Dari Pajero ke Land Cruiser: Syahwat Jabatan Jalur Cicilan

Oleh: Hendri Chaniago.

Riau lagi, Riau lagi.
KPK baru saja bikin heboh. Kali ini sasarannya Kabupaten Kuantan Singingi—orang-orang biasa menyebutnya Kuansing. Dan, booom! Ini adalah kali ketujuh bumi Riau diobok-obok komisi antirasuah. Bayangkan, sejak urusan mobil pemadam kebakaran tahun 2007, suap PON, sampai alih fungsi hutan, semua pernah ada episodenya di sini. Seperti tidak ada kapoknya.

Bagi Kuansing sendiri, ini bukan drama pertama. Tahun 2021 lalu, bupatinya, Andi Putra, sudah masuk kotak karena urusan Hak Guna Usaha (HGU). Sekarang, penggantinya, Suhardiman Amby—atau panggil saja SA—ikut menyusul.

Bedanya, kasus kali ini punya plot twist yang bikin geleng-geleng kepala. Modusnya adalah suap jabatan dengan skema “cicilan”. Kreatif, tapi bikin kita mengelus dada.

Ceritanya dimulai April 2025. Pemkab Kuansing butuh Sekretaris Daerah (Sekda) baru. Dua orang maju bertarung: Fahdiansyah (FHD) yang saat itu menjabat Plt. Sekda, dan Zulkarnain (ZKN), Kepala Dinas PUPR.

SA, sang Bupati, rupanya punya standar tinggi untuk calon Sekda-nya. Bukan standar kompetensi, tapi standar isi garasi. Dia meminta syarat satu unit SUV Toyota Land Cruiser 300 GR-S. Mobil gagah, mewah, dan tentu saja mahal.

FHD mundur teratur karena tidak sanggup. Tapi ZKN menyatakan sanggup. Maka, kursi Sekda pun sukses digenggamnya.

Masalahnya, harga mobil itu Rp2,05 miliyar. ZKN pintar, tapi profil keuangannya tidak sampai untuk beli tunai, bahkan buat sekadar lolos survei kredit bank pun megap-megap. Namanya juga birokrat, kalau mendadak punya uang miliaran, malah langsung dicurigai.

Di sinilah muncul tokoh ketiga: Ardiles (ARD), bos PT Mitra Ideal Consultant. ZKN meminjam KTP dan identitas Ardiles untuk mengajukan kredit mobil tersebut. Deal! Mobil didapat dengan cicilan Rp46,5 juta per bulan selama 5 tahun.

Alasan Ardiles mau repot-repot jadi “tameng” kredit tentu karena ada udang di balik batu. Sejak tahun 2022, Ardiles sudah kenyang dapat 13 proyek di Dinas PUPR senilai Rp1,2 miliyar. Di tahun 2025 dan 2026 pun, proyek ratusan juta masih mengalir ke kantongnya. Ada simbiosis mutualisme di atas penderitaan uang negara.

KPK menyebut skema cicilan ini sebagai “pengunci” jabatan. Jadi, selama cicilan mobil belum lunas, posisi Sekda dijamin aman. Sungguh sebuah garansi jabatan yang visioner.

Tapi sepandai-pandainya membungkus bangkai, baunya tercium juga. Senin, 29 Juni 2026, tim KPK bergerak di Kuansing dan Jabodetabek. Sepuluh orang diamankan, termasuk istri kedua sang bupati, Suci Nitia Edwar.

Bupati SA sempat tahu kalau dirinya diintai. Rasa panik jelas ada. Dia langsung mencoba menghilangkan jejak Land Cruiser itu dengan cara menjualnya ke sebuah showroom milik pengusaha bernama Suwito. Tapi, langkahnya kalah cepat.

Selasa malam, 30 Juni 2026, sadar posisinya sudah terjepit, Bupati SA dan Sekda ZKN akhirnya menyerahkan diri. Hari Rabu kemarin, 1 Juli 2026, mereka resmi memakai rompi oranye dan ditahan di Rutan Gedung Merah Putih KPK.

KPK juga menyita mobil Mitsubishi Pajero Sport senilai Rp700 juta. Selidik punya selidik, Pajero itu adalah modal suap lama dari ZKN kepada Plt. Bupati di tahun 2021 demi kursi Kepala Dinas PUPR. Rupanya, ZKN ini memang spesialis suap jalur kredit kendaraan mewah. Dari Pajero naik kelas ke Land Cruiser. Sungguh jenjang karier penyuapan yang konsisten.

Kalau urusannya cuma rebutan jabatan antar-pejabat kaya, kita mungkin cuma bisa tertawa sinis. Tapi ada satu temuan KPK yang bikin dada terasa sesak.

KPK mengendus dugaan penerimaan lain oleh Bupati SA terkait rekomendasi pelepasan kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT). Duitnya diduga diambil dari pemotongan Sisa Hasil Usaha (SHU) para petani kecil yang tergabung di KUD.

Sangat memprihatinkan melihat petani sawit di sana yang penghasilannya cuma ratusan ribu rupiah sebulan, harus dipotong setengahnya demi menyetor ke meja bupati. Di saat pejabatnya pusing memikirkan cicilan Land Cruiser Rp46 juta sebulan, rakyat kecil dipaksa menyerahkan separuh periuk nasinya.

Padahal, Kuansing ini daerah kaya. Setengah wilayahnya adalah kebun sawit yang menghasilkan miliaran rupiah tiap bulan. Tapi ironisnya, hampir separuh jalannya rusak parah karena hancur dilewati truk-truk logistik raksasa. Uang daerah habis untuk syahwat jabatan, sementara rakyatnya menikmati jalan berlubang dan potongan penghasilan.

Kuansing itu tanah kelahiran tradisi Pacu Jalur. Sebuah budaya yang mengajarkan filosofi gotong royong, mendayung bersama dengan satu irama menuju garis finish. Tradisi luhur yang penuh keringat dan kehormatan.

Sayang sekali, nilai-nilai indah itu justru dikandaskan oleh pemimpinnya sendiri yang lebih memilih “berpacu” mengumpulkan mobil mewah lewat jalur haram.

Kini, bupati dan sekdanya harus belajar mendayung nasib mereka sendiri di dalam sel tahanan. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp