Pesona Pawai Ta’aruf di Atas Air

Oleh: Hendri Chaniago.

Sabtu siang tadi Tepian Narosa benar-benar pecah. Ribuan pasang mata melotot ke arah sungai. Ada yang berdiri di tebing, ada yang nekat naik ke pohon.

Semua demi menyaksikan Pawai Ta’aruf pembukaan MTQ Riau ke-44 di Kuantan Singingi. Cuaca memang agak gerah. Tapi begitu parade perahu hias mulai meluncur, rasa gerah itu mendadak hilang. Diganti rasa takjub yang bikin merinding. Tiga kabupaten tetangga benar-benar pamer taji, lewat cara yang berbeda.

Rombongan pertama yang bikin heboh datang dari Kabupaten Pelalawan. Mereka membawa perahu baganduang.

Kalau Anda biasa melihat perahu karet atau jet ski, lupakan dulu. Ini beda kelas. Perahu baganduang ini adalah seni menyatukan beberapa sampan menjadi satu rakit besar. Seperti persahabatan, makin digandeng makin kokoh.

Lambungnya dicat merah menyala, kontras sekali dengan air sungai yang kecokelatan. Di pinggirnya tertulis jelas: Kabupaten Pelalawan
.
Yang bikin dada berdesir adalah bagian tengahnya. Ada replika Al-Qur’an raksasa yang sedang terbuka. Desainnya anggun sekali.

Di bawah terik matahari, simbol suci itu seperti mengingatkan kita semua: sejauh apa pun perahu kehidupan berlayar, kompasnya tetap kitab suci. Teduh melihatnya.

Tapi namanya juga orang Melayu, kalau bikin acara tidak boleh sepi. Di atas perahu, ada barisan bapak-bapak berbaju adat yang tangannya lincah sekali memukul kendang dan gong.

“Dug-tak-gong! Dug-tak-gong! Ritmenya rancak, bikin kaki penonton di tepi sungai ikut bergoyang pelan.

Di sebelah pemusik, muncul kepala gajah raksasa. Penonton anak-anak langsung menunjuk-nunjuk heboh. Maklum, Pelalawan memang rumahnya gajah di Tesso Nilo.

Di belakang si gajah, ada dekorasi modern mirip angka raksasa berwarna-warni. Sebuah perkawinan seni yang pas: ada tradisi, ada identitas alam, ada juga ambisi masa depan.

Di balik kemegahan yang terlihat di siang yang panas itu, ada sosok-sosok tangguh yang memegang peran penting.

Belum habis rasa takjub penonton, arus sungai kembali membawa kejutan. Kali ini dari Kabupaten Siak.

Kalau Pelalawan membawa gemuruh hutan dan religi, Siak punya cara sendiri untuk bikin Tepian Narosa bergetar. Mereka membawa aura kerajaan. Aura istana yang megah, langsung dari bumi Sri Indrapura.

Di ujung depan perahu, berdiri sebuah replika naga bersayap yang luar biasa detail. Warnanya kombinasi hijau, emas, dengan ukiran khas Melayu yang rumit. Garang, tapi anggun. Menatap riak air sungai seolah-olah dialah penguasa kedalaman sungai siang itu.

Lalu, ada warna kuning yang mencolok mata. Bukan kuning sembarang kuning. Itu kuning payung kerajaan. Ada tiga payung kuning megah yang dikembangkan di atas dek, menaungi para petinggi daerah.

Di tanah Melayu, payung kuning itu simbol kehormatan dan kebesaran adat. Berdiri di bawahnya membuat siapa saja otomatis terlihat karismatik.

Di tengah riuhnya tetabuhan, perhatian penonton mendadak beralih ke sosok di tengah perahu.
Seorang perempuan berbaju merah muda keunguan tampak tersenyum sumringah. Tangannya melambai dengan anggun ke arah kerumunan di tepi sungai. Itulah Afni Zulkifli, sang Bupati Siak.

Di sebelah kirinya, berdiri seorang pria gagah dengan baju adat hitam bertabur payet emas dan tanjak kokoh di kepala. Beliau juga ikut melambaikan tangan dengan sarung tangan putihnya.

Ada kehangatan manusiawi yang tertangkap di sana. Di tengah protokoler yang ketat dan jepretan kamera yang bertubi-tubi, senyum sang Bupati terasa tulus. Tidak kaku.

Dia seperti seorang ibu yang sedang menyapa anak-cucunya di halaman rumah sendiri. Di belakang mereka, para pengawal berbaju hijau zaitun tegak berdiri, menjaga wibawa rombongan.

Belum kering air ludah karena kagum dengan Siak, giliran rombongan dari Rokan Hilir yang melintas di depan mata. Dan mendadak suasana Tepian Narosa berubah jadi super ceria.

Negeri Seribu Kubah ini, desain perahunya dibuat menyerupai replika bangunan berornamen hijau, lengkap dengan tiang dan kubah kecil berwarna kuning-hijau di bagian pagar. Foto pemimpin daerah mereka juga dipasang gagah di sisi kanan dan kiri bangunan kapal.

Ada satu hal unik yang bikin saya dan mungkin ribuan penonton lain senyum-senyum sendiri. Ini bukti kalau orang Rokan Hilir selain religius dan cinta budaya, juga sangat pragmatis dan mengutamakan keselamatan.

Urusan keselamatan, mereka juara satu. Di saat rombongan kabupaten lain tampil jor-joran pamer kemewahan kain tenun dan baju adat, rombongan di atas perahu Rokan Hilir ini dengan kompaknya memakai jaket pelampung warna oranye mentereng di luar pakaian adat mereka.

Kontras sekali, tapi justru di situ seninya. Mengapung di atas sungai sedalam Narosa memang tidak boleh main-main, jadi faktor aman harus nomor satu.

Tepian Narosa siang tadi bukan lagi sekadar tempat lomba atau pembukaan acara biasa. Hari itu, sungai menjadi panggung besar tempat budaya bertumpah ruah.

Pelalawan dengan kegagahan gajah dan kekuatan dayungnya, Siak dengan kemegahan naga bersayap dan wibawa istananya, lalu Rokan Hilir dengan keceriaan serta oranye pelampungnya yang ikonik.

Rasanya seperti habis minum kopi pancung tiga gelas di warung pinggir sungai. Manis, pekat, bikin segar, dan menyisakan senyum bangga sampai malam. Kebudayaan kita memang tidak ada matinya!. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp