Oleh: Hendri Chaniago.
Kamis: (9/7/2027).
Kejutan itu datangnya pagi. Ketika orang Kuansing masih memeluk sarung, KPK sudah mengetuk pintu.
Suhardiman Amby tumbang. Kena OTT.
Tuduhannya klasik tapi bikin geleng kepala: jual beli jabatan Sekda. Ternyata, urusan kursi basah belum selesai di negeri jalur ini.
Tapi itu baru kulitnya. Begitu kotak pandora dibuka, aromanya ke mana-mana. Amis. Kasusnya melebar bak banjir bandang Sungai Kuantan. Dari urusan meja Sekda, merembet ke suap pelepasan kawasan hutan di kementerian.
Belum cukup, KPK mengendus lagi gurita lain, ada dugaan monopoli proyek. Lengkap sudah penderitaan rakyat.
Dalam situasi carut-marut itulah nama Mukhlisin muncul.
Sebagai Wakil Bupati, dia otomatis naik takhta secara hukum. Konstitusi langsung menunjuknya jadi PLT Bupati. Istilah keren jurnalisnya, transisi kekuasaan yang sah. Istilah warung kopinya, nasib membawanya menerima bom waktu yang sumbunya sudah membara.
Saya membayangkan Mukhlisin duduk di kursi kerjanya pada hari pertama sebagai orang nomor satu. Dia pasti memijat kening. Kursi yang dia duduki itu masih hangat oleh bekas pasangan politiknya dulu, yang kini terpaksa ganti seragam pakai rompi oranye.
Di depannya, berkas-berkas menumpuk. Di luar ruangan, para ASN berbisik-bisik. Suasana Pemkab Kuansing hari-hari ini mirip kuburan, sunyi, tegang, dan saling curiga.
Tugas Mukhlisin itu teramat berat. Bukan sekadar menjalankan roda pemerintahan, melainkan menyapu lantai yang super kotor. Waktu yang dia miliki juga terbilang panjang. Pilkada berikutnya masih lama, empat tahun lagi.
Artinya, modal status otomatis sebagai pengganti ini memberinya napas dan waktu yang cukup untuk berbenah, bukan sekadar jadi pejabat transisi sesaat.
Langkah pertamanya harus radikal: dekontaminasi birokrasi. Bahasa pasarannya, cuci gudang. ASN yang kemarin jadi “pemain” atau loyalis transaksional harus digeser. Tapi menggeser orang di birokrasi itu tak semudah membalik telapak tangan. Salah geser, pelayanan publik bisa mogok.
Mukhlisin harus pakai prinsip merit system. Dia harus berani mencari orang untuk menjabat kepala dinas yang bukan hanya modal setia buta. Bukan tipe kadis yang asalkan bupati senang, lalu apa saja diiyakan tanpa nalar.
Cari yang bukan sekadar bisa bilang “beres, Bos!” padahal di belakang menabrak aturan hukum. Kuansing butuh pejabat yang pintar dan jujur, punya integritas untuk menolak perintah yang keliru, bukan yang pintar menjilat atau lihai menyetor rupiah.
Di luar urusan birokrasi, Mukhlisin juga harus punya radar yang super peka. Dia harus ekstra hati-hati dengan para “tukang bisik”. Sebab, begitu seseorang memegang kekuasaan tertinggi, ruang tamunya tidak akan pernah sepi. Tiba-tiba saja semua orang merasa jadi teman dekat. Semua mendadak jadi loyalis.
Di sinilah ujian kedewasaan politik Mukhlisin diuji. Dia harus ingat satu rumus kuno di dunia kekuasaan: biasanya, siapa yang paling membungkuk dan paling banyak mencium tanganmu saat kamu di atas, merekalah orang pertama yang akan mendorong dan menenggelamkanmu saat kamu goyah.
Para pencium tangan profesional ini hanya setia pada jabatan, bukan pada orangnya, apalagi pada daerahnya.
Lalu, urusan proyek yang bikin kontraktor lokal menjerit bertahun-tahun. Dugaan monopoli ini harus dipangkas habis dari akarnya, yaitu di UKPBJ—Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa. Ini lho, “dapur” utama tempat seluruh tender dan proyek daerah dimasak. Dulu orang kenal dengan nama ULP atau LPSE. Di sinilah ladang basah yang paling rawan dikongkalikong.
Mukhlisin harus mendobrak dapur ini dengan digitalisasi penuh. Jangan ada lagi main mata di bawah meja UKPBJ. Bila perlu, Mukhlisin tinggal telepon KPK dan meminta mereka memelototi langsung pengadaan barang di sana. Itu baru namanya bernyali.
Namun, jalan di depan tidak akan mulus. Meskipun dia dulunya Wabup, kini dengan status PLT tetap saja ada batasan wewenang tertentu yang bersayap. Di sisi lain, oligarki lokal dan para tukang bisik tadi pasti tidak tinggal diam.
Mereka yang biasa makan enak dari proyek monopolian pasti mulai pasang kuda-kuda untuk mendekat, berbisik manis, atau mencoba menyetir kebijakan lewat jalur politik.
Di warung kopi, orang-orang kini mulai memetakan arah angin untuk empat tahun ke depan. Ada skenario optimis, yaitu Mukhlisin menjadi game changer. Dengan waktu jabatan yang panjang, dia tampil sebagai pahlawan pembawa sapu bersih, mengembalikan marwah Kuansing sebagai negeri berperadaban tinggi, dan membuat rakyat tepuk tangan.
Ada juga skenario pesimis, yaitu Mukhlisin hanya menjadi pemadam kebakaran. Datang, siram air sedikit biar tidak terlalu gosong, lalu membiarkan sistem berjalan hambar tanpa gebrakan. Dia terjebak status quo karena takut mendobrak tembok oligarki atau ewuh pakewuh dengan sisa-sisa rezim lama.
Kita tentu berharap skenario pertama yang terjadi.
Kuansing ini daerah kaya. Hutan ada, sawit luas, budaya Pacu Jalur-nya mendunia. Semua potensi sudah lengkap, tinggal menunggu pemimpin yang benar-benar selesai dengan dirinya sendiri.
Selamat bekerja, Mas Mukhlisin. Sapunya tolong dipastikan bersih, jangan sampai ikut mengotori lantai. Dan ingat, awasi tangan-tangan yang terlalu rajin mencium tangan Anda.
Kami sedang menonton dari kejauhan sambil memegang segelas kopi hitam. Pahit, tapi bikin melek. (***)





