Prabowo: Menteri Tak Bertampang Koruptor

Oleh: Hendri Chaniago.

Presiden Prabowo Subianto sedang happy. Sangat happy

Di Gorontalo, beliau melempar guyonan segar. Di acara Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII, Pak Presiden memuji menterinya setinggi langit.

Katanya, wajah para menteri Kabinet Merah Putih tidak ada yang bertampang koruptor. Beliau juga mengaku punya indra keenam. Bisa mendeteksi mana orang bersih dan mana yang tidak. Luar biasa. Penonton pun bertepuk tangan. Meriah sekali.

Sudah satu tahun delapan bulan kabinet ini berjalan. Dan klaim keberhasilan pun meluncur deras. Salah satu yang paling mentereng adalah keberhasilan Indonesia kembali mencapai swasembada beras di tahun 2025 kemarin. Sukses besar.

Semua ini, menurut Pak Presiden, adalah hasil kerja keras bersama seluruh jajaran pemerintah. Logikanya, kalau pemerintah dipenuhi praktik penyalahgunaan wewenang, pembangunan irigasi, jalan, dan jembatan di daerah tidak akan bisa berjalan dengan baik.

Logika itu masuk akal. Di atas kertas.

Tapi, mari kita seruput kopi hitam dulu. Agak kental. Tanpa gula.

Bicara soal “tampang”, ini urusan pelik. Sejarah mencatat, koruptor zaman sekarang tidak pakai topeng hitam. Jalannya tidak lagi mengendap-endap bawa karung. Penampilan mereka justru sangat klimis. Pakai batik sutra mahal. Bahasanya santun. Religius lagi.

Korupsi modern itu rapi sekali, mengatasnamakan kebijakan dan dikerjakan secara halus. Jadi, mengandalkan penilaian tampang bisa membuat kita kecolongan.

Lalu soal swasembada beras. Kita tentu bangga. Sangat bangga. Tapi sesekali kita perlu main ke sawah yang agak jauh dari jalan raya protokol, yang bukan menjadi rute resmi kunjungan menteri atau gubernur.

Cobalah mengobrol dengan petani di warung kopi bawah pohon. Kita akan mendengar cerita nyata soal urusan pupuk subsidi yang masih saja sulit didapat. Cerita tentang harga gabah yang sering anjlok saat panen raya. Serta keluhan biaya operasional yang makin mencekik, sementara harga jual di tingkat petani begitu-begitu saja.

Ada jurang yang lebar antara angka di dokumen sidang kabinet dengan peluh nyata di dahi petani. Di sinilah letak kerawanan itu. Ada penyakit tua di birokrasi kita yang bernama Sindrom ABS. Asal Bapak Senang.

Sejak zaman dulu, tabiat penjilat itu selalu sama. Suka menyaring informasi. Yang jelek dibuang ke tempat sampah, sedangkan yang indah-indah dipoles, diberi pewangi, lalu disajikan ke meja Presiden.

Kegagalan program disebut kendala teknis kecil. Anggaran bocor disebut penyesuaian lapangan. Protes warga dianggap angin lalu dari segelintir orang vokal saja.

Akhirnya, pemimpin bisa hidup di dalam menara gading. Merasa semua sudah beres dan merasa rakyat sudah makmur sentosa, padahal di bawah, rakyat sedang megap-megap menahan napas.

Kita tentu ingin memberikan kepercayaan kepada pemerintah, seperti yang diminta Prabowo di akhir pidatonya. Kita berikan kepercayaan itu, tetapi bukan berarti kita merem.

Rakyat yang cerewet itu bukan benci, justru karena sayang. Mereka tidak ingin Presidennya dikelabui oleh laporan bermuka dua. Mereka ingin Pak Presiden sesekali menyamar, melakukan blusukan senyap tanpa sirine meraung-raung dan tanpa protokoler ketat yang membikin jalanan macet tiga kilometer.

Datanglah ke pelosok untuk melihat langsung irigasi yang katanya sudah berjalan baik itu. Kita harus memastikan apakah airnya benar-benar sampai ke ujung sawah atau cuma basah di pangkalnya saja.

Sebab, beda tipis antara optimisme seorang pemimpin dengan ilusi yang sengaja diciptakan oleh para pembantunya.

Kita semua berharap tebakan tampang Bapak kali ini tidak meleset. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp