Oleh: Hendri Chaniago.
Tepian Narosa sedang mendidih. Sore itu, matahari Kuansing seperti sejengkal di atas kepala. Air sungai Batang Kuantan berkilau. Di atasnya, puluhan jalur—bersiap.
Ribuan pasang mata menahan napas. Hening. Tegang.
Lalu, sebuah suara melengking dari pengeras suara. Serak-serak basah. Meluncur cepat seperti peluru, berirama, dan penuh tenaga.
“Jalur melesat! Air terbelah! Ayoo… sedikit lagi, masuuk!”
Seketika, penonton yang tadinya duduk langsung melompat. Tepian Narosa pecah. Sorak-sorai bergemuruh.
Itulah suara Darwis. Bagi masyarakat Kuantan Singingi, suara itu bukan sekadar laporan pandangan mata. Suara itu adalah saklar. Begitu Darwis berteriak, emosi ribuan orang langsung menyala.
Masyarakat hafal betul gaya bicaranya. Kalimat-kalimat ikonik yang keluar spontan dari mulutnya sudah seperti mantra penolak sepi.
“Nah, bergerak sudah di pancang awal…” Kalimat itu meluncur begitu haluan jalur mulai memotong arus. Tenang, tapi bikin dada penonton langsung berdesir.
Atau ketika dua jalur berkejaran sengit, lambung perahu saling berdempetan, dan ujung haluan bergantian memimpin, suara Darwis akan naik satu oktaf:
“Setipis kulit bawang! Tipis sekali penonton!” Mendengar frasa “setipis kulit bawang” itu, tensi di darat langsung naik. Rasanya seperti ikut bertaruh nyawa di atas air.
Lelaki ini sudah melakukan semua ini lebih dari 30 tahun. Sebuah rentang waktu yang luar biasa. Tiga dekade.
Bupati boleh berganti. Zaman boleh berubah dari era kaset pita ke TikTok live. Tapi di tribun komentator Pacu Jalur, Darwis adalah abadi.
Menjadi reporter Pacu Jalur itu fardu kifayah bagi urat nadi Kuansing. Tapi menjadi seperti Darwis, itu urusan bakat yang dicium garis tangan. Ini bukan cuma soal modal suara lantang. Kalau cuma teriak-teriak, sepulang dari tepian pasti langsung cari tukang urut leher atau minimal borong larutan penyegar.
Darwis punya sainsnya sendiri. Ia tahu kapan harus menahan nada, kapan harus meledak, dan kapan harus menyisipkan guyonan segar khas Kuansing yang bikin penonton terpingkal di tengah ketegangan. Ia tahu membaca arus air, juga paham betul mengukur mental para anak pacu yang ototnya sudah hampir putus di meter-meter terakhir.
Maka, tidak heran jika masyarakat sepakat memberi ia gelar: Maestro Tepian Narosa. Ada juga yang menyebutnya Sang Penjaga Ritme. Gelar yang tidak lahir dari SK birokrasi, tapi sah diketok oleh ketukan hati rakyat.
Sebenarnya, belakangan ini tribun komentator mulai ramai. Banyak tunas baru yang mulai tumbuh. Anak-anak muda dengan vokal bertenaga mulai bermunculan di berbagai gelanggang. Mereka adalah cikal bakal, calon penerus tongkat estafet di masa depan.
Tentu saja, mereka belum setenar Darwis. Jam terbang memang tidak bisa dibeli di toko kelontong. Tapi kehadiran mereka memberi harapan besar. Semoga mereka terus berkembang, terus mengasah intuisi, dan tidak lelah belajar.
Sebab, di Kuansing, yang bisa ikut berpacu di atas jalur itu ada ribuan orang. Jumlahnya melimpah. Namun, mencari yang bisa memberikan laporan pandangan mata sehidup Darwis, itu hal yang sangat langka.
Menemukan sosok yang bisa memindahkan ketegangan sungai ke dalam dada penonton lewat untaian kata adalah perkara lain.
Sore perlahan meredup di Kuansing. Semburat merah mulai jatuh di permukaan Batang Kuantan. Jalur-jalur mulai ditambatkan kembali ke dermaga. Lelah, tapi puas.
Darwis berjalan turun dari tribun komentator. Ia mematikan mikrofonnya. Wajahnya tampak letih, gurat usia tak bisa bohong. Suaranya habis untuk hari itu, menyisakan serak yang harus ditebus dengan segelas teh telur hangat di warung kopi.
Tapi batinnya penuh.
Sambil mengisap sebatang rokok, ia melihat ke arah sungai yang mulai tenang. Di situlah letak magisnya. Manusia boleh menua, pita suara bisa menyusut, tapi dedikasi yang dirawat selama 30 tahun tidak akan pernah menguap.
Selama air Batang Kuantan masih mengalir, Tepian Narosa akan selalu merindukan lengkingan suaranya.
Karena Pacu Jalur tanpa Darwis, seperti masakan tanpa garam. Hambar. (***)





