Bahaya Ambisi Si Bodoh

Oleh: Hendri Chaniago.
Kamis: (9/7/2027)

Kita sering keliru. Kita takut pada orang cerdas yang jahat. Kita ngeri membayangkan diktator yang pintar. Otak mereka encer, rencananya rapi.
Padahal, sejarah punya cerita lain. Ada yang jauh lebih mengerikan: orang bodoh, tapi ambisius, dan—ini yang celaka—konsisten.

Kalau orang pintar jadi diktator, dia masih punya kalkulasi. Ada batas logis di kepalanya. Dia tahu kapan harus mengerem karena hitungan untung-ruginya jelas.

Berbeda cerita kalau orang bodoh sudah punya ambisi mutlak. Remnya langsung blong. Dia tidak punya visi, tidak punya misi. Di kepalanya cuma ada satu hal: pokoknya harus berkuasa. Titik. Negara mau hancur, rakyat mau menderita, persetan. Yang penting egonya kenyang.

Karl Marx pernah mengulas ironi ini. Serius tapi agak sinis. Dia membandingkan dua sosok legendaris di Prancis yang kebetulan memakai nama besar yang sama: Napoleon.

Yang pertama, Napoleon Bonaparte. Ini pahlawan asli, jagoan tulen. Dia merangkak dari tentara biasa, bukan anak jenderal. Tapi otaknya memang brilian. Tahun 1793 dia menang di Toulon. Dua tahun kemudian, dia meredam pemberontakan di Paris.

Setahun setelah itu, Austria dia tekuk. Hanya butuh enam tahun bagi Napoleon untuk jadi Konsul Pertama Prancis. Naik takhtanya cepat sekali.
Puncaknya tanggal 9 November 1799. Napoleon melancarkan kudeta. Direktorat digulingkan dalam semalam. Rapi, tanpa banyak drama konyol.

Karl Marx menyebut Napoleon sebagai “diktator jenius”. Tindakannya membawa tragedi besar bagi Eropa, itu betul. Tapi dunia tidak bisa berbohong bahwa orang itu punya kapasitas sebagai pemikir ulung dan komandan berbakat.

Lalu, sejarah melucu. Humor sejarah itu kadang memang getir.

Tahun 1851, datanglah keponakannya yang bernama Louis Napoleon. Namanya mirip, ambisinya sama besar, tapi kualitas otaknya jauh panggang dari api. Yang satu pemikir, yang ini cuma petualang politik asal-asalan tanpa prestasi nyata alias nol besar.

Sialnya, Louis Napoleon bisa meniru cara pamannya. Dia mendompleng nama besar Napoleon Bonaparte untuk menipu jutaan petani Prancis yang lugu. Rakyat terpukau oleh nostalgia masa lalu hingga mereka lupa memeriksa isi kepala si calon pemimpin.

Cara Louis merebut kekuasaan pada 2 Desember 1851 juga sangat murahan. Tidak ada seni militernya sama sekali karena dia tidak memenangkan pertempuran besar.

Dia cukup pakai tiga modal: beli tentara pakai uang, rampok Bank of France untuk modal, lalu tangkap semua lawan politik di tengah malam saat mereka sedang tidur nyenyak. Licik, tapi nyata-nyata efektif.

Di sinilah Karl Marx geleng-geleng kepala melihat hal yang paling mengerikan. Louis Napoleon memimpin tanpa arah. Karena dia tidak pintar, dia tidak tahu cara membangun dan tidak mengerti sistem.

Maka, satu-satunya cara mempertahankan diri adalah dengan merusak apa saja yang menghalangi jalannya. Hukum diacak-acak, institusi negara dihancurkan. Dia konsisten dalam kebodohannya, sekaligus konsisten dalam ambisinya. Ini kombinasi yang mematikan.

Banyak orang heran orang bodoh seperti Louis Napoleon bisa sukses. Padahal jawabannya adalah otokritik yang menampar kita semua. Marx menyimpulkan hal yang sangat jitu bahwa tirani modern itu lahir bukan karena si bodoh terlalu sakti, melainkan karena adanya kekosongan akibat diamnya kaum cerdik pandai.

Sejarah berulang dengan sendirinya, kata Marx yang terkenal itu, “Pertama sebagai tragedi, kedua sebagai lelucon konyol.” Tamparan itu sebenarnya ditujukan kepada kaum intelektual saat itu.

Saat Louis Napoleon bergerak, orang-orang pintar di Prancis sedang sibuk sendiri. Mereka sibuk bertengkar, merasa paling suci, merasa paling benar, lalu saling menjatuhkan antar-kelompok. Sebagian lagi memilih apatis dan masa bodoh, yang penting bisnis pribadi aman.

Sikap egois dan abai dari kaum cerdik pandai inilah yang membuka karpet merah bagi si bodoh. Ketika orang pintar memilih diam dan berdebat kusir di ruang seminar, panggung kekuasaan yang kosong langsung diserobot oleh petualang politik tanpa beban.

Orang bodoh sering kali menang bukan karena mereka hebat, tapi karena orang-orang baik dan pintar memilih jadi penonton yang bisu.

Maka dari itu, kalau hari ini kita melihat sekeliling lalu mendapati keadaan makin kacau karena dipimpin oleh orang-orang yang tidak kompeten, kita tidak boleh buru-buru menyalahkan si bodoh. Kita harus menengok dulu orang-orang pintarnya, jangan-jangan mereka sedang asyik ngopi sambil pura-pura tidak tahu. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp