wangi durian bercampur jadi satu. Khas suasana pesta rakyat.
Lalu, pawai dimulai. Mata saya langsung tertuju pada rombongan Kuantan Mudik.
Di atas mobil hias, ada pemandangan yang bikin semua orang tertawa gemas. Ada “Bupati” baru. Tapi tingginya belum genap satu meter. Sambil memakai kacamata hitam yang kebesaran, si anak lelaki melambaikan tangan dengan wajah super berwibawa. Di sebelahnya, ada “Bunda PAUD” cilik yang memakai mahkota berkilau.
“Mirip betul gaya bupatinya, tinggal tunggu jenggotnya tumbuh saja,” seloroh seorang bapak di sebelah saya. Kami semua tertawa. Bocah-bocah itu seperti tidak punya beban. Mereka menikmati jadi “penguasa” Teluk Kuantan selama beberapa jam.
Tapi yang membuat saya geleng-geleng kepala adalah kreativitas kostumnya. Ini bukan pawai biasa. Ini panggung sirkus kebudayaan.
Bayangkan. Ada seorang dara cantik berjalan anggun, tapi di punggung dan tangannya ada replika durian raksasa berkelir hijau tajam. Lengkap dengan keranjang anyaman bambu. Dia tersenyum ramah, meski saya yakin beban di pundaknya itu lumayan bikin pegal. Demi estetika, demi Kuansing, rasa pegal itu ditahan dulu.
Ada lagi yang lebih ekstrem. Kostum bertema panen raya. Kreatifnya kelewatan. Di kostum megah itu, ada replika karung beras mini bertuliskan “Heller”. Benar-benar beras segoni dibawa ke jalanan. Di atas kepalanya, ada untaian padi kuning yang meliuk-liuk. Kreatif dan sangat unik. Ini cara paling jujur untuk bilang bahwa tanah kami subur dan kami tidak kekurangan pangan.
Tak jauh di belakangnya, musik berdentum lembut. Nuansa Islami berpadu dengan tradisi. Seorang peserta tampil dengan kostum merah muda keunguan. Di badannya menempel gong emas besar dan simbol-simbol not balok. Cantik sekali. Sambil berjalan, senyumnya tidak pernah luntur. Lalu, suasana mendadak riuh oleh teriakan para remaja putri. Ternyata yang lewat adalah barisan Bujang dan Dara Kecil Kuansing 2026.
Mereka memakai baju adat Melayu hitam dengan kain songket pucuk rebung yang warnanya kontras. Gagah dan anggun. Yang laki-laki senyumnya pamer kawat gigi, yang perempuan melambaikan tangan bak putri kerajaan.
Mereka berjalan santai, menyapa warga seolah-olah jalanan Teluk Kuantan pagi itu adalah milik mereka berdua. Melihat mereka, ada rasa hangat yang menjalar di dada. Sederet kemeriahan ini jelas tidak tumbuh dari ruang hampa.
Semua keindahan ini lahir dari tangan-tangan kreatif yang begadang bermalam-malam, dari peluh yang menetes saat merangkai replika durian, hingga rasa bangga orang tua yang berdiri berjam-jam di tepi jalan hanya demi melihat anak tetangga ikut berbaris.
Ada ketulusan dan rasa memiliki yang sangat tebal di sana. Itulah nyawa asli dari tanah rantau kita yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh tontonan layar kaca paling canggih sekalipun.
Pawai tadi pagi bukan sekadar seremonial. Itu adalah perayaan kehidupan. Tentang bagaimana agama, adat, dan tawa anak-anak bisa menyatu di atas aspal Teluk Kuantan yang panas. Sungguh sebuah momen yang membuat siapa saja pulang dengan hati yang riang. (***)





