
Oleh: Hendri Chaniago.
Sabtu: (5/7/2026).
Malam penutupan MTQ Riau ke-44 itu riuh. Lapangan padat. Lampu-lampu panggung masih menyala benderang.
Di antara lautan manusia, Plt Bupati Kuansing, Mukhlisin, berjalan santai. Beliau menyapa warga. Menyalami satu per satu. Tersenyum.
Lalu, dari sudut kerumunan, pecahlah suara itu. Melengking khas. Suara emak-emak.
“Jadi KDM ya pak Muklisin!” teriaknya spontan.
Saya yang berdiri tak jauh dari situ langsung tersenyum. Mak jleb. Kalimat itu pendek, tapi maknanya dalam sekali.
Semua orang tahu siapa KDM. Kang Dedi Mulyadi. Mantan Bupati Purwakarta yang kini jadi Gubernur Jawa Barat. Orang sana sangat menyukainya karena KDM itu merakyat, jujur, transparan, dan yang paling penting: tidak jaim.
Mendengar teriakan si emak, saya langsung paham isi kepalanya. Beliau tidak sedang mengada-ada. Itu potret kerinduan yang buncah. Warga Kuansing sedang haus akan pemimpin yang bersih.
Maklum, psikologis warga baru saja terguncang. Bupati Suhardiman Amby ditangkap KPK. Sebuah pukulan telak bagi daerah. Sakitnya tuh di sini, kata orang-orang di warung kopi. Wajar jika masyarakat kemudian trauma, lalu menaruh harapan setinggi langit pada sosok baru.
Mereka ingin Mukhlisin jujur. Mereka ingin Mukhlisin transparan. Jangan ada lagi drama rompi oranye.
Tapi tunggu dulu.
Setelah saya pikir-pikir sambil menyeruput kopi, warga Kuansing sebenarnya tidak perlu melirik ke Jawa Barat lagi. Jauh. Ongkosnya mahal.
Sebab, sekarang Kuansing sudah punya KDM sendiri. Beneran.
Sosok itu adalah Plt Bupati kita sekarang: Kang Dimas Mukhlisin. Singkatannya pas: KDM.
Cerdas betul si emak yang berteriak malam itu. Belum jelas apakah dia memang sengaja memelesetkan atau itu sebuah kebetulan yang magis.
Sorakan di lapangan MTQ itu bukan sekadar kelakar malam sabtu. Itu adalah doa yang dibungkus dengan cara yang sangat membumi.
Sekarang bola ada di kaki Kang Dimas Mukhlisin. Gelar “KDM” sudah disematkan oleh emak-emak di tengah lapangan. Itu legitimasi rasa.
Tinggal pembuktian di lapangan untuk melihat apakah KDM versi Kuansing ini bisa se-merakyat dan se-integritas KDM versi Jawa Barat.
Kita tunggu saja kiprah Kang Dimas. Rakyat sudah rindu tidur nyenyak tanpa perlu kaget melihat berita OTT di televisi.
Rasa-rasanya, Pak Plt tidak akan mengecewakan emak-emak yang sudah berteriak sampai serak itu. (***)





